Ada benda yang cukup disimpan. Ada pula benda yang harus terus diceritakan. Di Mojokerto, Museum Gubug Wayang memilih jalan kedua. Tempat ini tidak sekadar menyimpan wayang, topeng, keris, dan boneka Si Unyil.
Tabooo.id – Lebih dari itu, Museum Gubug Wayang tersebut menjaga cerita yang menempel pada setiap koleksi. Upaya itu berlangsung sejak cikal bakal museum berdiri pada 2014 melalui Sanggar Gubug Wayang.
Dua tahun kemudian, sanggar tersebut beralih fungsi menjadi museum. Gedungnya pun memiliki cerita sendiri.
Bangunan itu dahulu menjadi tempat pembuatan kain pada era kolonial Belanda. Setelah terbengkalai, tempat tersebut bahkan sempat menjadi sarang burung walet.
Kini, ruang lama itu berubah menjadi pusat kegiatan seni dan budaya. Perubahan tersebut membuat bangunan bersejarah itu memiliki fungsi baru bagi masyarakat.

Dari Wayang sampai Si Unyil
Koleksi Museum Gubug Wayang menunjukkan betapa luasnya bentuk warisan budaya Indonesia. Pengelola menyimpan wayang Mbah Mblengdar atau wayang kancil, karya Mbah Asep Sunandar, serta wayang Pak Asep Purbaya.
Selain itu, ada wayang rumput karya Mbah Gepuk dan wayang Mbah Timbool dari Yogyakarta. Koleksinya juga mencakup wayang purwa, wayang lidi, wayang kardus, serta wayang berbahan limbah.
Namun, satu koleksi memiliki cerita yang sangat dekat dengan memori masyarakat Indonesia. Koleksi tersebut adalah aset serial boneka Si Unyil.
Budi Susanto Penanngungjawab Museum Gubug Wayaqng menjelaskan bahwa kepercayaan untuk merawat aset itu datang dari Pak Raden pada 2015.
“Pada tahun 2015, Pak Raden pernah datang ke sini, memberikan kepercayaan kepada kami untuk merawat dan menyimpan seluruh aset serial boneka Si Unyil.”
Aset tersebut mencakup serial Si Unyil sejak 1968 hingga produksi terakhir pada 2013. Karena itu, keberadaannya bukan hanya penting sebagai koleksi museum.
Bagi banyak orang, Si Unyil juga membawa kembali memori masa kecil. Sebuah boneka akhirnya menjadi pintu menuju cerita tentang zaman yang pernah dilewati masyarakat.

Wayang Tidak Harus Selalu dari Kulit
Selama ini, banyak orang mengenal wayang melalui material kulit. Museum Gubug Wayang justru memperlihatkan bahwa tradisi bisa menggunakan bahan lain.
Kardus dan sak semen dapat menjadi material alternatif untuk membuat wayang. Budi menjelaskan karakter sak semen setelah material tersebut mengering.
“Sak semen kalau dibuat wayang itu kalau mengering ngalah-ngalahi kulit, bahannya lebih ke kulit.”
Eksperimen itu memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berarti mempertahankan material lama. Sebaliknya, inovasi dapat menjadi cara untuk membuat tradisi tetap bergerak.
Di sisi lain, perubahan bahan tetap membutuhkan pengetahuan. Pengelola harus memahami karakter material agar bentuk dan fungsi wayang tetap terjaga.
Merawat Wayang Ternyata Tidak Bisa Asal Dingin
Museum Gubug Wayang menempati bangunan tiga lantai. Kondisi tersebut membuat pengelola harus memperhatikan lingkungan setiap ruang koleksi.
Lantai satu mendapat perhatian ekstra karena pintu utama sering terbuka. Akibatnya, angin dan debu bisa masuk secara langsung.
Sementara itu, persoalan suhu dan kelembapan membutuhkan perhatian yang lebih khusus. Pengelola memilih tidak menggunakan AC untuk merawat koleksi wayang.
Budi menjelaskan bahwa penggunaan AC dapat membuat bahan wayang menggulung akibat perubahan kelembapan.
“Kami enggak memakai AC, karena kalau pakai AC nanti wayangnya menggulung.”
Pengalaman tersebut pernah terjadi pada koleksi wayang Cirebon di lantai dua. Koleksi itu sempat menggulung setelah ruangan menggunakan AC.
Karena itu, museum menjaga suhu ruangan maksimal sekitar 30 derajat Celsius. Jika suhu melewati batas, pengelola kembali melakukan pengecekan.
Fakta tersebut menunjukkan satu hal penting. Teknologi modern tidak otomatis menjadi solusi terbaik untuk semua benda.

Pelestarian Juga Membutuhkan Biaya
Di balik koleksi yang terlihat rapi, ada persoalan lain yang tidak kalah penting. Museum membutuhkan biaya untuk menjaga seluruh aktivitasnya tetap berjalan.
Budi menegaskan bahwa koleksi Museum Gubug Wayang merupakan milik pribadi. Pengelola juga menjalankan pembiayaan museum secara mandiri.
“Semua pribadi semua, Biaya sendiri, semuanya serba sendiri.”
Menurut Budi, museum tidak ingin bergantung pada utang. Karena itu, keberlangsungan kegiatan harus mereka kelola dengan kemampuan sendiri.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya berbicara tentang idealisme. Perawatan benda, pengelolaan ruang, kegiatan edukasi, serta pertunjukan membutuhkan sumber daya.
Dengan kata lain, benda budaya boleh diam di balik kaca. Pekerjaan untuk menjaganya tetap hidup justru terus bergerak.
Keris Bukan Sekadar Pusaka
Koleksi Museum Gubug Wayang juga mencakup keris era Kamardikan. Keris tersebut merupakan karya Empu Anik Putra Sugari dari Desa Aeng Tong-tong, Saronggi, Sumenep, Madura.
Pengelola menempatkan koleksi itu sebagai sarana edukasi. Pendekatan tersebut membuat keris tidak hanya hadir sebagai benda pusaka.
Budi menjelaskan filosofi keris melalui makna kata yang ia gunakan.
“Ker itu kekuatan batin dan daya ingat, Ris itu ketuhanan.”
Menurut penjelasannya, makna tersebut mengingatkan pemilik agar selalu mengingat Tuhan. Ia juga mengaitkannya dengan simbol Lingga-Yoni serta prinsip “donga kalian mergawe”, atau berdoa sambil bekerja.
Untuk perawatannya, museum tidak melakukan jamasan rutin terhadap koleksi keris Kamardikan tersebut. Pengelola lebih menekankan kebersihan fisik karena koleksi itu berfungsi sebagai media edukasi.
Budaya Tidak Boleh Berhenti di Balik Kaca
Museum Gubug Wayang tidak berhenti pada kegiatan menyimpan koleksi. Pengelola juga membuka pelatihan pembuatan wayang, seni tari, macapat, hingga karawitan.
Selain pelatihan, berbagai pertunjukan seni ikut digelar. Wayang Potehi, ludruk, ketoprak, dan wayang orang menjadi bagian dari kegiatan tersebut.
Pertunjukan berlangsung di area panggung Museum Mardika. Dengan cara itu, masyarakat bisa mengalami kebudayaan secara langsung.
Tidak hanya masyarakat umum, pelajar dan mahasiswa juga memiliki ruang untuk belajar. Museum menerima kegiatan penelitian serta magang dari berbagai jenjang pendidikan.
Anak-anak dapat mengenal proses pembuatan wayang. Mahasiswa pun dapat menjadikan museum sebagai ruang penelitian.
Pada akhirnya, pola tersebut membuat museum memiliki fungsi yang lebih luas. Koleksi tidak berhenti sebagai benda pajangan, tetapi menjadi bahan belajar dan pengalaman budaya.
Yang Disimpan Bukan Cuma Benda
Museum sering dipahami sebagai tempat menyimpan masa lalu. Namun, Museum Gubug Wayang menunjukkan bahwa fungsi tersebut bisa jauh lebih besar.
Wayang menyimpan cerita dan teknik. Keris menyimpan simbol serta filosofi.
Si Unyil menyimpan nostalgia sebuah generasi. Sementara itu, gedung lama museum menyimpan jejak sejarah sebuah ruang.
Pelatihan dan pertunjukan kemudian membawa semua ingatan tersebut ke masa kini. Budaya tidak hanya disimpan, tetapi juga dipertemukan kembali dengan manusia.
Ini bukan sekadar museum. Ini pertarungan kecil melawan lupa.
Ini Dampaknya Buat Kamu
Warisan budaya tidak bertahan hanya karena kita menyebutnya sebagai warisan. Sebuah tradisi membutuhkan orang yang mau merawat, mempelajari, dan meneruskannya.
Museum Gubug Wayang memperlihatkan proses tersebut dari jarak dekat. Semuanya berlangsung melalui koleksi, perawatan, pendidikan, pertunjukan, dan pengelolaan mandiri.
Karena itu, persoalan budaya sebenarnya bukan sekadar apakah sebuah benda masih ada. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah masih ada orang yang memahami maknanya.
Sebuah wayang bisa tetap berada di museum selama puluhan tahun. Namun, tanpa generasi yang mau mengenalnya, benda tersebut perlahan kehilangan konteks.
Begitu pula Si Unyil. Boneka itu masih tersimpan, tetapi ingatan tentangnya membutuhkan generasi yang mau bercerita.
Pada akhirnya, museum bukan hanya tempat untuk melihat masa lalu. Museum juga menjadi ruang untuk menentukan apakah masa lalu masih punya tempat di masa depan.
Jadi, ketika generasi yang mengenal budaya itu mulai pergi, siapa yang akan memastikan ingatannya tetap tinggal?. @teguh








