Meneruskan keberanian Munir di tengah isu HAM, pendidikan, dan ruang kritis kampus dalam diskusi mahasiswa UMY, Yogyakarta.
Tabooo.id: Yogyakarta – Nama Munir Said Thalib masih hidup di ruang publik. Wajahnya muncul di kaus, poster, mural, hingga diskusi mahasiswa.
Namun, mengenang Munir tidak cukup dengan mengingat namanya. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana keberaniannya bisa diteruskan.
Pertanyaan itu muncul dalam nobar dan diskusi “Meneruskan Keberanian Munir” di Selasar Gedung Ki Bagus Hadikusumo, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa, 8 September 2026.
Risyad Hanafi, Ilham Maulana, Doli Fikiansyah, dan Achmad Oca membahas Munir dari sisi yang lebih luas. Mereka berbicara tentang pengorganisasian, hukum, pendidikan, hingga keberanian generasi muda menghadapi persoalan sosial.
Munir Bukan Sekadar Simbol
Risyad Hanafi mengingatkan bahwa publik sering mengenal Munir melalui simbol. Padahal, perjalanan aktivis HAM itu juga berisi kerja panjang bersama masyarakat.
“Selain melihat keberaniannya, kita melihat langkahnya. Langkah Munir melakukan pengorganisiran.” katanya.
Menurut Risyad, Munir pernah mengorganisir buruh di sekitar Malang dan Batu sebelum melanjutkan kiprahnya di LBH Jakarta dan YLBHI.
Kerja tersebut menunjukkan satu hal penting. Keberanian Munir tidak hanya muncul saat menghadapi kekuasaan, tetapi juga ketika membangun kekuatan dari akar rumput.
Risyad menyebut pilihan itu sebagai “bunuh diri kelas”. Ia menggambarkan keberanian seseorang meninggalkan kenyamanan kelas sosial untuk bekerja bersama masyarakat bawah.
Ketika Perlawanan Tak Berhenti di Kampus
Gagasan itu kemudian Risyad tarik ke kehidupan mahasiswa.
Menurutnya, mahasiswa bisa lantang menolak militerisme. Namun, keberanian tersebut perlu berlanjut menjadi kerja bersama masyarakat sekitar.
Ia memberi contoh pedagang kaki lima di sekitar kampus. Persoalan mereka, kata Risyad, bisa menjadi pintu masuk untuk membangun percakapan dan pendidikan politik.
“Keberanian untuk bunuh diri kelas ini jarang ditemukan di antara kita.” ujarnya.
Risyad menilai generasi muda kini menghadapi kecenderungan individualisme. Karena itu, pengorganisasian menjadi pekerjaan penting bagi mahasiswa dan Gen Z.
Kerja tersebut memang tidak instan. Namun, proses panjang itulah yang membuat gerakan memiliki akar.
Hukum dan Pertanggungjawaban
Ilham Maulana membawa diskusi ke persoalan penegakan hukum dalam kasus pelanggaran HAM.
Ia menjelaskan bahwa Munir terus mendorong agar kasus kekerasan HAM mendapat proses pengadilan. Upaya tersebut, menurut Ilham, berkaitan dengan tuntutan pertanggungjawaban atas kekerasan pada masa lalu.
Pembahasan kemudian bergerak ke kondisi aktivisme saat ini. Ilham menyinggung kriminalisasi terhadap anak muda yang menyuarakan kritik.
Ia juga menyoroti persoalan pertanggungjawaban dalam struktur militer. Menurutnya, prajurit tidak semestinya menjadi kambing hitam atas keputusan komandannya.
“Supaya tidak dimiliter. Itu pun yang dikupayakan oleh Munir dulu dalam advokasi-advokasinya.” tegasnya.
Sejumlah contoh kasus yang muncul dalam diskusi merupakan klaim narasumber. Karena itu, detail kasus tertentu tetap membutuhkan verifikasi tambahan sebelum redaksi menjadikannya fakta independen.
HAM Juga Bicara Soal Pendidikan
Doli Fikiansyah memperluas pembahasan HAM ke dunia pendidikan.
Menurut Doli, hak asasi tidak hanya berkaitan dengan kriminalitas atau kekerasan. Akses pendidikan juga menjadi bagian penting dari persoalan tersebut.
“Membicarakan soal HAM itu tidak hanya sebatas kriminalitas, HAM juga berbicara tentang pendidikan.” ujarnya.
Ia menyoroti biaya kuliah dan tuntutan gelar pendidikan tinggi dalam dunia kerja. Menurutnya, kondisi itu dapat menambah beban mahasiswa sekaligus keluarga.
“Dengan UKT yang sekarang itu mungkin terbilang cukup tinggi itu rakyat tercekik akan hal itu dan seharusnya itu menjadi tanggung jawabnya negara dalam hal aspek pendidikan.” tambahnya.
Pandangan tersebut membuat pembahasan Munir terasa lebih dekat dengan kehidupan mahasiswa. HAM bukan hanya perkara ruang sidang, tetapi juga menyangkut akses seseorang untuk belajar dan membangun masa depan.
Mengapa Munir Masih Relevan?
Achmad Oca melihat sosok Munir tetap penting bagi generasi hari ini.
Ia menyoroti kekhawatirannya terhadap masuknya militerisme ke ruang sipil. Kampus dan ruang kesenian, menurut Oca, termasuk ruang yang perlu dijaga agar tetap terbuka bagi kritik.
Oca juga mengingat kembali cara Munir menjaga kasus HAM tetap berada di ruang publik. Munir menampilkan wajah korban dan rutin berbicara melalui media untuk memastikan kasus mereka tidak menghilang dari ingatan masyarakat.
Strategi itu terasa relevan hari ini.
Bedanya, generasi sekarang memiliki media sosial. Informasi bergerak jauh lebih cepat. Namun, banyaknya informasi juga membuat perhatian publik mudah berpindah.
Karena itu, tantangannya bukan sekadar berbicara. Anak muda perlu menjaga isu tetap hidup dan mengubah perhatian menjadi tindakan.
Ketika Diskusi Selesai, Masalah Tetap Ada
Pada akhirnya, diskusi di UMY membawa satu persoalan kembali ke mahasiswa.
Apa yang terjadi setelah forum selesai?
Risyad menggambarkan kontradiksi itu dengan sederhana. Orang bisa duduk bersama dan membicarakan penindasan, tetapi setelah pulang mereka kembali pada posisi sosial masing-masing.
“Kita sepakat, kita melawan penindasan. Tetapi pulang dari sini, ya saya balik itu jadi mahasiswa. Mungkin di sini ada teman-teman yang berprofesi, ya balik ke profesinya. Yang gajinya UMR tetap UMR. UMR Jakarta, UMR Jogja, timpang jauh.” ujarnya.
Di titik inilah diskusi tentang Munir menemukan maknanya.
Perlawanan tidak cukup berhenti pada pernyataan sikap. Gerakan membutuhkan hubungan, pengorganisasian, dan kerja yang terus berjalan.
Ini Bukan Sekadar Mengenang Munir
Dua puluh tahun setelah kematiannya, Munir masih menjadi simbol. Namun, simbol tidak otomatis melahirkan perubahan.
Kaus, poster, dan unggahan media sosial bisa menjaga ingatan. Akan tetapi, semua itu belum cukup jika tidak berlanjut menjadi tindakan.
Warisan terbesar Munir mungkin bukan sekadar keberaniannya berbicara. Warisan itu adalah keberanian untuk bekerja bersama.
Risyad merangkumnya dalam satu kalimat “Selain melihat keberaniannya, kita melihat langkahnya.”
Langkah itu berarti turun ke akar persoalan. Mendengar kelompok yang terdampak. Lalu membangun kekuatan bersama.
Dampaknya Buat Kamu
Bagi mahasiswa di Yogyakarta, pesan diskusi ini sebenarnya dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Lihat persoalan di sekitar kampus. Pedagang kecil, biaya kuliah, kebebasan berekspresi, hingga akses terhadap bantuan hukum.
Semua itu bisa menjadi pintu untuk memahami HAM secara lebih nyata.
Karena itu, mengenang Munir tidak harus dimulai dari hal besar. Cukup dengan bertanya siapa yang sedang menghadapi ketidakadilan di sekitar kita?
Dari pertanyaan itu, keberanian bisa menemukan bentuknya.
Bukan sekadar bicara.
Tetapi bergerak bersama. @anisa








