Di balik bendera raksasa 9×15 meter di Ngarsopuro Solo, ibu-ibu dan lansia ikut turun ke jalan merayakan kemerdekaan dengan cara yang berbeda.
Tabooo.id – Pagi di Ngarsopuro, Solo, terasa berbeda Senin (17/8/2026) pagi. Ratusan warga berkumpul untuk merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka tidak sekadar mengikuti seremoni, tetapi ikut meramaikan Detik-Detik Proklamasi dengan cara yang berbeda.
Sebuah Merah Putih berukuran 9×15 meter kemudian membentang di tengah kawasan tersebut. Pemandangan itu menjadi salah satu momen menarik dalam perayaan kemerdekaan di Kota Solo. Namun, ukuran bendera bukan satu-satunya hal yang menarik perhatian.
Sekitar 80 persen peserta merupakan perempuan. Ibu-ibu dan warga lanjut usia juga ikut mengambil bagian dalam kegiatan tersebut. Mereka menyanyikan lagu-lagu perjuangan sebelum mengikuti pembacaan teks Proklamasi.
Setelah itu, mereka bersama peserta lain membentangkan Merah Putih raksasa di Perempatan Ngarsopuro. Kemerdekaan pagi itu akhirnya terasa lebih dekat. Bukan hanya lewat upacara, tetapi lewat warga yang ikut mengisi ruang publik dengan semangat kemerdekaan.
Ketika Ibu-Ibu dan Lansia Turun ke Jalan
Perayaan 17 Agustus sering menghadirkan wajah anak-anak dan generasi muda. Namun, Ngarsopuro menunjukkan cerita yang berbeda. Ibu-ibu dan lansia ikut berkumpul sejak rangkaian acara dimulai.
Sekitar 80 persen peserta merupakan perempuan. Mereka bernyanyi bersama, membaca teks Proklamasi, dan ikut membentangkan Merah Putih raksasa. Pemandangan itu menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan tidak mengenal batas usia.
Anak muda punya ruang. Orang dewasa punya ruang. Lansia juga punya ruang untuk mengambil bagian dalam perayaan kemerdekaan. Caranya pun tidak harus rumit, karena warga cukup datang dan bergerak bersama.
Dari Lagu Perjuangan ke Merah Putih Raksasa
Sebelum pembentangan bendera, peserta menyanyikan sejumlah lagu perjuangan. Mereka kemudian membaca teks Proklamasi. Setelah itu, warga mulai membentangkan bendera berukuran 9×15 meter.
Kain Merah Putih itu memenuhi ruang di kawasan Ngarsopuro. Warga dan komunitas bergerak bersama menjaga bentangan tetap terbuka. Momen tersebut membuat simbol kemerdekaan terasa lebih dekat dengan warga.
Merah Putih tidak hanya berkibar di atas tiang. Kali ini, warga sendiri membawa bendera itu ke tengah ruang publik. Mereka mengisi kawasan kota dengan simbol yang identik dengan kemerdekaan Indonesia.
Kenapa Ngarsopuro?
Pemrakarsa kegiatan, Mayor Haristanto, menjelaskan alasan pemilihan Ngarsopuro. Menurutnya, kawasan tersebut berada di jantung Kota Solo.
“Di sinilah jantung kota,” kata Haristanto.
Ia juga melihat karakter unik kawasan tersebut. Jalur kereta api melintas di tengah Kota Solo, sehingga Ngarsopuro memiliki nilai ikonik tersendiri.
Karena itu, Haristanto menilai kawasan tersebut cocok untuk menandai Detik-Detik Proklamasi. “Kami berbahagia dan berbangga bisa menandai detik-detik proklamasi dengan cara yang hebat,” ujar Haristanto kepada Tabooo.id.
Ia menyebut kegiatan itu sebagai gerakan masyarakat. Haristanto juga menyoroti ukuran bendera dan keterlibatan warga.
“Ini adalah gerakan masyarakat. Kami bisa membentangkan bendera raksasa dengan ukuran 9×15 meter. Mereka adalah ibu-ibu dan lansia,” ujarnya.
Nasionalisme Tidak Selalu Butuh Panggung
Nasionalisme sering muncul dalam bentuk yang besar. Pidato, upacara, pengibaran bendera, dan lagu kebangsaan menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan setiap tahun.
Namun, warga Ngarsopuro menunjukkan bentuk yang lebih sederhana. Mereka berkumpul, bernyanyi, membaca Proklamasi, lalu membentangkan Merah Putih bersama-sama.
Tidak ada yang perlu menunggu panggung besar untuk mencintai Indonesia. Warga bisa memulainya dari lingkungan sendiri dengan hadir di ruang publik dan ikut menjaga suasana kebangsaan.
Dari tindakan sederhana itu, rasa memiliki terhadap Indonesia menemukan bentuk nyata. Kemerdekaan pun tidak hanya hadir sebagai seremoni, tetapi juga sebagai pengalaman bersama.
Perempuan Mendominasi Peserta
Dominasi perempuan menjadi salah satu sisi menarik kegiatan tersebut. Sekitar 80 persen peserta merupakan perempuan. Ibu-ibu ikut bergerak bersama komunitas dan warga lainnya.
Lansia juga mengambil bagian dalam kegiatan tersebut. Kehadiran mereka memberi pesan penting bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya milik generasi muda.
Generasi yang lebih tua juga punya ruang untuk menunjukkan kecintaan kepada Indonesia. Mereka membawa pengalaman hidup dari berbagai masa, lalu kembali mengambil ruang untuk merayakan kemerdekaan.
Tidak dengan cara yang rumit. Mereka cukup datang, bernyanyi, membaca Proklamasi, dan bergerak bersama.
Haristanto Ingin Anak Muda Belajar
Haristanto berharap kegiatan tersebut memberi edukasi kepada generasi muda. Ia ingin anak muda terus mengenal dan mencintai Indonesia.
Menurutnya, momentum kemerdekaan tidak boleh berhenti sebagai acara tahunan. Pesan itu terasa penting karena masyarakat mudah melihat 17 Agustus hanya sebagai rutinitas.
Setiap tahun warga memasang bendera. Setiap tahun lagu perjuangan kembali terdengar. Namun, semangat kemerdekaan seharusnya ikut hidup setelah acara selesai.
Warga Ngarsopuro mencoba menunjukkan hal tersebut. Mereka tidak hanya datang untuk melihat acara, tetapi ikut menciptakan suasana dan mengambil ruang.
Bendera Besar, Pesan Lebih Besar
Bendera 9×15 meter memang mencuri perhatian. Namun, cerita terbesar justru datang dari orang-orang di belakangnya.
Ratusan warga memilih berkumpul. Sejumlah komunitas ikut bergerak. Ibu-ibu ikut hadir, sementara lansia juga mengambil bagian.
Mereka menjadikan ruang publik sebagai tempat untuk merayakan kemerdekaan. Ini bukan sekadar bendera raksasa. Ini tentang warga yang masih merasa punya Indonesia.
Setelah acara selesai, warga akan kembali menjalani aktivitas masing-masing. Ngarsopuro akan kembali ramai, kereta akan kembali melintas, dan jalanan akan kembali dipenuhi kendaraan.
Namun, pagi itu meninggalkan satu pesan. Kemerdekaan tidak selalu membutuhkan acara megah. Kadang, kemerdekaan terasa ketika warga mau berkumpul dan bergerak bersama.
Bendera bisa kembali masuk ke tempat penyimpanan. Namun, semangatnya tidak perlu ikut masuk. Sebab, mencintai Indonesia bukan pekerjaan satu hari.
Bendera boleh dilipat setelah 17 Agustus. Semangatnya jangan ikut dilipat.@eko








