Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Mengheningkan Cipta, Prabowo Ajak Peserta Upacara Doakan Korban Bencana

by dimas
Agustus 17, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on Facebook
Share on Twitter
Dalam upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka, Prabowo mengajak peserta mengheningkan cipta sekaligus mendoakan korban bencana di berbagai wilayah Indonesia.

Tabooo.id: Jakarta – Upacara Detik-Detik Proklamasi HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Senin (17/8/2026), sejenak berhenti dari suasana perayaan. Ketika Presiden Prabowo Subianto memimpin prosesi mengheningkan cipta, ia tidak hanya mengajak peserta mengenang para pahlawan yang gugur demi kemerdekaan, tetapi juga mengarahkan doa kepada masyarakat yang sedang menghadapi bencana.

Prabowo menyampaikan ajakan itu sebelum prosesi mengheningkan cipta dimulai. Ia meminta seluruh peserta upacara mengenang jasa para pahlawan sekaligus mendoakan masyarakat terdampak bencana di sejumlah wilayah Indonesia.

“Saudara-saudara sekalian, marilah kita mengheningkan cipta untuk mengenang arwah dan jasa para pahlawan kemerdekaan bangsa yang telah berkorban jiwa dan raga untuk kemerdekaan dan kehormatan bangsa Indonesia,” kata Prabowo.

Setelah itu, Prabowo memperluas makna doa tersebut kepada masyarakat yang tengah menghadapi musibah.

“Serta mendoakan saudara-saudara kita yang terdampak bencana alam di Sumatera, Nusa Tenggara Timur, dan di wilayah-wilayah Indonesia lainnya. Mengheningkan cipta, mulai,” ujarnya.

Ini Belum Selesai

11 Desa, 21.171 Jiwa, Bantuan Terbatas: Camat Manggarai Protes

Pawai Pembangunan Solo Digelar, Lingkungan Jadi Pesan Utama

Lagu Mengheningkan Cipta kemudian berkumandang. Para peserta menundukkan kepala, termasuk Prabowo dan jajaran pejabat negara yang mengikuti upacara di Istana Merdeka.

Sesaat, halaman Istana yang menjadi pusat perayaan kemerdekaan itu berubah menjadi ruang refleksi. Di tengah peringatan 81 tahun Indonesia merdeka, perhatian negara ikut diarahkan kepada warga yang sedang berduka.

Ketika Perayaan Kemerdekaan Bertemu Duka Bencana

Pernyataan Prabowo tidak muncul tanpa konteks.

Sehari sebelumnya, gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8/2026) dini hari. Hingga Minggu (16/8/2026) sore, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 53 orang meninggal dunia dan 153 lainnya mengalami luka-luka.

Angka tersebut menempatkan peringatan kemerdekaan tahun ini dalam suasana yang berbeda.

Di satu sisi, negara memperingati hari lahirnya kemerdekaan dengan upacara kenegaraan. Di sisi lain, sebagian warga justru menghadapi kehilangan rumah, anggota keluarga, serta rasa aman setelah bencana mengguncang wilayah mereka.

Karena itu, ketika Prabowo mengajak peserta upacara mendoakan korban bencana, momen tersebut membawa pesan yang lebih luas daripada sekadar rangkaian protokol upacara.

Kemerdekaan tidak hanya berbicara tentang sejarah masa lalu.

Ia juga menyentuh bagaimana negara hadir ketika warganya menghadapi keadaan paling sulit.

Pemerintah Diminta Turun ke Lapangan

Sebelumnya, Prabowo telah meminta jajaran pemerintah turun langsung menangani dampak gempa di NTT.

Dalam pernyataan yang ia unggah pada Minggu (16/8/2026), Prabowo menyebut sejumlah kementerian dan lembaga yang ia minta hadir di lapangan. Mereka antara lain Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pekerjaan Umum, BNPB, Basarnas, Bulog, PLN, Pertamina, dan Telkom.

“Saya juga telah meminta jajaran terkait (Menko PMK, Mendagri, Menteri PU, BNPB, Basarnas, beserta tim Bulog, PLN, Pertamina, dan Telkom) untuk hadir langsung di lapangan,” kata Prabowo.

Ia menegaskan keselamatan warga dan pemenuhan kebutuhan dasar menjadi prioritas pemerintah dalam penanganan bencana.

Pemerintah, menurut Prabowo, akan terus berupaya memulihkan kondisi wilayah terdampak.

Ia juga menyampaikan duka cita kepada masyarakat NTT yang menjadi korban gempa.

“Hati dan doa kami bersama saudara-saudara kita di NTT, yang sedang berduka akibat gempa bumi,” tulis Prabowo.

Doa Setelah Mengheningkan Cipta

Setelah prosesi mengheningkan cipta selesai, rangkaian upacara berlanjut dengan pembacaan doa oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Urutan tersebut membuat suasana peringatan kemerdekaan terasa lebih reflektif. Peserta tidak hanya mengingat mereka yang telah berjuang merebut kemerdekaan, tetapi juga mengarahkan perhatian kepada masyarakat yang menghadapi bencana pada masa kini.

Di sinilah peringatan 17 Agustus menemukan sisi lain yang sering luput dari kemeriahan.

Kemerdekaan memang layak dirayakan. Namun, pada saat yang sama, negara juga memiliki tanggung jawab untuk melihat mereka yang belum dapat merasakan hari kemerdekaan dengan tenang.

Bukan Sekadar Momen Mengheningkan Cipta

Pemandangan peserta upacara menundukkan kepala mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun, pesan yang muncul dari momen tersebut jauh lebih panjang.

Prabowo menghubungkan dua kelompok dalam satu doa: para pahlawan yang telah gugur dan masyarakat yang sedang menghadapi bencana.

Yang pertama mewakili masa lalu Indonesia.

Yang kedua menunjukkan persoalan Indonesia hari ini.

Keduanya bertemu dalam satu momen ketika seluruh peserta upacara berhenti sejenak dari perayaan.

Di situlah kemerdekaan menemukan makna yang lebih konkret negara tidak hanya mengingat mereka yang telah berkorban untuk Indonesia, tetapi juga harus hadir bagi mereka yang membutuhkan pertolongan Indonesia hari ini.

Gempa NTT menjadi pengingat bahwa di balik perayaan kemerdekaan, masih ada warga yang berjuang memulihkan kehidupan mereka. Bagi mereka, kemerdekaan tidak cukup hadir melalui upacara, pidato, atau simbol.

Kemerdekaan harus terasa melalui keselamatan, bantuan, kebutuhan dasar, dan kehadiran negara ketika bencana datang.

Ini bukan sekadar doa di tengah upacara. Ini menjadi pengingat bahwa makna kemerdekaan selalu diuji ketika warga negara menghadapi krisis.

Pada 17 Agustus, Merah Putih berkibar di Istana Merdeka.

Namun pada saat yang sama, negara juga diingatkan bahwa di tempat lain, sebagian rakyat masih berusaha bangkit dari puing-puing bencana.

Dan di antara suara penghormatan kepada para pahlawan, doa untuk mereka yang sedang berduka menjadi pesan lain dari peringatan kemerdekaan tahun ini Indonesia merdeka bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk memastikan tidak ada warganya yang merasa sendirian ketika bencana datang. @dimas

Tags: Gempa NTTHUT RI 81Korban BencanaMengheningkan CiptaPrabowo Subianto

Kamu Melewatkan Ini

11 Desa, 21.171 Jiwa, Bantuan Terbatas: Camat Manggarai Protes

11 Desa, 21.171 Jiwa, Bantuan Terbatas: Camat Manggarai Protes

by teguh
Agustus 21, 2026

Distribusi bantuan pascagempa Flores kembali menjadi sorotan. Camat Manggarai, Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Agustinus Supratman, memprotes pembagian bantuan...

Ratusan Siswa Tarakanita Ramaikan Karnaval Merdeka

Ratusan Siswa Tarakanita Ramaikan Karnaval Merdeka

by eko
Agustus 21, 2026

Ratusan siswa SD dan SMP Tarakanita Solo Baru menggelar karnaval HUT RI ke-81 dengan pakaian adat dan semangat nasionalisme. Tabooo.id:...

Korban Gempa NTT Terus Bertambah: 75 Tewas, 92 Ribu Mengungsi

Korban Gempa NTT Terus Bertambah: 75 Tewas, 92 Ribu Mengungsi

by eko
Agustus 21, 2026

BNPB mencatat 75 orang meninggal akibat gempa NTT. Sebanyak 907 warga luka dan 92.735 jiwa kini mengungsi. Tabooo.id: Nusa Tenggara...

Next Post
HUT RI Digelar di Manggarai, Tapi Kecamatan Fokus Tangani Gempa

HUT RI Digelar di Manggarai, Tapi Kecamatan Fokus Tangani Gempa

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id