BBM langka di Makassar memicu aksi ratusan buruh, mahasiswa, dan warga yang menduduki kantor Pertamina serta menuntut transparansi.
Tabooo.id – Sore itu, Jalan Garuda, Makassar, berubah menjadi ruang kemarahan publik.
Ratusan buruh, mahasiswa, dan warga sipil berkumpul di depan kantor Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi.
Mereka membawa satu persoalan yang sama: kelangkaan BBM dan antrean panjang di sejumlah SPBU.
Masalah itu sudah berlangsung selama beberapa hari terakhir.
Bagi sebagian orang, antrean mungkin hanya berarti menunggu lebih lama.
Bagi pekerja, antrean bisa berarti kehilangan waktu dan pendapatan.
Di situlah persoalan BBM berubah menjadi persoalan hidup sehari-hari.
Antrean yang Menggerus Penghasilan
Sekitar pukul 15.00 Wita, massa mulai mendatangi kantor Pertamina.
Bendera organisasi mahasiswa memenuhi tengah kerumunan.
Seragam serikat buruh juga tampak di antara barisan demonstran.
Mereka menuntut penjelasan mengenai tata kelola distribusi BBM di Sulawesi Selatan.
Kelangkaan BBM, bagi mereka, bukan sekadar persoalan stok.
Ada konsekuensi ekonomi yang langsung terasa.
Pekerja harus mengantre berjam-jam di SPBU.
Waktu kerja pun ikut terpotong.
Perwakilan buruh Makassar menyampaikan keresahan tersebut melalui mobil komando.
“Kami datang ke sini untuk mempertanyakan narasi panic buying yang dikeluarkan Pertamina.” tegasnya.
Menurut dia, antrean panjang membuat pekerjaan buruh terganggu.
Pendapatan mereka pun ikut menurun.
Kalimat itu memperlihatkan sisi lain krisis BBM.
Satu liter BBM tidak hanya menggerakkan kendaraan.
BBM juga menggerakkan pekerjaan, distribusi barang, dan aktivitas ekonomi harian.
Ketika pasokan tersendat, efeknya ikut merambat ke masyarakat.
Dari Antrean ke Gerbang Pertamina
Kekecewaan massa kemudian meningkat.
Ratusan demonstran sebelumnya menyampaikan orasi di depan gerbang utama.
Namun, pimpinan Pertamina belum menemui mereka.
Situasi lalu memanas.
Massa terlibat aksi saling dorong dengan petugas keamanan.
Pagar besi kantor Pertamina akhirnya roboh.
Demonstran kemudian menerobos masuk ke halaman kantor.
Aksi itu mengubah eskalasi demonstrasi.
Sebelumnya, massa hanya menyampaikan tuntutan dari luar pagar.
Kini, mereka menduduki halaman perusahaan.
Pesannya menjadi lebih keras.
Mereka ingin pihak Pertamina menjawab langsung persoalan yang mereka rasakan.
Pertamina Cabut Pernyataan Panic Buying
Setelah massa bertahan beberapa jam, perwakilan manajemen Pertamina keluar.
Senior Officer Communication & Relations Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, Ridho, menemui demonstran.
Ia menyampaikan bahwa Pertamina telah mengevaluasi kondisi di lapangan.
Ridho juga menyatakan Pertamina mencabut pernyataan sebelumnya soal panic buying.
“Mengenai pernyataan panic buying sudah kami cabut.” ujarnya.
Pertamina, kata Ridho, terus menangani antrean tersebut.
Penanganan berlangsung secara intensif selama 24 jam.
Selain itu, Pertamina menambah pasokan dan stok BBM ke SPBU.
Tambahan tersebut mencapai 30 persen dari kuota normal.
Pernyataan itu memberi satu sinyal penting.
Pertamina mengakui adanya dinamika yang perlu segera ditangani.
Namun, bagi massa, tambahan pasokan belum menyelesaikan seluruh persoalan.
Publik Menuntut Lebih dari Sekadar Tambahan Stok
Massa tetap bertahan di halaman kantor Pertamina.
Mereka menilai penjelasan manajemen belum menjawab tuntutan utama.
Karena itu, tuntutan mereka berkembang.
Massa meminta keterbukaan data ketersediaan BBM.
Mereka juga meminta informasi mengenai alokasi BBM secara transparan.
Selain itu, mereka mendesak evaluasi terhadap pimpinan Pertamina di wilayah Sulawesi.
Massa bahkan meminta General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi datang menemui mereka.
Tidak berhenti di sana.
Mereka juga mendesak GM tersebut mengundurkan diri.
Massa menyebut langkah itu sebagai bentuk tanggung jawab moral atas krisis distribusi.
Tuntutan tersebut memperlihatkan perubahan fokus aksi.
Persoalannya tidak lagi sebatas berapa banyak BBM tersedia.
Pertanyaan yang muncul kini jauh lebih mendasar:
Siapa yang bertanggung jawab ketika distribusi tersendat dan masyarakat ikut menanggung akibatnya?
Yang Hilang Bukan Cuma BBM
Antrean panjang sebenarnya hanya bagian paling terlihat dari persoalan.
Di balik barisan kendaraan, ada waktu yang terus habis.
Antrean panjang ikut menekan pekerja, pengemudi, dan pelaku usaha kecil lewat waktu terbuang serta biaya operasional yang membengkak.
Karena itu, dampak kelangkaan BBM tidak berhenti di SPBU.
Efeknya bisa menjalar ke aktivitas ekonomi masyarakat.
Persoalan tersebut membuat BBM menjadi lebih dari sekadar komoditas.
Bagi banyak orang, BBM merupakan bagian dari rutinitas untuk mempertahankan penghasilan.
Ketika aksesnya terganggu, kehidupan ikut tersendat.
Pertanyaan Besarnya Ada di Distribusi
Pertamina menyebut pasokan ke SPBU sudah bertambah 30 persen.
Namun, angka tersebut belum otomatis menjawab keresahan publik.
Masyarakat juga membutuhkan penjelasan yang transparan.
Berapa stok yang tersedia?
Bagaimana Pertamina menentukan alokasinya?
Mengapa antrean bisa berlangsung selama beberapa hari?
Lalu, mengapa Pertamina sempat menggunakan istilah panic buying sebelum akhirnya mencabut pernyataan tersebut?
Pertanyaan itu penting karena publik tidak hanya membutuhkan BBM.
Publik membutuhkan kepastian.
Mereka perlu tahu apakah masalah terjadi karena pasokan, distribusi, konsumsi, atau kombinasi berbagai faktor.
Tanpa penjelasan yang terang, ruang kosong itu mudah terisi spekulasi.
Di situlah kepercayaan publik mulai dipertaruhkan.
Ini Bukan Sekadar Antrean BBM
Demonstrasi di Jalan Garuda memperlihatkan sesuatu yang lebih besar.
Kelangkaan BBM telah berubah menjadi konflik antara kebutuhan warga dan kepercayaan terhadap pengelola distribusi.
Pagar yang roboh menjadi simbol eskalasi.
Namun, akar masalahnya berada jauh lebih dalam.
Masyarakat ingin sistem distribusi berjalan tanpa membuat mereka kehilangan waktu dan penghasilan.
Mereka juga ingin pihak yang mengelola kebutuhan energi publik terbuka mengenai kondisi sebenarnya.
Ini bukan sekadar kejadian tentang BBM langka. Ini adalah pola ketika gangguan layanan berubah menjadi krisis kepercayaan.
Tambahan pasokan mungkin bisa memperpendek antrean.
Namun, transparansi dibutuhkan untuk memulihkan kepercayaan.
Keduanya harus berjalan bersamaan.
Dampaknya Buat Kamu
Kalau kamu menggunakan kendaraan untuk bekerja, masalah ini terasa langsung.
Antrean panjang berarti waktu yang hilang.
Waktu yang hilang bisa berarti pendapatan yang ikut berkurang.
Bagi pelaku usaha kecil, tambahan waktu di SPBU juga berarti biaya operasional yang meningkat.
Karena itu, krisis BBM bukan urusan perusahaan energi semata.
Masalah ini menyentuh aktivitas ekonomi masyarakat setiap hari.
BBM membuat kendaraan bergerak.
Namun, lebih dari itu, BBM membantu membuat kehidupan ekonomi tetap berjalan.
Ketika Warga Mulai Bertanya
Hingga pukul 18.00 Wita, ratusan demonstran masih bertahan.
Mereka menolak meninggalkan halaman kantor Pertamina.
Massa meminta GM Pertamina hadir dan memberikan kepastian penyelesaian.
Aksi tersebut menunjukkan bahwa kemarahan publik tidak selalu muncul secara tiba-tiba.
Kemarahan bisa tumbuh dari antrean yang berulang.
Ia juga bisa tumbuh dari informasi yang berubah.
Pada akhirnya, persoalannya bukan hanya soal tangki kendaraan yang kosong.
Ada waktu, pekerjaan, pendapatan, dan kepercayaan yang ikut dipertaruhkan.
Pertanyaannya kini sederhana.
Jika BBM menjadi urat nadi aktivitas warga, siapa yang harus menjelaskan ketika alirannya tersendat? @dimas








