Slipi dan Palmerah belum tenang hingga Kamis malam, 27 Agustus 2026. Polisi masih menembakkan gas air mata. Massa tetap bertahan, sementara sebuah pos polisi di kawasan Slipi mengalami kerusakan.
Tabooo.id: Jakarta – Ketegangan belum lepas dari kawasan Slipi hingga Palmerah, Jakarta Barat, Kamis malam, 27 Agustus 2026.
Menjelang pukul 23.00 WIB, massa masih bertahan di Jalan Palmerah Utara hingga perempatan Slipi. Polisi beberapa kali menembakkan gas air mata untuk mendorong mereka menjauh.
Massa memang mundur.
Namun hanya sebentar.
Ketika asap mulai menipis, sebagian orang kembali bergerak menuju perempatan Slipi.
Situasi itu membuat kawasan yang biasanya menjadi jalur pulang warga berubah menjadi titik tarik-ulur antara aparat dan kelompok yang masih berada di jalan.
Gas Air Mata Belum Mengakhiri Bentrokan
Pantauan Suara.com sekitar pukul 22.58 WIB menunjukkan konsentrasi massa belum benar-benar pecah.
Gas air mata membuat beberapa kelompok menjauh dari posisi semula. Saat pandangan mulai jelas, massa bergerak lagi mendekati titik yang sebelumnya sudah mereka tinggalkan.
Gerak maju dan mundur terus berulang.
Belum ada informasi pasti mengenai jumlah orang yang masih berada di kawasan tersebut. Identitas maupun afiliasi mereka juga tidak terjelaskan dalam laporan lapangan.
Karena itu, menyebut seluruh kelompok sebagai bagian dari organisasi tertentu belum memiliki dasar yang cukup.
Yang terlihat di jalan malam itu jauh lebih sederhana sekaligus lebih serius: bentrokan belum selesai.
Pos Polisi Slipi Rusak
Ketegangan sebelumnya juga menyentuh pos polisi di lampu merah Slipi.
Seorang warga bernama Royan mengatakan kaca pos sudah dalam kondisi pecah ketika ia melewati lokasi.
Menurut kesaksiannya, beberapa orang kemudian memasukkan spanduk ke dalam bangunan tersebut dan mencoba menyalakan api.
“Saya lihat kaca sudah pecah. Terus beberapa orang menyalakan api,” ujar Johan.
Laporan tersebut belum memastikan siapa yang merusak kaca maupun mencoba membakar pos.
Detail itu penting.
Dalam situasi ketika komposisi massa mulai cair, satu tindakan tidak otomatis dapat melekat kepada seluruh peserta aksi.
Kerusakan bisa diverifikasi. Pelakunya tetap membutuhkan pembuktian.
Pengguna Jalan Ikut Kena Gas Air Mata
Bentrokan juga mulai terasa bagi orang yang sebenarnya hanya ingin melintas.
Helmi menjadi salah satunya.
Ia sebelumnya bergerak dari Stasiun Palmerah menuju Tanah Abang. Saat melewati kawasan Pejompongan, efek gas air mata membuat matanya perih.
Perjalanan pun berubah arah.
Helmi memilih berbelok menuju Palmerah Utara karena tidak sanggup melanjutkan rute sebelumnya.
“Perih banget pas di kolong,” katanya.
Di titik seperti ini, bentrokan tidak lagi hanya menjadi urusan dua kelompok yang saling berhadapan.
Pengendara mulai mencari jalur alternatif.
Sebagian penumpang harus menebak akses mana yang masih bisa mereka lalui.
Warga sekitar pun mendengar suara tembakan gas air mata dari jarak yang terlalu dekat dengan rumah mereka.
Malam kota mendadak punya aturan baru: jangan sekadar tahu tujuan, cari tahu juga jalan mana yang belum berubah menjadi titik benturan.
Massa Bertahan di Palmerah Utara
Hingga laporan tersebut dimuat, sebagian massa masih berada di sekitar kawasan Maybank Palmerah Utara.
Belum diketahui pasti alasan mereka bertahan.
Informasi mengenai rencana pembubaran, tuntutan kelompok tersebut, ataupun komunikasi lanjutan dengan aparat juga belum tersedia.
Artinya, kondisi terakhir perlu dibaca secara hati-hati.
Slipi-Palmerah memang masih panas menjelang pukul 23.00 WIB. Namun setiap perkembangan setelah waktu tersebut membutuhkan pembaruan baru, bukan asumsi.
Kericuhan nyata tidak perlu dibesar-besarkan agar terdengar serius.
Pos polisi rusak. Gas air mata masuk ke jalur warga. Massa belum sepenuhnya meninggalkan kawasan.
Itu sudah cukup menggambarkan malam yang belum kembali normal. @tabooo




