Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Saat Sinyal Ikut Tumbang: Gempa Flores Menguji Ketahanan Komunikasi

by teguh
Agustus 16, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Gempa Flores tidak pernah memberi waktu untuk bersiap. Ironisnya, kebutuhan komunikasi justru meningkat saat infrastruktur ikut goyah.

Tabooo.id – Pada Sabtu, 15/08/2026, gempa Flores berkekuatan M7,7 mengguncang wilayah Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Hingga pukul 07.00 WIB, Komdigi mencatat 200 site atau BTS mengalami gangguan di 10 kabupaten dan kota.

Bagi operator, angka tersebut berarti perangkat yang harus segera dipulihkan. Sementara bagi warga, persoalannya jauh lebih genting bagaimana menghubungi keluarga saat sinyal tiba-tiba hilang?

Pertanyaan itu membawa kita pada masalah yang lebih besar. Seberapa siap sistem komunikasi Indonesia ketika bencana justru membuat jaringan ikut tumbang?

200 BTS dan Masalah yang Lebih Besar Pasca Gempa Flores

Komdigi mencatat tiga operator seluler terdampak, yakni Telkomsel, Indosat, dan XLSmart.

Kabupaten Sikka menjadi wilayah dengan gangguan terbesar. Sebanyak 51 BTS terdampak dari 192 BTS eksisting atau mencapai 26,56 persen.

Ini Belum Selesai

AMPB Tinggalkan DPR, Mengapa Warga Pati Memilih Mengalah?

Apa Itu Masyarakat Prismatik dan Mengapa Masih Relevan?

Di Ende, terdapat 31 BTS terdampak dari 118 BTS atau 26,27 persen. Sementara itu, Flores Timur mencatat 26 BTS terdampak dari 161 BTS.

Manggarai mengalami gangguan pada 22 BTS. Selain itu, dampak muncul di Manggarai Barat, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Lembata, dan Timor Tengah Utara.

Sebaran tersebut memperlihatkan bahwa gangguan tidak berhenti pada satu titik. Sebaliknya, dampak bencana mengikuti kondisi listrik, perangkat jaringan, serta jalur transmisi.

Karena itu, Komdigi menyebut kondisi jaringan masih dinamis dan terus diperbarui.

“Kondisi jaringan sangat dinamis setelah terjadi bencana. Karena itu, data terus kami perbarui berdasarkan laporan operator dan hasil pemantauan di lapangan.”

Dirjen Infrastruktur Digital Komdigi Wayan Toni Supriyanto menyampaikan pernyataan tersebut pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Dengan demikian, angka 200 belum menjadi akhir cerita. Setiap site yang berhenti beroperasi dapat mengurangi akses masyarakat terhadap komunikasi.

Listrik Menjadi Titik Rapuh

Telkom mengakui penurunan kualitas layanan di wilayah terdampak sejak 15 Agustus 2026.

EVP Telkom Regional III Rachmad Dwi Hartanto menjelaskan gangguan terjadi akibat kendala pasokan listrik dan kerusakan sejumlah perangkat setelah gempa.

Akibatnya, pemulihan layanan masih bergantung pada stabilitas listrik.

Sebagai langkah darurat, TelkomGroup mengaktifkan genset tambahan dengan kapasitas terbatas. Selain itu, tim teknis dikerahkan untuk mempercepat proses perbaikan.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa BTS tidak berdiri sendiri.

Perangkat membutuhkan listrik. Jaringan memerlukan transmisi. Di sisi lain, teknisi membutuhkan akses menuju lokasi.

Seluruh komponen itu harus bekerja bersamaan agar konektivitas tetap hidup.

Pengalaman sebelumnya memberi gambaran mengenai batas waktu tersebut. Pada 24 November 2022, Wireless Engineer Huawei Indonesia Chandra Gunawan menjelaskan daya tahan BTS saat kehilangan pasokan listrik.

“Kira-kira bertahan sekitar sampai empat jam.”

Setelah baterai cadangan habis, BTS membutuhkan genset agar tetap beroperasi. Karena itu, durasi pemadaman menjadi faktor penting dalam pemulihan komunikasi.

Satu Gangguan Bisa Menjadi Efek Domino

Gempa dapat merusak jaringan listrik. Gangguan tersebut kemudian memengaruhi operasional BTS.

Pada saat bersamaan, jalan yang rusak bisa memperlambat perjalanan teknisi. Sementara itu, kerusakan transmisi berpotensi membuat pemulihan membutuhkan waktu lebih panjang.

Alhasil, satu persoalan dapat memicu persoalan berikutnya dan Inilah efek domino infrastruktur.

Pengalaman bencana sebelumnya memperlihatkan persoalan serupa. Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria menyoroti pemulihan listrik pascabencana Aceh pada Desember 2025.

“Kendala utama bukan hanya kerusakan kabel atau gardu, tetapi akses jalan menuju lokasi infrastruktur listrik yang rusak atau tertutup.”

Konteks bencananya memang berbeda. Namun, persoalan akses memperlihatkan satu hal penting: pemulihan tidak hanya bergantung pada perangkat yang rusak.

Sebaliknya, logistik, energi, jalan, teknisi, dan koordinasi ikut menentukan kecepatannya.

Teknologi Cadangan Sudah Ada

Pemerintah sebenarnya telah memiliki jalur alternatif. Pada 04/06/2026, Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria menyebut konektivitas satelit dapat menjadi jalur komunikasi ketika jaringan terestrial mengalami gangguan.

“Ketika infrastruktur telekomunikasi terestrial mengalami gangguan, konektivitas berbasis satelit dapat menjadi jalur komunikasi yang tetap berfungsi.”

Teknologi tersebut memberi pilihan ketika jaringan utama gagal. Namun, keberadaannya belum otomatis membuat sistem menjadi tangguh.

Pertanyaan berikutnya justru lebih penting. Seberapa cepat perangkat alternatif dapat digunakan masyarakat?

Ketersediaan alat, operator, akses publik, distribusi, serta koordinasi juga menentukan efektivitasnya.

Dengan kata lain, teknologi cadangan baru berarti jika benar-benar bekerja ketika sistem utama gagal.

Saat Sinyal Hilang, Manusia Ikut Terputus

Jaringan bagi warga bukan sekadar fasilitas internet. Panggilan telepon dapat menjadi cara memastikan keluarga selamat. Sebuah pesan bisa menjadi permintaan pertolongan. Bahkan, informasi resmi dapat menentukan keputusan warga setelah bencana.

Sosiolog IPB University Dr Ivanovich Agusta pernah menjelaskan dampak gangguan komunikasi dalam konteks bencana pada Desember 2025.

“Ketika ruang-ruang itu hilang, ritme kehidupan desa terputus. Interaksi melemah, komunikasi terganggu, dan solidaritas sosial ikut teruji.”

Pernyataan tersebut memang merujuk pada bencana di wilayah berbeda. Meski begitu, gagasannya relevan untuk melihat dampak sosial gangguan komunikasi di Flores.

Sebab, yang hilang ketika jaringan terputus bukan hanya sinyal. Hubungan keluarga, koordinasi bantuan, dan akses informasi ikut dipertaruhkan.

Gempa Flores Bukan Sekadar BTS Rusak

Gempa Flores menghadirkan ujian yang lebih besar daripada angka 200 BTS.

Peristiwa ini menguji apakah sistem komunikasi mampu bertahan saat listrik terganggu, perangkat rusak, transmisi bermasalah, dan akses teknisi ikut terhambat. Karena itu, jumlah BTS bukan satu-satunya ukuran ketahanan.

Durasi backup energi juga penting. Kecepatan pemulihan tidak kalah menentukan. Bahkan, jalur komunikasi alternatif bisa menjadi penyelamat ketika sistem utama gagal.

Bencana adalah stress test bagi infrastruktur. Ia memperlihatkan kelemahan yang biasanya tersembunyi saat keadaan normal.

Ini Dampaknya Buat Kamu

Bayangkan ponsel masih memiliki baterai 80 persen. Nomor keluarga tersimpan dan pesan bantuan sudah diketik.

Lalu ikon jaringan menghilang dalam situasi biasa, kondisi tersebut mungkin hanya membuat kesal. Setelah gempa, dampaknya jauh berbeda.

Panggilan yang gagal dapat memperpanjang kecemasan. Sebaliknya, pesan yang tidak terkirim bisa membuat keluarga kehilangan kabar.

Karena itu, komunikasi dalam situasi bencana bukan sekadar layanan tambahan. Komunikasi adalah bagian dari infrastruktur keselamatan.

Jangan Hanya Hitung Menara

Gempa Flores meninggalkan pekerjaan rumah yang lebih besar daripada 200 BTS terdampak.

Ada persoalan listrik. Ada masalah akses. Selain itu, terdapat kebutuhan transmisi dan sistem komunikasi alternatif.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan berapa banyak menara yang Indonesia miliki.

Pertanyaannya adalah berapa lama komunikasi tetap hidup ketika semuanya mulai runtuh.

Jika jawabannya belum jelas, pembangunan infrastruktur tidak boleh berhenti pada penambahan BTS.

Indonesia membutuhkan sistem yang mampu bertahan ketika kondisi normal berubah menjadi keadaan darurat.

Sebab konektivitas yang hebat bukan hanya soal bisa terhubung. Ketangguhan diuji saat hampir semua hal mulai terputus.

Kita sering bangga karena semakin terkoneksi. Namun, bencana justru menguji apakah koneksi itu benar-benar tangguh.

Tags: BTSGempa FloresInfrastruktur BencanaKomdigiKomunikasi DaruratMitigasi BencanaNTTTelekomunikasi

Kamu Melewatkan Ini

Relawan Gugur Antar Bantuan Gempa NTT, Siapa Melindungi Mereka?

Relawan Gugur Antar Bantuan Gempa NTT, Siapa Melindungi Mereka?

by dimas
Agustus 22, 2026

Relawan Ahmad Zaki gugur saat menyalurkan bantuan gempa NTT. Kematian ini membuka pertanyaan tentang keselamatan relawan di garis depan bencana....

11 Desa, 21.171 Jiwa, Bantuan Terbatas: Camat Manggarai Protes

11 Desa, 21.171 Jiwa, Bantuan Terbatas: Camat Manggarai Protes

by teguh
Agustus 21, 2026

Distribusi bantuan pascagempa Flores kembali menjadi sorotan. Camat Manggarai, Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Agustinus Supratman, memprotes pembagian bantuan...

Korban Gempa NTT Terus Bertambah: 75 Tewas, 92 Ribu Mengungsi

Korban Gempa NTT Terus Bertambah: 75 Tewas, 92 Ribu Mengungsi

by eko
Agustus 21, 2026

BNPB mencatat 75 orang meninggal akibat gempa NTT. Sebanyak 907 warga luka dan 92.735 jiwa kini mengungsi. Tabooo.id: Nusa Tenggara...

Next Post
Kupas Bawang Rp700 Ribu? Buruh Pasar Legi Solo Kami Cuma Rp2.000

Miris! Ternyata Sebesar Ini Upah Buruh Kupas Bawang di Pasar Legi Solo

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id