Tabooo.id: Talk – Kita sering mendengar kalimat klasik, “Cuma main game, kok bisa jadi teroris?”
Pernyataan itu terdengar ringan, tetapi justru menunjukkan betapa cueknya kita pada ancaman baru yang merayap pelan.
Sekarang Polri memberi peringatan keras jaringan teror menggunakan gim online dan ruang chat sebagai jalur perekrutan anak-anak. Para pelaku menyamar seperti gamer biasa, ikut mabar, ngobrol lewat DM, lalu menarik korban ke grup tertutup. Prosesnya halus, bertahap, dan terjadi tanpa suara.
Dan ironisnya, sebagai masyarakat kita masih sering menganggapnya mustahil.
Anak Kesepian Jadi Target Paling Mudah
Menurut Brigjen Trunoyudo, anak yang kesepian dan minim kelekatan keluarga menjadi sasaran paling rentan. Mereka mencari teman, penerimaan, dan ruang aman. Sementara itu, para perekrut menawarkan perhatian, dukungan emosional, dan kebersamaan palsu.
Polanya nyaris selalu sama mulai dari obrolan santai, lalu perlahan diarahkan pada doktrin.
Karena pendekatannya bersifat personal, anak pun mudah percaya.
Sayangnya, kita masih sering meremehkan sinyal-sinyal ini. Kita sibuk dengan urusan sendiri, sementara anak-anak merasa dunia digital lebih hangat daripada rumah.
Orang Tua Hadir Fisik, Tapi Tidak Hadir Digital
KPAI berulang kali menegur bahwa anak dibiarkan online tanpa pendampingan memadai. Secara fisik mereka duduk di ruang tamu, tetapi secara digital mereka menjelajah ruang tak terbatas. Para orang tua sering merasa aman hanya karena anak berada di rumah, padahal ponsel membuka gerbang menuju siapa pun termasuk perekrut ideologi ekstrem.
Akibatnya, anak menghadapi dunia digital sendirian. Mereka mencari identitas, validasi, dan teman, sementara orang dewasa hanya menilai mereka “kecanduan game”.
Padahal masalahnya jauh lebih kompleks.
Solusi Kilat: Blokir Aplikasi, Seakan Semua Usai
Begitu isu ini mencuat, kita langsung punya refleks nasional blokir game dulu, pikir belakangan.
Padahal Polri, Komisi I DPR, hingga lembaga riset seperti CISSRec sudah menegaskan bahwa pelaku yang harus diburu, bukan platformnya.
Tentu saja negara mencoba bergerak. Mulai Januari 2026, Indonesia menerapkan sistem rating gim nasional. Platform yang tidak mematuhi aturan bisa terkena teguran hingga pemblokiran. Kebijakan ini penting, tetapi tidak cukup. Tanpa moderasi kuat dari platform, literasi digital dari sekolah, kedisiplinan orang tua, dan pengawasan komunitas, aturan hanya tinggal aturan.
Dengan kata lain, ekosistemnya harus sehat secara menyeluruh. Jika tidak, lubangnya tetap terbuka.
Dunia Digital Anak Lebih Keras Dari Dunia Nyata
Hari ini anak-anak hidup di dua dunia sekaligus.
Di game, mereka mencari teman.
Di media sosial, mereka mengejar pengakuan.
Di internet, mereka menata jati diri.
Ketika kebutuhan emosional itu bertemu pihak yang salah, risiko makin besar. Perekrut ideologi ekstrem tahu celah ini, dan mereka memanfaatkannya tanpa ragu. Mereka tidak membutuhkan hutan atau markas. Mereka hanya perlu satu ruang chat kecil dan satu anak yang merasa sendirian.
Dan kita? Kita masih memperdebatkan apakah game “menyesatkan”.
Padahal persoalannya ada pada aktor, bukan medianya.
Mau Diam atau Mau Peduli?
Kenyataan bahwa dunia game bisa berubah jadi jalur radikalisasi seharusnya membuat kita tersentak. Jika ancaman sebesar ini bergerak lewat perangkat yang selalu ada di tangan anak-anak, maka pilihan kita hanya dua ikut terlibat atau pura-pura tidak tahu.
Karena pada akhirnya, keamanan anak di dunia digital bukan urusan polisi saja.
Bukan pula sekadar urusan platform.
Tapi urusan kita semua orang tua, guru, komunitas, dan negara.
Jadi, setelah tahu semua ini, kita masih mau bilang “ah, masa sih?” atau kita mulai peduli sebelum ada yang terlambat lagi? @dimas





