Rabu, Agustus 26, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Masjid Laweyan: Dari Pura, Menjadi Jejak Islam Tertua di Solo

by eko
Agustus 26, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter
Masjid Laweyan di Solo menyimpan jejak sejarah panjang, dari konon bekas pura hingga menjadi salah satu masjid tertua di Kota Solo.

Tabooo.id – Di tengah Solo yang terus bergerak, sebuah bangunan tua menyimpan jejak masa lalu. Bangunan itu berdiri di kawasan Laweyan, dekat Sungai Jenes. Kini, orang mengenalnya sebagai Masjid Laweyan. Namun, cerita yang hidup di sekitarnya membawa kita ke masa ketika tempat itu konon berfungsi sebagai pura.

Masjid Laweyan menjadi salah satu bangunan bersejarah di Kota Solo. Banyak orang menyebut usianya lebih tua daripada Masjid Agung Surakarta. Masjid ini berdiri di Jalan Liris Nomor 1, Pajang, Kecamatan Laweyan.

Sejarah lokal menyebut masjid ini sudah ada sejak abad ke-16, sekitar tahun 1546. Namun, usia bukan satu-satunya hal yang membuat tempat ini menarik.

Masjid Laweyan menyimpan cerita tentang perubahan keyakinan, perjumpaan budaya, dan perjalanan sebuah ruang yang terus mengikuti zaman.

Dari Pura ke Ruang Ibadah Umat Islam

Kisah Masjid Laweyan membawa kita ke kawasan Belukan pada masa lampau. Sejarah yang berkembang di lingkungan setempat menghubungkan kawasan itu dengan seorang lurah bernama Ki Ageng Beluk.

Ini Belum Selesai

Kyai Kolo Dete: Legenda di Balik Rambut Gimbal Dieng

Kisah yang Terlupakan: Emas Monas dan Teuku Markam

Ki Ageng Beluk memeluk agama Hindu. Ia menggunakan sebuah pura sebagai tempat beribadah. Masyarakat kemudian mengaitkan lokasi pura tersebut dengan cikal bakal Masjid Laweyan.

Lalu, perubahan datang bersama Ki Ageng Henis.

Tokoh ini datang ke wilayah Laweyan untuk menyebarkan ajaran Islam. Tradisi setempat menyebut Raden Patah dari Kerajaan Demak mengutus Ki Ageng Henis untuk menjalankan syiar di kawasan tersebut.

Ki Ageng Henis kemudian bertemu Ki Ageng Beluk. Pertemuan itu membuka babak baru dalam sejarah kawasan Laweyan.

Ki Ageng Beluk mulai tertarik pada ajaran Islam. Ia kemudian memeluk Islam dan menyerahkan pura yang sebelumnya menjadi tempat ibadahnya untuk kepentingan umat Islam.

Sebuah ruang pun memasuki fase baru.

Namun, pura itu tidak langsung berubah menjadi masjid.

Sebelum Menjadi Masjid

Masyarakat lebih dulu menggunakan bangunan tersebut sebagai musala. Proses perubahan berjalan secara bertahap seiring berkembangnya kehidupan masyarakat di Laweyan.

Pada masa berikutnya, Raja Kasunanan Surakarta Pakubuwono X membangun masjid di lokasi tersebut. Bangunan itu kemudian berkembang menjadi Masjid Laweyan yang dikenal hingga sekarang.

Perjalanan panjang itu membuat Masjid Laweyan menyimpan beberapa lapisan sejarah.

Ada jejak kepercayaan lama, ada proses penyebaran Islam dan ada pula pengaruh kekuasaan Jawa yang ikut membentuk perjalanan kawasan tersebut.

Sejarahnya tidak berjalan dalam satu garis lurus. Setiap zaman menambahkan cerita baru tanpa sepenuhnya menghapus jejak zaman sebelumnya.

Jejak Masa Lalu Masih Bertahan

Waktu terus berjalan. Renovasi juga mengubah beberapa bagian masjid.

Pengelola memperbarui bagian depan dan area tempat wudu. Namun, sejumlah bagian utama masih mempertahankan karakter lama. Tiang-tiang penyangga, misalnya, masih menunjukkan usia panjang bangunan tersebut.

Masjid Laweyan pun tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah.

Bangunan ini juga menjadi ruang yang menyimpan ingatan sejarah.

Kayu, tiang, tata ruang, dan lingkungan sekitarnya membawa cerita tentang perjalanan panjang Laweyan. Jejak masa lalu tidak hilang sepenuhnya. Sebagian masih bertahan di tengah aktivitas ibadah yang terus berlangsung.

Di sinilah daya tarik Masjid Laweyan terasa.

Sejarah tidak hanya tinggal dalam buku. Sejarah juga hidup dalam ruang yang masih digunakan manusia.

Ki Ageng Henis dan Tradisi Ziarah

Cerita Masjid Laweyan juga terhubung dengan perjalanan hidup Ki Ageng Henis.

Tradisi lokal menyebut Ki Ageng Henis tinggal di kawasan Laweyan hingga akhir hayatnya. Kompleks masjid kini juga menaungi makamnya di bagian belakang bersama makam sejumlah keluarga kerajaan.

Menjelang Ramadan, banyak peziarah datang ke kawasan tersebut. Sebagian ingin mengenang sejarah, sebagian menjalankan tradisi ziarah dan sebagian lagi ingin melihat langsung jejak perjalanan Islam di Solo.

Masjid dan kompleks makam itu akhirnya membentuk satu ruang yang mempertemukan ibadah, sejarah, dan tradisi.

Di tengah Solo yang kini bergerak cepat, tempat itu tetap menjaga hubungan dengan masa lampau.

Ketika Sebuah Bangunan Menyimpan Banyak Zaman

Masjid Laweyan menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk museum.

Kadang, sejarah tetap hidup karena masyarakat terus menggunakannya.

Setiap hari, orang datang untuk beribadah. Warga melewati kawasan itu. Peziarah mengunjungi kompleks makam. Aktivitas terus berjalan di ruang yang menyimpan cerita dari masa berbeda.

Konon, tempat itu pernah menjadi pura.

Kemudian, masyarakat menggunakannya sebagai musala.

Setelah itu, perjalanan sejarah membawanya menjadi masjid.

Ini bukan sekadar cerita tentang bangunan tua. Masjid Laweyan memperlihatkan bagaimana satu ruang dapat merekam perubahan keyakinan, perjumpaan budaya, dan perjalanan sebuah kota.

Solo tidak tumbuh dari satu zaman saja. Kota ini menyimpan lapisan cerita yang terus bertemu dan membentuk wajah baru.

Masjid Laweyan menjadi salah satu saksi perjalanan itu.

Masa lalu memang tidak selalu berbicara keras. Kadang, ia hanya berdiri diam di sebuah sudut kota.

Namun, jika kita berhenti sejenak dan melihat lebih dekat, sejarah masih ada di sana.@eko

Tags: Masjid LaweyanMasjid tertuaSoloSurkarta

Kamu Melewatkan Ini

Saat Komunitas Bikers Tak Cuma Gas Bareng

Saat Komunitas Bikers Tak Cuma Gas Bareng

by eko
Agustus 26, 2026

Perlukah komunitas bikers punya kegiatan lebih dari sekadar touring? Motor bisa jadi awal pertemanan, pembelajaran, kegiatan sosial, dan ruang untuk...

Motor Boleh Beda, Solidaritas Jangan Hilang

Motor Boleh Beda, Solidaritas Jangan Hilang

by eko
Agustus 24, 2026

Apa pun motornya, semua berbagi satu aspal. Perayaan 26 tahun BBMC Central Java memantik pertanyaan: masihkah solidaritas antar bikers terjaga?...

26 Tahun BBMC: Ketika Motor Menyatukan Bikers dari Berbagai Daerah

26 Tahun BBMC: Ketika Motor Menyatukan Bikers dari Berbagai Daerah

by eko
Agustus 24, 2026

BBMC Central Java merayakan 26 tahun perjalanan di Solo. Ratusan bikers dari berbagai daerah bertemu dalam semangat persaudaraan dan satu...

Next Post
Ketika Aspirasi Harus Berkali-kali Menegaskan Diri Tak Ditunggangi

Ketika Aspirasi Harus Berkali-kali Menegaskan Diri Tak Ditunggangi

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id