Cek fakta pernyataan Yusril Ihza Mahendra tentang hukuman mati bagi koruptor, termasuk konteks ucapan soal banyak pejabat yang bisa terancam.
Tabooo.id: Pernyataan Yusril Ihza Mahendra soal hukuman mati bagi koruptor kembali menjadi sorotan. Benarkah ia menyebut banyak pejabat akan mati jika aturan tersebut diterapkan? Simak konteks dan fakta pernyataan aslinya.
Klaim: Yusril Ihza Mahendra menyebut banyak pejabat akan mati jika pemerintah mengesahkan hukuman mati bagi koruptor.
Fakta: Klaim tersebut keliru. Penelusuran tidak menemukan pernyataan Yusril yang memuat kalimat itu.
Sebuah unggahan Facebook menampilkan foto Yusril Ihza Mahendra. Unggahan tersebut juga memuat narasi tentang hukuman mati bagi koruptor.
Narasinya berbunyi:
“Kalau hukuman mati bagi koruptor disahkan tentu akan banyak pejabat yang mati. Lalu siapa yg akan mengurus negeri ini”
Kalimat itu seolah-olah menunjukkan bahwa Yusril menolak hukuman mati bagi koruptor.
Namun, konteks aslinya berbeda.
Foto Yusril, Narasinya Berbeda
Foto dalam unggahan tersebut mirip dengan materi Instagram yang membahas pernyataan Yusril.
Materi itu memakai judul “Tanggapi Tuntutan Hukuman Mati Koruptor, Yusril: Itu di Luar Kewenangan Pemerintah”.
Konteksnya berkaitan dengan tuntutan massa aksi di depan Gedung DPR RI.
Massa meminta pemerintah menerapkan hukuman mati bagi pelaku korupsi.
Ia kemudian menjelaskan posisi pemerintah dalam persoalan tersebut.
Yusril Bicara Soal Kewenangan
Yusril menjelaskan bahwa UU Tindak Pidana Korupsi dan KUHP Nasional sudah mengatur pidana mati.
Jaksa dapat mengajukan tuntutan pidana mati dalam perkara tertentu.
Namun, majelis hakim menentukan hukuman akhir.
Pemerintah tidak berwenang menentukan berat atau ringannya hukuman terdakwa.
Pemerintah juga tidak boleh mengintervensi putusan pengadilan.
Yusril menegaskan bahwa semua pihak harus menghormati putusan hakim.
Hakim dapat menjatuhkan hukuman mati atau penjara seumur hidup sesuai perkara dan pertimbangan hukum.
Tidak Ada Kalimat Soal Banyak Pejabat Mati
Penelusuran terhadap konteks pernyataan Yusril tidak menemukan kalimat tersebut.
Tidak ada pernyataan Yusril yang menyebut banyak pejabat akan mati jika hukuman mati bagi koruptor berlaku.
Ia juga tidak mempertanyakan siapa yang akan mengurus negara setelah banyak pejabat meninggal.
Artinya, unggahan tersebut menggabungkan foto Yusril dengan narasi yang tidak sesuai konteks.
Di sinilah letak masalahnya.
Foto yang benar tidak otomatis membuktikan kebenaran semua tulisan di dalamnya.
Seseorang dapat menambahkan narasi baru pada sebuah foto tanpa pernah mendapatkannya dari tokoh yang tampil dalam foto tersebut.
Kenapa Narasi Ini Mudah Dipercaya?
Narasi tersebut mengangkat isu sensitif, yaitu korupsi dan hukuman mati.
Isu itu mudah memancing emosi publik.
Nama pejabat terkenal juga membuat unggahan tampak meyakinkan.
Padahal, pembaca perlu memeriksa sumber kutipan, bukan hanya melihat foto.
Dampaknya buat kamu: jangan langsung percaya pada kutipan yang menempel pada foto tokoh publik.
Cari sumber asli dan periksa konteks pernyataannya.
Ini bukan sekadar soal satu kutipan.
Hal ini juga menunjukkan cara sebuah foto dapat mengubah persepsi publik ketika seseorang menambahkan narasi tanpa dasar.
Jadi, klaim “Yusril menyatakan banyak pejabat akan mati jika hukuman mati bagi koruptor disahkan” adalah keliru.
Penelusuran tidak menemukan pernyataan Yusril yang mendukung klaim tersebut.
Foto boleh asli. Narasi tetap wajib dicek.@eko








