Rabu, September 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Monumen Panularan Solo: Sejarah Besar yang Kini Terlupakan

by eko
September 12, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter
Monumen Panularan Solo menyimpan sejarah perundingan Indonesia-Belanda 1949. Kini, kondisinya terlihat kusam dan kurang terawat.

Tabooo.id – Sebuah rumah tua berdiri di tengah aktivitas Kota Solo. Dari luar, bangunan ini mungkin terlihat biasa saja.

Namun, Monumen Panularan menyimpan cerita besar. Tempat ini pernah menjadi lokasi perundingan gencatan senjata Indonesia dan Belanda pada 3 Agustus 1949.

Kini, kondisi bangunan tersebut justru memprihatinkan.

Tempat Slamet Riyadi Berunding dengan Belanda

Monumen Panularan berada di Jalan Bhayangkara, sisi timur selatan perempatan Baron.

Menurut data Cagar Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bangunan ini dulu menjadi rumah Suryohadinagoro. Pada 3 Agustus 1949, pihak Indonesia dan Belanda memakai rumah tersebut untuk perundingan Case Fire.

Ini Belum Selesai

Dari Kelapa ke Sawit: Siapa yang Mengubah Isi Wajan Kita?

Silat Panglipur: Sejarah, Filosofi dan Warisan Abah Aleh

Letkol Slamet Riyadi memimpin delegasi Indonesia. Sementara itu, Kolonel Van Ohl mewakili pihak Belanda.

Pertemuan itu memiliki latar sejarah yang panjang. Sebelumnya, pasukan Indonesia dan Belanda terlibat pertempuran sengit di Solo selama empat hari.

Pertempuran tersebut terjadi setelah Agresi Militer II Belanda. Karena itu, perundingan di Panularan menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah perjuangan Indonesia di Solo.

Dari Tempat Bersejarah Menjadi Bangunan Kusam

Kini, suasana Monumen Panularan jauh berbeda.

Bangunannya terlihat kusam. Beberapa bagian juga menunjukkan tanda pelapukan.

Halaman sekitar pun tampak kotor. Rumput liar tumbuh di sejumlah bagian.

Beberapa pagar di sekitar kawasan juga tertutup seng. Kondisi itu membuat akses visual menuju bangunan semakin terbatas.

Ironisnya, tempat ini menyimpan sejarah penting Kota Solo.

Pemerintah Kota Surakarta bahkan menetapkan Monumen Panularan sebagai cagar budaya melalui SK Wali Kota Nomor 646/116/I/1997.

Jadi, bangunan ini bukan sekadar rumah tua.

Ia menyimpan jejak peristiwa penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan.

Cerita Warga Masih Hidup

Syarifudin, warga sekitar, masih mengingat cerita tentang bangunan tersebut.

Menurut dia, masyarakat mengenal Panularan sebagai tempat Slamet Riyadi melakukan perundingan.

“Yang saya tahu tempat ini dulunya dipakai untuk berunding Letkol Slamet Riyadi,” ujar Syarifudin saat ditemui Tabooo.id, Sabtu (12/9/2026).

Namun, ia juga mendengar cerita lain tentang lokasi tersebut.

“Dulu juga ada isu katanya Jenderal Slamet Riyadi meninggal di situ. Tapi saya juga tidak tahu. Itu dari cerita yang berkembang,” tuturnya.

Cerita itu perlu kita tempatkan sebagai kabar yang belum terverifikasi.

Data resmi Cagar Budaya menjelaskan peran Panularan sebagai lokasi perundingan. Namun, data tersebut tidak menyebut Slamet Riyadi meninggal di bangunan itu.

Karena itu, pembaca perlu membedakan sejarah yang memiliki sumber dengan cerita yang berkembang dari mulut ke mulut.

Sejarah Tidak Cukup Hanya Jadi Papan Nama

Monumen Panularan menunjukkan persoalan yang lebih besar.

Sebuah kota tidak hanya memiliki jalan, gedung, dan pusat keramaian. Kota juga memiliki ingatan.

Ingatan itu melekat pada bangunan, monumen, makam, hingga ruang tempat sebuah peristiwa terjadi.

Masalahnya, ingatan bisa hilang ketika ruang fisiknya terus terabaikan.

Generasi muda mungkin melewati Panularan tanpa pernah tahu apa yang terjadi di sana.

Padahal, tempat itu pernah menjadi titik pertemuan dua pihak yang sedang berkonflik.

Ini Bukan Sekadar Bangunan Tua

Monumen Panularan bukan sekadar rumah tua di sudut Kota Solo.

Tempat ini menyimpan cerita tentang perang, perundingan, dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Kini, bangunannya justru menghadapi persoalan lain: perawatan dan perhatian.

Inilah ironi yang sulit diabaikan.

Kita sering bangga dengan sejarah ketika sejarah sudah menjadi destinasi wisata. Namun, kita kadang lupa merawat tempat yang menyimpan sejarah sebelum tempat itu benar-benar hilang.

Monumen Panularan mengingatkan kita bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam museum megah.

Kadang, sejarah berdiri di pinggir jalan.

Orang melewatinya setiap hari.

Lalu pertanyaannya sederhana: berapa banyak warga Solo yang masih tahu cerita di balik bangunan itu?

Sebab ketika bangunan mulai lapuk dan ingatan mulai pudar, sebuah kota bukan hanya kehilangan tempat.

Kota juga bisa kehilangan sebagian ceritanya. @eko

Tags: Cagar BudayaMonumen Panularansejarah SoloSlamet Riyadi

Kamu Melewatkan Ini

Museum Gubug Wayang Mojokerto: Menjaga Budaya Saat Ingatan Mulai Pudar

Museum Gubug Wayang Mojokerto: Menjaga Budaya Saat Ingatan Mulai Pudar

by teguh
September 2, 2026

Ada benda yang cukup disimpan. Ada pula benda yang harus terus diceritakan. Di Mojokerto, Museum Gubug Wayang memilih jalan kedua....

Rumah Dinas Bakorwil: Sejarah Madiun yang Terlupakan

Rumah Dinas Bakorwil: Sejarah Madiun yang Terlupakan

by dimas
Juli 27, 2026

Rumah Dinas Bakorwil Madiun menjadi saksi hampir dua abad perjalanan kota. Di balik kemegahannya, tersimpan sejarah kolonial, arsitektur Indische Empire,...

Pusaka Milik Raja atau Dinasti? Konflik Lama Karaton Solo yang Tak Pernah Selesai

Pusaka Milik Raja atau Dinasti? Konflik Lama Karaton Solo yang Tak Pernah Selesai

by teguh
Juni 10, 2026

Konflik pusaka Karaton Solo kembali mencuat. Benarkah pusaka milik raja atau dinasti? ini seakan menjadi akar legitimasi yang belum selesai....

Next Post
Sinyal Ada, Delapan Orang Belum Ditemukan: Pencarian Masuk Hari Kelima

Sinyal Ada, Delapan Orang Belum Ditemukan: Pencarian Masuk Hari Kelima

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id