Gempa Flores menewaskan 53 orang. Tiga rumah sakit rusak berat dan warga masih bertahan di pengungsian akibat trauma.
Tabooo.id: Flores – Gempa Flores bukan cuma meninggalkan rumah yang rusak. Hingga Minggu (16/8/2026), bencana itu telah menewaskan 53 orang.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mencatat tiga rumah sakit mengalami kerusakan berat. Kondisi ini membuat penanganan korban menghadapi persoalan baru: fasilitas kesehatan ikut terdampak.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari mengatakan sejumlah pimpinan kementerian dan lembaga telah turun ke lokasi. Pemerintah bergerak untuk mengidentifikasi kondisi lapangan dan kebutuhan warga.
“Dengan upaya ini, dukungan yang akan diberikan, seperti logistik makanan dan nonmakanan, bisa menjawab kebutuhan dasar masyarakat di lapangan,” ujar Abdul dalam konferensi pers daring, Minggu.
Korban meninggal tersebar di enam kabupaten. Manggarai mencatat 25 korban, disusul Manggarai Timur 20 orang, Sikka empat orang, Ende dua orang, serta Manggarai Barat dan Nagekeo masing-masing satu orang.
Sementara itu, BNPB belum menerima laporan orang hilang dari tujuh kabupaten terdampak. Meski begitu, Basarnas tetap menyiagakan personel untuk merespons kebutuhan pencarian dan pertolongan.
Kerusakan rumah juga terus didata. Hingga hari kedua, tercatat 154 rumah rusak berat, 49 rusak sedang, dan 38 rusak ringan. Angka tersebut masih bisa berubah seiring pemutakhiran data.
Rumah sakit ikut terpukul
Kementerian Kesehatan mencatat 21 rumah sakit terdampak gempa Flores. Sebanyak 16 rumah sakit masih beroperasi penuh, empat beroperasi sebagian, dan satu belum beroperasi.
Tiga rumah sakit mengalami kerusakan berat. Ketiganya adalah RS Ruteng di Manggarai serta RS Pratama Raja dan RS Aeramo di Nagekeo.
RS Ruteng belum beroperasi. Sementara itu, dua rumah sakit di Nagekeo masih memberikan layanan secara terbatas.
Dampaknya terasa lebih berat di Nagekeo. Tiga dari sembilan puskesmas di daerah itu belum beroperasi. Ketiganya mengalami kerusakan berat.
Kemenkes menargetkan rumah sakit terdampak kembali menjalankan layanan dasar paling lama dalam satu minggu. Prioritasnya mencakup operasi trauma, kesehatan ibu dan anak, serta hemodialisis.
Pemerintah juga mengirim satu set rumah sakit mobil beserta fasilitas ruang operasi untuk RSUD Nagekeo.
Warga belum berani pulang
Namun, ada persoalan lain yang tidak terlihat dari angka kerusakan trauma.
Pengalaman gempa dan tsunami 1992 masih membekas bagi sebagian warga. Karena itu, kembali ke rumah tidak sesederhana menunggu bangunan dinyatakan aman.
Tim gabungan menargetkan fase tanggap darurat berlangsung sekitar dua hingga tiga minggu. Setelah itu, pemerintah berharap bisa masuk ke fase transisi menuju pemulihan.
Ini bukan sekadar soal gempa. Ini soal bagaimana sebuah bencana bisa mengguncang rumah, layanan kesehatan, sekaligus rasa aman warga.
Bagi masyarakat terdampak, pemulihan bukan hanya tentang membangun kembali bangunan. Mereka juga harus kembali percaya bahwa tempat yang disebut rumah benar-benar aman untuk ditinggali.
Gempa bisa berhenti dalam hitungan detik. Memulihkan rasa aman warga bisa jauh lebih lama. @dimas








