Tabooo.id: Deep – Di Pendhapa Ageng Kraton Kasunanan Surakarta, cahaya sore jatuh miring, memantul di lantai marmer tua. Aroma kayu jati dan dupa tipis menyelinap di antara percakapan para tamu. Hari itu, Selasa (18/11/2025), Kraton membuka bab baru.
Di tengah polemik dualisme kepemimpinan, seorang raja Gen Z berdiri tanpa panggung megah, tanpa gamelan, tanpa ritual panjang. Ia hanya menggelar diskusi. Namun di sanalah perubahan mulai terasa.
Pakoe Boewono XIV memilih langkah sunyi menyelamatkan manuskrip kuno dan ingatan, sesuatu yang tak tersentuh politik internal kraton.
Kraton di Gelombang Zaman
Dalam sejarah panjang Kraton Surakarta, gelar raja selalu identik dengan legitimasi. Kali ini, persoalan itu sering tenggelam di narasi konflik. Banyak pihak sibuk memperdebatkan siapa yang sah memimpin, sementara substansi kebudayaan berjalan pincang.
Pakoe Boewono XIV menempatkan energinya pada medan lain pengetahuan.
“Manuskrip adalah warisan cara berpikir. Kalau kita tidak merawatnya, kita kehilangan cara memahami diri sendiri,” ujarnya saat menerima akademisi Unwahas Semarang dan tamu Korea Selatan.
Di meja kayu panjang, diskusi mengalir tentang adat, hukum, diplomasi budaya, dan manuskrip yang rapuh. Kraton tiba-tiba tampak sebagai ruang belajar generasi baru
Raja Gen Z: Menimbang Tradisi di Era Digital
Menjadi raja di era digital bukan peran sederhana. Pakoe Boewono XIV mewarisi tradisi panjang, tetapi hidup di zaman cepat orang menilai pemimpin dari kecepatan inovasi, bukan umur dinasti.
Ia menjelaskan bahwa digitalisasi manuskrip bukan sekadar memindai halaman tua. Ia ingin menciptakan jembatan karakter bagi generasi muda. Mereka bisa belajar sejarah dari cerita yang hidup, bukan sekadar hafalan nama raja.
“Pelestarian itu bukan soal memaksa. Itu soal menumbuhkan cinta.”
Di luar kraton, budaya sering dijual sebagai proyek, bukan proses pengasuhan. Di ruangan hening itu, kata-kata Pakoe Boewono XIV menjadi kritik halus terhadap sistem yang lebih luas.
Percakapan yang Mengubah Pandangan
Hetiyasari dari Unwahas mengagumi wawasan Pakoe Boewono XIV. Tamu Korea Selatan tertarik bekerja sama dalam diplomasi budaya. Mereka melihat keraton sebagai ruang masa depan, bukan hanya simbol masa lalu.
Pakoe Boewono XIV membuka keraton bagi generasi muda bukan hanya untuk belajar tari atau gamelan, tetapi juga menjadi dokumentator, ahli arsip digital, sinematografer, programmer, dan peneliti sejarah. Ia memahami bahwa kuasa kini berada di server, bukan hanya singgasana.
Politik Sunyi: Menjaga Ingatan
Konflik dualisme membayangi kraton, menghambat agenda kebudayaan. Banyak pihak sibuk memperebutkan legitimasi simbolik, sementara manuskrip tua tersisihkan. Beberapa naskah rapuh, tinta memudar, halaman retak, bahkan hilang.
Digitalisasi menjadi pernyataan politik paling senyap Pakoe Boewono XIV legitimasi tertinggi bukan siapa memegang stempel, tetapi siapa menjaga warisan pengetahuan.
Masa Depan Keraton: Dari Naskah ke Generasi
Saat tamu berpamitan, matahari mulai turun. Pakoe Boewono XIV berjalan pelan ke ruang penyimpanan manuskrip. Ia berhenti di lemari kaca, menatap naskah tua yang mengeriput seperti kulit tua yang menyimpan terlalu banyak cerita.
“Kalau ini hilang, kita kehilangan cara memahami siapa kita.”
Beban itu tidak bisa dibagi. Tanggung jawab jatuh pada seseorang yang tidak mencari takhta, tetapi diberi tugas menjaga akar. Digitalisasi, diplomasi budaya, dan pembukaan ruang bagi anak muda perlahan mengubah arah sejarah kraton
Pelajaran dari Raja Muda
Langkah Pakoe Boewono XIV seperti lilin kecil di ruangan gelap tidak mengusir semua gelap, tetapi cukup untuk membuat orang berhenti dan melihat kembali. Pelestarian manuskrip bukan sekadar teks tua, tetapi cara bangsa membaca dirinya sendiri.
Generasi yang sering dianggap jauh dari tradisi kini menyalakan kembali ingatan. Seperti naskah kuno yang dipindai satu per satu, kita belajar membaca ulang masa lalu pelan, teliti, sadar bahwa masa depan dibangun oleh mereka yang menjaga apa yang mudah hilang.
Apakah kita siap mengikuti langkah seorang raja muda yang lebih memilih menyelamatkan ingatan daripada membangun citra? @dimas




