Momentum HUT RI di Sriwedari bukan cuma soal upacara. Bagi pedagang kecil, keramaian juga membuka peluang menambah rezeki.
Tabooo.id – Pagi 17 Agustus di Sriwedari punya dua cerita. Ada cerita dari lapangan upacara. Ada pula cerita dari sisi jalan, tempat pedagang kecil mengejar pembeli.
Kamto, penjual es teh di kawasan Sriwedari, memilih memanfaatkan keramaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Ia melihat momentum itu sebagai peluang menambah penghasilan.
Ketika Upacara Berarti Kesempatan
Dari pantauan Tabooo.id, puluhan pedagang mengisi area city walk depan Sriwedari. Mereka menjual es teh, kopi, cilok, pentol, siomay, hingga batagor.
Keramaian membuat kawasan itu punya wajah lain. Selain menjadi tempat upacara, area tersebut juga menjadi ruang ekonomi bagi pedagang kecil.
Pedagang datang membawa dagangan. Warga datang membawa rasa lapar dan haus. Di antara keduanya, uang terus berpindah tangan.
Kamto mengaku dagangannya cukup ramai pada momentum tersebut.
“Alhamdulillah hari ini lumayan ramai, dan ini momentum hari kemerdekaan. Saya diperbolehkan jual di sini,” kata Kamto.
Kalimat Kamto terdengar sederhana. Namun, kata “lumayan” punya arti besar bagi pedagang kecil.
Ada kebutuhan rumah yang bisa terbantu, ada penghasilan yang bisa dibawa pulang dan ada pula rasa lega ketika dagangan bergerak.
Merdeka Versi Pedagang Es Teh
Kita sering merayakan kemerdekaan dengan cara yang sama.
Ada upacara, ada bendera, ada lomba dan ada pidato.
Namun, Kamto melihat kemerdekaan dari sisi yang berbeda.
Baginya, kemerdekaan juga berarti punya kesempatan untuk bekerja. Ia ingin punya ruang untuk berjualan. Ia ingin membawa pulang hasil dari kerja hari itu.
Kamto memang tidak hanya berjualan saat 17 Agustus. Ia juga mencari pembeli ketika ada event tertentu.
Saat Car Free Day di Jalan Slamet Riyadi, Solo, ia kembali membuka lapaknya.
Jadi, keramaian kota bukan sekadar pemandangan bagi Kamto.
Keramaian adalah peluang.
Kota Ramai, Siapa yang Ikut Dapat Rezeki?
Di sini kita perlu melihat event kota dari sudut lain.
Sebuah acara tidak berhenti ketika upacara selesai. Keramaian juga tidak hilang ketika peserta meninggalkan lokasi.
Ada pedagang yang masih menunggu pembeli, ada pelaku UMKM yang berharap dagangannya habis dan ada pekerja lain yang ikut mencari penghasilan dari ramainya kota.
Satu event bisa menciptakan banyak pertemuan ekonomi.
Warga datang. Mereka membeli makanan dan minuman. Pedagang mendapat pemasukan. Uang pun kembali bergerak di sekitar lokasi.
Karena itu, event kota punya dampak yang lebih luas dari sekadar hiburan.
Namun, kita juga perlu melihat realitas pedagang kecil. Mereka tetap menghadapi modal, persaingan, cuaca, lokasi, dan daya beli masyarakat.
Event memang bukan solusi untuk semua persoalan UMKM.
Tetapi keramaian tetap memberi satu hal penting: peluang.
Kamto Tidak Minta Banyak
Harapan Kamto sebenarnya sederhana.
Ia ingin Solo semakin sering menggelar event dan kegiatan. Dengan begitu, pedagang kecil punya lebih banyak kesempatan untuk mencari penghasilan.
Harapan itu mungkin terdengar kecil.
Namun, dari harapan sederhana itu kita bisa melihat kebutuhan warga kecil.
Mereka tidak selalu meminta panggung besar. Mereka hanya membutuhkan ruang untuk bekerja.
Ketika kota membuka ruang, pedagang punya kesempatan untuk bergerak.
Bagi Kamto, event kota bukan hanya tontonan.
Event juga bisa menjadi tambahan pemasukan untuk keluarga.
Di Balik Bendera, Ada Dompet yang Harus Pulang Terisi
Inilah sisi 17 Agustus yang sering luput dari kamera.
Kita melihat bendera berkibar, kita mendengar pidato tentang perjuangan dan kita mengenang sejarah kemerdekaan.
Di sisi lain, orang-orang menjalankan perjuangan versi mereka sendiri.
Tidak ada panggung.
Tidak ada tepuk tangan.
Hanya termos es teh, dagangan sederhana, dan harapan agar hari itu lebih ramai.
Bagi sebagian orang, 17 Agustus berarti perayaan sejarah.
Bagi Kamto, 17 Agustus juga berarti kesempatan menambah rezeki.
Ini Bukan Cuma Soal Es Teh
Cerita Kamto sebenarnya bukan sekadar cerita seorang pedagang yang berjualan saat upacara.
Ini tentang bagaimana sebuah kota menciptakan ruang ekonomi melalui keramaian.
Ketika pemerintah menggelar event, warga datang. Ketika warga datang, kebutuhan ikut muncul. Pedagang kemudian menangkap peluang tersebut.
Rantai ekonominya sederhana.
Karena itu, kita tidak harus mengukur keberhasilan event hanya dari kemeriahan acara.
Kita juga bisa bertanya: berapa banyak warga yang ikut mendapatkan manfaat ekonomi?
Pertanyaan itu penting.
Sebab kota bukan hanya soal gedung, jalan, dan agenda pemerintah.
Kota juga berisi orang-orang yang mencari nafkah setiap hari.
Mungkin, Ini Arti Merdeka yang Paling Sederhana
Kamto tidak sedang menjual gagasan besar.
Ia hanya menjual es teh.
Namun, dari lapaknya kita bisa melihat arti kemerdekaan dari sudut yang berbeda.
Ada orang yang merayakan kemerdekaan dengan upacara ada yang mengibarkan bendera.
Ada yang mengenangnya lewat sejarah dan ada pula yang memanfaatkan keramaian untuk mencari rezeki.
Mungkin, merdeka memang bisa terasa sesederhana punya kesempatan untuk bekerja dan pulang membawa penghasilan.
Jadi, pertanyaannya bukan hanya apakah 17 Agustus berlangsung meriah.
Pertanyaannya lebih jauh: ketika kota ramai, apakah warga kecil ikut merasakan manfaatnya?
Karena kota yang hidup bukan cuma kota yang ramai.
Kota yang hidup adalah kota yang memberi ruang bagi orang kecil untuk ikut tumbuh.@eko








