Klaim semua gunung api Indonesia aktif bersamaan beredar di X dan YouTube. Cek faktanya, tidak semua gunung sedang erupsi.
Tabooo.id – Unggahan di X dan YouTube mengklaim seluruh gunung api di Indonesia kembali aktif secara bersamaan. Narasi itu menyebut ada “gerakan bawah tanah yang tidak biasa” sebagai penyebabnya.
Benarkah Indonesia sedang menghadapi fenomena vulkanik sebesar itu?
Jawabannya: tidak. Klaim tersebut keliru.
Klaim: Semua gunung api kembali aktif
Akun berbahasa Turki mengunggah narasi tersebut pada Minggu, 6 September 2026. Unggahan itu menampilkan sejumlah video aktivitas gunung berapi tanpa mencantumkan tanggal, lokasi, atau sumber resmi.
Masalahnya sederhana: video gunung berapi bukan otomatis bukti semua gunung sedang erupsi.
Tanpa konteks waktu dan lokasi, visual tersebut juga sulit diverifikasi. Video lama atau rekaman dari gunung berbeda bisa saja muncul kembali dan terlihat seperti kejadian terbaru.
Fakta: Bukan semua gunung sedang erupsi
Kepala Tim Pengamatan Gunung Api PVMBG, Heruningtyas Desi Purnamasari, menjelaskan bahwa visual yang beredar tidak menunjukkan seluruh gunung api Indonesia sedang mengalami erupsi.
Pengecekan terhadap informasi gunung api pada situs resmi MAGMA Indonesia juga menunjukkan kondisi yang jauh berbeda.
Pada 8 September 2026, peta informasi gunung api mencatat empat gunung yang mengalami erupsi, yakni Anak Krakatau, Semeru, Lewotolok, dan Ibu.
Gunung yang sedang erupsi mendapat penanda khusus pada peta tersebut.
“Gunung-gunung yang kelihatan ada apinya itu yang sedang erupsi,” kata Tyas kepada Tempo.
Artinya, ada aktivitas erupsi pada beberapa gunung. Tetapi itu bukan berarti seluruh gunung api Indonesia ikut meletus.
Kenapa beberapa gunung bisa erupsi bersamaan?
Di sinilah klaim viral mulai terlihat janggal.
Indonesia memang memiliki banyak gunung api aktif. Beberapa di antaranya dapat mengalami erupsi dalam periode yang sama.
Namun, kondisi tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya satu “gerakan bawah tanah” yang mengaktifkan seluruh gunung.
Setiap gunung memiliki sistem magma dan karakteristik saluran masing-masing. Kondisi geologi, tektonik, serta sejarah setiap gunung juga berbeda.
Heruningtyas menjelaskan bahwa erupsi yang berlangsung pada periode sama tidak berarti gunung-gunung tersebut saling memicu.
Penjelasan ini sejalan dengan USGS. Lembaga tersebut menyebut tidak ada bukti definitif bahwa erupsi sebuah gunung dapat memicu erupsi gunung lain yang berjarak ratusan kilometer atau berada di benua berbeda.
“Bersamaan” bukan berarti “saling terhubung”
Ini bukan sekadar soal video viral.
Masalah sebenarnya muncul ketika publik melihat beberapa gunung erupsi dalam waktu berdekatan lalu menganggap semuanya pasti memiliki satu penyebab.
Padahal, gunung api punya sistem masing-masing.
USGS juga menjelaskan bahwa beberapa gunung memang bisa mengalami aktivitas bersamaan, terutama jika berada dalam kompleks vulkanik yang berdekatan. Namun, kondisi itu tidak bisa dijadikan bukti bahwa seluruh gunung api yang jauh saling memicu.
Jadi, erupsi bersamaan bukan berarti kiamat vulkanik sedang dimulai.
Kesimpulan
Klaim bahwa semua gunung api di Indonesia aktif atau erupsi secara bersamaan akibat fenomena bawah tanah yang tidak biasa adalah informasi keliru.
Pada awal September 2026 memang terdapat beberapa gunung yang mengalami erupsi. Namun, aktivitas tersebut tidak berarti seluruh gunung api Indonesia kembali aktif secara serentak.
Sebelum percaya video gunung yang bikin timeline panik, cek dulu tanggal, lokasi, sumber, dan data resmi.
Karena gunung boleh meletus, tapi logika jangan ikut meledak.@eko








