Senin, Agustus 24, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Merah Putih di Tengah Asap, Potret Kemerdekaan yang Belum Utuh

by dimas
Agustus 13, 2026
in Life
A A
Home Life
Share on Facebook
Share on Twitter
Merah Putih berkibar di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Palangka Raya, menggambarkan kemerdekaan yang belum sepenuhnya terasa bagi warga.

Tabooo.id – Asap pekat masih menyelimuti Jalan Petuk Katimpun, Kelurahan Petuk Katimpun, Kecamatan Jekan Raya, Kota Palangka Raya, Kamis (13/8/2026) petang. Di tengah lahan gambut yang terbakar, Rijalul Muttaqin, 18 tahun, berjalan membawa bendera Merah Putih yang diikat pada sebatang kayu.

Pemuda yang baru lulus sekolah itu kemudian berhenti di depan pohon yang hampir menjadi abu. Ia menaiki batang kayu tersebut, mengangkat bendera tinggi-tinggi, lalu mengibarkannya di antara asap yang terus bergerak.

Aksi itu terjadi beberapa hari sebelum Indonesia memperingati HUT ke-81 kemerdekaan. Ketika sebagian masyarakat mulai memasang bendera untuk menyambut 17 Agustus, Rijalul justru mengibarkan Merah Putih di lokasi yang masih berhadapan dengan api.

Bagi Rijalul, bendera itu membawa pesan sederhana. Palangka Raya belum benar-benar lepas dari persoalan kabut asap.

“Dalam rangka kan kita sudah mau memperingati hari kemerdekaan. Terus tuh masa kabut asap nih, mudahan lekas pulih saja Palangka Raya nih,” ujar Rijalul.

Ini Belum Selesai

Lewat Karnaval, SD Tarakanita Tumbuhkan Kreativitas Anak

Ketika Jadi Camat Berarti Harus Menjawab 21.171 Orang Sekaligus

Kalimat tersebut terdengar sederhana. Namun, konteksnya tidak sederhana. Di bawah bendera yang berkibar itu terdapat tanah gambut yang masih menyimpan bara, sementara udara di sekitarnya membawa asap yang telah mengganggu kehidupan masyarakat selama sekitar satu bulan.

Kemerdekaan yang Berhadapan dengan Asap

Bagi banyak orang, kemerdekaan identik dengan upacara, bendera, lagu kebangsaan, dan perayaan. Namun, bagi masyarakat yang hidup di tengah karhutla, maknanya terasa lebih dekat dengan kebutuhan dasar: bisa beraktivitas tanpa terus-menerus berhadapan dengan udara yang mengganggu pernapasan.

Karhutla yang melanda Palangka Raya dan sejumlah wilayah Kalimantan Tengah telah berlangsung sekitar satu bulan. Kondisi tersebut tidak hanya mengubah lanskap, tetapi juga mengganggu aktivitas warga dan meningkatkan ancaman gangguan saluran pernapasan.

Kelompok yang memiliki riwayat ISPA atau asma menghadapi risiko yang lebih berat. Rijalul melihat kondisi itu selama berada di lapangan.

“Sangat mengganggu ini asapnya. Olehnya kasihan juga yang punya penyakit ISPA segala, segala penyakit asma,” tuturnya.

Karena itu, persoalan karhutla tidak berhenti pada pertanyaan tentang bagaimana api dipadamkan. Asap membawa persoalan lain yang masuk ke ruang hidup warga, sementara orang-orang yang bertugas menghentikan kebakaran justru harus bekerja di lingkungan yang sama.

Rijalul sendiri merasakan dampaknya. Ia sempat mengalami gangguan pernapasan dan harus berhenti turun ke lapangan selama sekitar satu minggu.

“Saya kemarin sudah sakit juga, paru-paru. Semingguan enggak ke lapangan, suntik segala, infus segala,” katanya.

Pengalaman tersebut membuat persoalan karhutla menjadi lebih personal. Api tidak lagi hanya terlihat sebagai titik merah di lahan kosong. Dampaknya hadir melalui tubuh manusia yang terpapar asap setiap hari.

Api yang Tidak Selesai Saat Nyala Padam

Pemadaman di lahan gambut memiliki tantangan tersendiri karena api dapat bertahan di bawah permukaan. Kondisi tersebut membuat titik yang terlihat aman belum tentu benar-benar terbebas dari bara.

Rijalul mengatakan para relawan tetap melakukan piket hingga malam untuk mengantisipasi munculnya api kembali. Mereka bahkan dapat bertugas sampai sekitar pukul 23.00.

“Sini biasanya piket malam. Ada sampai maksimal jam 11 malam. Ini masih aktif Bang, soalnya gambut bawahnya,” jelasnya.

Selain karakter tanah, persoalan air juga menjadi kendala utama. Relawan tidak selalu menemukan sumber air di sekitar titik kebakaran. Akibatnya, mereka harus membuat sumber bor darurat agar pemadaman tetap berjalan.

Amat, relawan berusia 24 tahun, menceritakan pengalaman timnya ketika bertugas selama empat hari berturut-turut di kawasan Jalan Rafflesia, Km 11.

“Kalau pemadaman itu yang utama kendalanya air. Soalnya kalau di tengah-tengah kan tidak ada air. Jadi kami harus bikin sumber bor darurat,” ujarnya.

Menurut Amat, tim menancapkan pipa ke dalam tanah hingga enam sampai delapan batang untuk mendapatkan sumber air.

Situasi itu menunjukkan bahwa pekerjaan pemadaman membutuhkan lebih dari sekadar keberanian. Relawan harus mencari air, menembus medan sulit, menjaga stamina, sekaligus memastikan bara yang berada di bawah gambut tidak kembali menjadi api.

Ketika Penjaga Api Ikut Menjadi Korban

Dalam pemadaman sehari-hari, sedikitnya 20 personel gabungan dari berbagai unit BPK dan MPA diterjunkan ke titik api. Mereka bekerja dalam kondisi udara yang penuh asap dan medan yang menguras tenaga.

Namun, tubuh manusia memiliki batas.

Beberapa anggota BPK sempat pingsan ketika berada di lapangan. Rijalul mengatakan dua rekannya mengalami sesak napas dan harus mendapatkan perawatan medis.

Mereka menjalani infus dan pengobatan sebelum akhirnya menghentikan aktivitas pemadaman selama sekitar satu minggu untuk memulihkan kondisi.

Pengalaman tersebut tidak hanya dialami satu tim. Amat mengatakan tiga dari enam anggota tim lapangan BPK Borneo pernah mengalami gangguan pernapasan saat menjalankan tugas.

“Kekurangan kami di sini terutama masalah kesehatan, dari pernapasan seperti batuk dan sesak. Tim kami ada enam orang, dan tiga di antaranya sempat mengalami gangguan pernapasan hingga ada yang pingsan di lapangan,” ungkap Amat.

Dengan kata lain, separuh anggota tim yang ia sebut pernah mengalami gangguan kesehatan akibat kondisi lapangan.

Ancaman juga datang dari lingkungan sekitar. Lahan kosong yang terbakar menjadi ruang berisiko bagi relawan karena mereka harus mewaspadai tawon, ular, hingga kelabang.

Salah seorang anggota tim bahkan sempat digigit kelabang hingga kakinya membengkak. Kondisi tersebut membuatnya belum dapat kembali bertugas.

Maka, risiko yang dihadapi relawan tidak hanya datang dari kobaran api. Asap, panas, keterbatasan air, medan gambut, kelelahan, dan satwa liar membentuk rangkaian bahaya yang harus mereka hadapi secara bersamaan.

Rijalul dan Wajah Lain dari Karhutla

Rijalul baru berusia 18 tahun. Namun, selama sekitar satu bulan terakhir, ia telah melihat langsung bagaimana karhutla mengubah ruang hidup masyarakat.

Ia ikut memadamkan api, berjaga hingga malam, merasakan gangguan pernapasan, lalu kembali ke lapangan setelah kondisi tubuhnya membaik.

Kisah tersebut memperlihatkan sisi karhutla yang sering tenggelam di balik gambar asap dan laporan titik api. Ketika publik melihat kebakaran dari kejauhan, para relawan justru harus bergerak mendekati sumber bahaya agar api tidak semakin meluas.

Mereka bekerja melalui BPK swadaya dan MPA. Sebagian tenaga yang digunakan berasal dari masyarakat sendiri. Karena itu, peran mereka tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga keselamatan lingkungan sekitar.

Namun, keberanian tidak membuat mereka kebal terhadap dampak bencana. Mereka tetap dapat sakit, pingsan, mengalami gangguan pernapasan, bahkan mengalami cedera akibat kondisi lingkungan.

Di titik inilah persoalan karhutla berubah menjadi persoalan kemanusiaan. Ketika masyarakat membutuhkan seseorang untuk memadamkan api, orang tersebut juga membutuhkan perlindungan agar tidak menjadi korban berikutnya.

Bendera yang Mengubah Cara Melihat Kemerdekaan

Merah Putih yang dibawa Rijalul ke tengah lahan terbakar menjadi simbol yang sulit diabaikan.

Bendera itu berkibar di antara asap. Di bawahnya, tanah gambut masih menyimpan bara. Sementara itu, para relawan terus bekerja agar api tidak kembali muncul.

Pemandangan tersebut mempertemukan dua situasi yang biasanya dipisahkan. Ada perayaan kemerdekaan yang semakin dekat, tetapi ada pula masyarakat yang masih berhadapan dengan persoalan lingkungan yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

Karena itu, kemerdekaan dapat dilihat dari sudut yang lebih sederhana. Bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang kemampuan masyarakat menikmati ruang hidup yang aman dan layak.

Udara yang dapat dihirup dengan tenang merupakan bagian dari kualitas hidup. Begitu pula lingkungan yang tidak terus-menerus berubah menjadi ruang darurat dan relawan yang dapat menjalankan tugas tanpa harus mengorbankan kesehatan.

Dari sudut pandang tersebut, karhutla bukan sekadar api yang harus dipadamkan. Dampaknya menyentuh kesehatan warga, menguras tenaga relawan, mengganggu aktivitas, dan memperlihatkan betapa besar harga yang harus dibayar ketika lingkungan terbakar.

Ini bukan sekadar cerita tentang kebakaran. Ini cerita tentang siapa yang menanggung akibat ketika lingkungan kehilangan daya dukungnya.

Warga menghirup asapnya. Relawan masuk ke dalam kepungannya. Orang dengan gangguan pernapasan menghadapi risiko lebih besar, sedangkan para pemadam harus terus bekerja meski tubuh mereka sendiri mulai memberi batas.

Rijalul tidak menyampaikan pesan itu melalui pidato panjang. Ia memilih cara yang lebih sederhana: membawa Merah Putih ke tempat yang mungkin jarang dipandang sebagai ruang perayaan.

Bendera tersebut akhirnya tidak hanya berbicara tentang kemerdekaan. Ia juga memperlihatkan jarak antara simbol kemerdekaan dan pengalaman sehari-hari masyarakat yang masih berhadapan dengan bencana lingkungan.

Kemerdekaan yang Harus Terasa Sampai ke Udara

Beberapa hari lagi, Merah Putih akan berkibar di halaman rumah, sekolah, kantor, jalan kampung, dan berbagai ruang publik. Perayaan akan berlangsung seperti biasa.

Namun, di Jalan Petuk Katimpun, sebuah bendera telah lebih dulu berkibar di tempat yang tidak biasa.

Rijalul mengangkatnya di tengah asap, sementara para relawan masih berjaga menghadapi api yang belum sepenuhnya selesai. Adegan tersebut menjadi pengingat bahwa perayaan kemerdekaan juga dapat menjadi kesempatan untuk melihat persoalan yang masih dihadapi masyarakat.

Sebab, kemerdekaan tidak berhenti pada simbol. Ia seharusnya hadir dalam bentuk lingkungan yang aman, kesehatan yang terlindungi, serta kehidupan yang memungkinkan masyarakat menjalani hari tanpa ancaman yang terus berulang.

Rijalul mungkin hanya seorang relawan berusia 18 tahun. Namun, sore itu ia membawa pesan yang jauh lebih besar daripada ukuran bendera yang dikibarkannya.

Merah Putih tetap berkibar di tengah asap. Pertanyaannya sekarang bukan apakah Indonesia merdeka, melainkan apakah kemerdekaan itu sudah cukup terasa bagi mereka yang masih harus berjuang agar bisa bernapas lega. @dimas

Tags: Kabut AsapKarhutlaKemerdekaan IndonesiaPalangka RayaRelawan Pemadam

Kamu Melewatkan Ini

Karhutla Terus Berulang, Mengapa Negara Tak Belajar?

Karhutla Terus Berulang, Mengapa Negara Tak Belajar?

by dimas
Agustus 23, 2026

Karhutla terus berulang setiap musim kemarau. Mengapa negara masih gagal mencegah risiko, meski data, peringatan dini, dan teknologi sudah tersedia?...

Karhutla Kalimantan Meluas, Mengapa Negara Kembali Terlambat?

Karhutla Kalimantan Meluas, Mengapa Negara Kembali Terlambat?

by dimas
Agustus 22, 2026

Karhutla Kalimantan meluas hingga berdampak ke Malaysia dan Singapura. Ribuan titik panas memicu kabut asap, mengganggu sekolah, kesehatan, dan aktivitas...

Karhutla Kalimantan Menggila, Asap Ancam Langit dan Paru-paru

Karhutla Kalimantan Menggila, Asap Ancam Langit dan Paru-paru

by dimas
Agustus 21, 2026

Karhutla Kalimantan meluas dengan 1.487 titik panas. Asap mulai mengancam penerbangan, kesehatan warga, dan memperlihatkan lemahnya pencegahan. Tabooo.id - Api...

Next Post
Pricing TPL: Barangnya Sama, Kodenya Beda, Pajaknya Ikut Mengecil?

Pricing TPL: Barangnya Sama, Kodenya Beda, Pajaknya Ikut Mengecil?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id