Gempa Flores tidak pernah memberi waktu untuk bersiap. Ironisnya, kebutuhan komunikasi justru meningkat saat infrastruktur ikut goyah.
Tabooo.id – Pada Sabtu, 15/08/2026, gempa Flores berkekuatan M7,7 mengguncang wilayah Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Hingga pukul 07.00 WIB, Komdigi mencatat 200 site atau BTS mengalami gangguan di 10 kabupaten dan kota.
Bagi operator, angka tersebut berarti perangkat yang harus segera dipulihkan. Sementara bagi warga, persoalannya jauh lebih genting bagaimana menghubungi keluarga saat sinyal tiba-tiba hilang?
Pertanyaan itu membawa kita pada masalah yang lebih besar. Seberapa siap sistem komunikasi Indonesia ketika bencana justru membuat jaringan ikut tumbang?
200 BTS dan Masalah yang Lebih Besar Pasca Gempa Flores
Komdigi mencatat tiga operator seluler terdampak, yakni Telkomsel, Indosat, dan XLSmart.
Kabupaten Sikka menjadi wilayah dengan gangguan terbesar. Sebanyak 51 BTS terdampak dari 192 BTS eksisting atau mencapai 26,56 persen.
Di Ende, terdapat 31 BTS terdampak dari 118 BTS atau 26,27 persen. Sementara itu, Flores Timur mencatat 26 BTS terdampak dari 161 BTS.
Manggarai mengalami gangguan pada 22 BTS. Selain itu, dampak muncul di Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Lembata, dan Timor Tengah Utara.
Sebaran tersebut memperlihatkan bahwa gangguan tidak berhenti pada satu titik. Sebaliknya, dampak bencana mengikuti kondisi listrik, perangkat jaringan, serta jalur transmisi.
Karena itu, Komdigi menyebut kondisi jaringan masih dinamis dan terus diperbarui.
“Kondisi jaringan sangat dinamis setelah terjadi bencana. Karena itu, data terus kami perbarui berdasarkan laporan operator dan hasil pemantauan di lapangan.”
Dirjen Infrastruktur Digital Komdigi Wayan Toni Supriyanto menyampaikan pernyataan tersebut pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Dengan demikian, angka 200 belum menjadi akhir cerita. Setiap site yang berhenti beroperasi dapat mengurangi akses masyarakat terhadap komunikasi.
Listrik Menjadi Titik Rapuh
Telkom mengakui penurunan kualitas layanan di wilayah terdampak sejak 15 Agustus 2026.
EVP Telkom Regional III Rachmad Dwi Hartanto menjelaskan gangguan terjadi akibat kendala pasokan listrik dan kerusakan sejumlah perangkat setelah gempa.
Akibatnya, pemulihan layanan masih bergantung pada stabilitas listrik.
Sebagai langkah darurat, TelkomGroup mengaktifkan genset tambahan dengan kapasitas terbatas. Selain itu, tim teknis dikerahkan untuk mempercepat proses perbaikan.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa BTS tidak berdiri sendiri.
Perangkat membutuhkan listrik. Jaringan memerlukan transmisi. Di sisi lain, teknisi membutuhkan akses menuju lokasi.
Seluruh komponen itu harus bekerja bersamaan agar konektivitas tetap hidup.
Pengalaman sebelumnya memberi gambaran mengenai batas waktu tersebut. Pada 24 November 2022, Wireless Engineer Huawei Indonesia Chandra Gunawan menjelaskan daya tahan BTS saat kehilangan pasokan listrik.
“Kira-kira bertahan sekitar sampai empat jam.”
Setelah baterai cadangan habis, BTS membutuhkan genset agar tetap beroperasi. Karena itu, durasi pemadaman menjadi faktor penting dalam pemulihan komunikasi.
Satu Gangguan Bisa Menjadi Efek Domino
Gempa dapat merusak jaringan listrik. Gangguan tersebut kemudian memengaruhi operasional BTS.
Pada saat bersamaan, jalan yang rusak bisa memperlambat perjalanan teknisi. Sementara itu, kerusakan transmisi berpotensi membuat pemulihan membutuhkan waktu lebih panjang.
Alhasil, satu persoalan dapat memicu persoalan berikutnya dan Inilah efek domino infrastruktur.
Pengalaman bencana sebelumnya memperlihatkan persoalan serupa. Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria menyoroti pemulihan listrik pascabencana Aceh pada Desember 2025.
“Kendala utama bukan hanya kerusakan kabel atau gardu, tetapi akses jalan menuju lokasi infrastruktur listrik yang rusak atau tertutup.”
Konteks bencananya memang berbeda. Namun, persoalan akses memperlihatkan satu hal penting: pemulihan tidak hanya bergantung pada perangkat yang rusak.
Sebaliknya, logistik, energi, jalan, teknisi, dan koordinasi ikut menentukan kecepatannya.
Teknologi Cadangan Sudah Ada
Pemerintah sebenarnya telah memiliki jalur alternatif. Pada 04/06/2026, Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria menyebut konektivitas satelit dapat menjadi jalur komunikasi ketika jaringan terestrial mengalami gangguan.
“Ketika infrastruktur telekomunikasi terestrial mengalami gangguan, konektivitas berbasis satelit dapat menjadi jalur komunikasi yang tetap berfungsi.”
Teknologi tersebut memberi pilihan ketika jaringan utama gagal. Namun, keberadaannya belum otomatis membuat sistem menjadi tangguh.
Pertanyaan berikutnya justru lebih penting. Seberapa cepat perangkat alternatif dapat digunakan masyarakat?
Ketersediaan alat, operator, akses publik, distribusi, serta koordinasi juga menentukan efektivitasnya.
Dengan kata lain, teknologi cadangan baru berarti jika benar-benar bekerja ketika sistem utama gagal.
Saat Sinyal Hilang, Manusia Ikut Terputus
Jaringan bagi warga bukan sekadar fasilitas internet. Panggilan telepon dapat menjadi cara memastikan keluarga selamat. Sebuah pesan bisa menjadi permintaan pertolongan. Bahkan, informasi resmi dapat menentukan keputusan warga setelah bencana.
Sosiolog IPB University Dr Ivanovich Agusta pernah menjelaskan dampak gangguan komunikasi dalam konteks bencana pada Desember 2025.
“Ketika ruang-ruang itu hilang, ritme kehidupan desa terputus. Interaksi melemah, komunikasi terganggu, dan solidaritas sosial ikut teruji.”
Pernyataan tersebut memang merujuk pada bencana di wilayah berbeda. Meski begitu, gagasannya relevan untuk melihat dampak sosial gangguan komunikasi di Flores.
Sebab, yang hilang ketika jaringan terputus bukan hanya sinyal. Hubungan keluarga, koordinasi bantuan, dan akses informasi ikut dipertaruhkan.
Gempa Flores Bukan Sekadar BTS Rusak
Gempa Flores menghadirkan ujian yang lebih besar daripada angka 200 BTS.
Peristiwa ini menguji apakah sistem komunikasi mampu bertahan saat listrik terganggu, perangkat rusak, transmisi bermasalah, dan akses teknisi ikut terhambat. Karena itu, jumlah BTS bukan satu-satunya ukuran ketahanan.
Durasi backup energi juga penting. Kecepatan pemulihan tidak kalah menentukan. Bahkan, jalur komunikasi alternatif bisa menjadi penyelamat ketika sistem utama gagal.
Bencana adalah stress test bagi infrastruktur. Ia memperlihatkan kelemahan yang biasanya tersembunyi saat keadaan normal.
Ini Dampaknya Buat Kamu
Bayangkan ponsel masih memiliki baterai 80 persen. Nomor keluarga tersimpan dan pesan bantuan sudah diketik.
Lalu ikon jaringan menghilang dalam situasi biasa, kondisi tersebut mungkin hanya membuat kesal. Setelah gempa, dampaknya jauh berbeda.
Panggilan yang gagal dapat memperpanjang kecemasan. Sebaliknya, pesan yang tidak terkirim bisa membuat keluarga kehilangan kabar.
Karena itu, komunikasi dalam situasi bencana bukan sekadar layanan tambahan. Komunikasi adalah bagian dari infrastruktur keselamatan.
Jangan Hanya Hitung Menara
Gempa Flores meninggalkan pekerjaan rumah yang lebih besar daripada 200 BTS terdampak.
Ada persoalan listrik. Ada masalah akses. Selain itu, terdapat kebutuhan transmisi dan sistem komunikasi alternatif.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan berapa banyak menara yang Indonesia miliki.
Pertanyaannya adalah berapa lama komunikasi tetap hidup ketika semuanya mulai runtuh.
Jika jawabannya belum jelas, pembangunan infrastruktur tidak boleh berhenti pada penambahan BTS.
Indonesia membutuhkan sistem yang mampu bertahan ketika kondisi normal berubah menjadi keadaan darurat.
Sebab konektivitas yang hebat bukan hanya soal bisa terhubung. Ketangguhan diuji saat hampir semua hal mulai terputus.
Kita sering bangga karena semakin terkoneksi. Namun, bencana justru menguji apakah koneksi itu benar-benar tangguh.








