Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menjelaskan polemik bantuan program digitasasi perangkat digital untuk SD Negeri Mboeng, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Tabooo.id: Jakarta – Sekolah tersebut mendapat perangkat layar interaktif atau Interactive Flat Panel (IFP). Pada saat yang sama, kondisi bangunan sekolah masih membutuhkan perbaikan. Sekolah juga belum memiliki akses listrik yang memadai. Mu’ti mengatakan pemerintah menjalankan distribusi perangkat digital sebagai bagian dari program digitalisasi pembelajaran. Program tersebut menyasar sekolah secara luas.
“Jadi program itu kan memang berjalan beriringan, tapi tidak sama, ya. Kalau program digitalisasi memang targetnya semua sekolah, baik dia yang sudah ada listrik maupun yang belum ada listrik,” ujar Mu’ti saat ditemui di Jakarta Pusat, Jumat (11/09/2026).
Program Digitalisasi Menjangkau Sekolah Tanpa Listrik
Mu’ti menegaskan pemerintah tetap memasukkan sekolah tanpa listrik ke dalam sasaran digitalisasi. Pemerintah juga mengupayakan jaringan listrik bagi sekolah yang belum mendapat akses.
Upaya tersebut membutuhkan proses dan waktu. Pemerintah kemudian menempatkan pembangunan sekolah berdasarkan skala prioritas.
“Kemudian pembangunan sekolah itu kan memang berdasarkan prioritas tadi, yang daerah-daerah 3T, daerah-daerah yang memang tertinggal, dan sekolah rusak berat,” ucap Mu’ti.
Program digitalisasi dan pembangunan fisik sekolah berjalan dalam jalur yang berbeda. Pemerintah menilai keduanya tetap perlu berjalan secara bersamaan.
Lebih dari 1.400 Sekolah di NTT
Mu’ti memastikan pemerintah akan merevitalisasi SD Negeri Mboeng pada 2026. Ia juga menyebut pemerintah menyiapkan program revitalisasi untuk lebih dari 1.400 sekolah di NTT.
“Untuk tahun ini kami akan bantu dengan dana revitalisasi. Dan di NTT sendiri ada lebih dari 1.400 sekolah yang tahun ini akan kita bangun dengan anggaran lebih dari Rp1 triliun,” kata Mu’ti.
Anggaran tersebut mencakup program pembangunan dan revitalisasi sekolah di NTT. Pemerintah memprioritaskan sekolah di wilayah 3T dan sekolah dengan kerusakan berat.
Mu’ti menargetkan seluruh sekolah yang membutuhkan perbaikan dapat tertangani secara bertahap hingga 2028.
“Dan mudah-mudahan secara bertahap sesuai dengan janji dan juga arahan Bapak Presiden semua sekolah akan bisa diperbaiki dalam rentang waktu sampai akhir tahun 2028,” imbuh Mu’ti.
SDN Mboeng Jadi Sorotan
SD Negeri Mboeng menjadi perhatian publik setelah kondisi sekolah tersebut muncul di media sosial. Dokumentasi yang beredar memperlihatkan bangunan sekolah berdinding bambu.
Pada saat yang sama, sekolah menerima perangkat layar interaktif untuk mendukung kegiatan pembelajaran.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan publik. Mengapa perangkat digital hadir ketika kebutuhan dasar sekolah masih menghadapi persoalan?
Mu’ti memberikan jawaban dari sisi kebijakan. Pemerintah menjalankan digitalisasi sebagai program tersendiri. Pemerintah juga menjalankan revitalisasi untuk memperbaiki kondisi fisik sekolah.
Perangkat Digital Butuh Infrastruktur
Persoalan SDN Mboeng menunjukkan satu hal penting. Teknologi pendidikan membutuhkan infrastruktur pendukung.
Listrik menjadi salah satu kebutuhan utama. Tanpa pasokan listrik yang memadai, perangkat digital sulit digunakan secara optimal.
Peneliti sosiologi pendidikan BRIN, Anggi Afriansyah, pernah mengingatkan persoalan serupa dalam tulisannya pada 21/04/2026. Ia menilai digitalisasi pendidikan tidak otomatis menyelesaikan persoalan pendidikan.
Pengamat pendidikan Doni Koesoema juga menyampaikan pandangan mengenai posisi teknologi dalam pendidikan pada 25/11/2022.
“Teknologi digital adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan, bukan demi pemakaian alat itu sendiri,” ujar Doni.
Pernyataan tersebut menempatkan teknologi sebagai sarana. Sekolah tetap membutuhkan ruang belajar yang layak dan infrastruktur dasar.
Pemerintah Kini Punya Dua Pekerjaan
Pemerintah kini menghadapi dua agenda di sekolah-sekolah seperti SDN Mboeng. Pertama, memastikan perangkat digital dapat digunakan. Kedua, memperbaiki fasilitas sekolah yang rusak.
Mu’ti mengatakan kedua program tersebut berjalan beriringan. Pemerintah juga memasukkan sekolah tanpa listrik dalam target digitalisasi.
Di NTT, pemerintah menyiapkan revitalisasi lebih dari 1.400 sekolah dengan anggaran lebih dari Rp1 triliun.
Kasus SDN Mboeng akhirnya bukan hanya soal smart TV. Pemerintah harus memastikan perangkat tersebut benar-benar berfungsi di ruang kelas.
Revitalisasi sekolah juga menjadi ukuran berikutnya. Publik kini menunggu apakah janji perbaikan benar-benar sampai ke ruang belajar.
Digitalisasi bisa hadir di layar. Namun, kualitas pendidikan tetap bergantung pada sekolah yang mampu menyediakan ruang belajar yang aman dan layak. @teguh








