Pokdarwis dan lansia Joyotakan dilibatkan untuk membuka asa regenerasi pembuat canting dan menjaga warisan budaya tetap hidup.
Tabooo.id – Sebuah keterampilan bisa hilang bukan karena orang berhenti membutuhkannya. Kadang, tradisi hanya kehilangan generasi yang mau meneruskannya.
Persoalan itu kini muncul di Joyotakan, Surakarta. Pemerintah Kota Surakarta melalui Kelurahan Joyotakan menyiapkan pelibatan Pokdarwis, lansia, dan mahasiswa untuk menjaga keberlanjutan kerajinan canting.
Kini, Purwanto membuka kesempatan bagi generasi baru yang ingin mempelajari keterampilan tersebut.
Ketika Canting Membutuhkan Penerus
Membuat canting bukan sekadar mengolah bahan menjadi alat membatik. Keterampilan itu membutuhkan ketelitian, pengalaman, dan kesabaran.
Karena itu, proses belajar tidak cukup berlangsung melalui teori. Calon pembuat canting perlu melihat, mencoba, lalu mengulang prosesnya.
Lurah Joyotakan Bambang Kristanto mengatakan pihaknya sudah membuka ruang bagi mahasiswa yang ingin belajar.
“Dari kemarin sudah ada mahasiswa yang belajar, kami persilakan. Untuk pelatihan-pelatihan nanti Pak Purwanto juga bisa menjadi narasumber,” tutur Bambang.
Kehadiran mahasiswa memberi warna baru dalam upaya regenerasi. Mereka tidak hanya datang untuk melihat proses pembuatan canting, tetapi juga memiliki kesempatan mempelajari keterampilan langsung dari pengrajinnya.
Di sisi lain, Purwanto membawa pengalaman yang sudah melewati beberapa generasi keluarganya.
Pertemuan antara pengalaman dan rasa ingin tahu itu menjadi penting. Sebab, pengetahuan tradisional akan lebih mudah bertahan ketika ada ruang untuk diwariskan.
Pokdarwis dan Lansia Ikut Bergerak
Regenerasi tidak berhenti pada mencari orang yang bisa membuat canting. Kelurahan Joyotakan juga ingin membangun ekosistem di sekitar kerajinan tersebut.
Karena itu, Bambang menyiapkan pelibatan Pokdarwis dan lansia.
Keduanya dapat mengambil peran dalam pengembangan kerajinan. Pokdarwis bisa membantu promosi. Sementara itu, lansia dapat ikut terlibat dalam kegiatan produksi maupun pengembangan produk.
Pola tersebut membuat regenerasi terasa lebih luas.
Pengrajin berbagi keterampilan. Mahasiswa belajar. Pokdarwis membantu mengenalkan produk. Lansia ikut mengambil peran.
Semua unsur itu dapat bertemu dalam satu ruang.
Jika berjalan konsisten, canting tidak hanya menjadi benda budaya. Kerajinan tersebut juga bisa membuka peluang ekonomi bagi masyarakat Joyotakan.
Dari Canting ke Produk Kreatif
Purwanto sebelumnya sudah mencoba membawa canting keluar dari fungsi tradisionalnya.
Ia mengembangkan canting menjadi berbagai produk handycraft. Gantungan kunci, lampu tidur, dan hiasan menjadi beberapa contohnya.
Pengembangan itu membuka kemungkinan baru.
Canting tidak harus berhenti sebagai alat membatik. Bentuk dan karakter produknya bisa masuk ke pasar kerajinan kreatif.
Purwanto juga menggagas keterlibatan Pokdarwis dan lansia dalam pengemasan serta promosi. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya mengenal canting sebagai warisan budaya.
Mereka juga dapat melihat nilai ekonominya.
Namun, nilai ekonomi bukan satu-satunya alasan untuk menjaga keterampilan tersebut.
Di balik sebuah canting, ada pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ada cara membuat yang tidak bisa dipelajari hanya dengan membaca buku.
Bambang Ingin Canting Jadi Ikon Joyotakan
Bambang memiliki target yang lebih jauh. Ia ingin canting menjadi identitas Joyotakan.
Bahkan, ia berharap kerajinan tersebut dapat berkembang menjadi salah satu ikon Kota Solo.
“Harapan saya canting tidak hilang dan ada yang meneruskan. Saya berharap canting jadi ikon di Joyotakan, bahkan bisa menjadi ikon Kota Solo,” terang Bambang.
Target itu membuat persoalan regenerasi menjadi lebih besar daripada sekadar mencari penerus pengrajin.
Ada identitas kampung yang perlu dijaga.
Ada pengetahuan tradisional yang harus terus dipelajari.
Selain itu, ada peluang ekonomi yang bisa tumbuh bersama masyarakat.
Tradisi Tidak Bisa Hidup Sendiri
Warisan budaya tidak otomatis bertahan hanya karena masyarakat menyebutnya sebagai warisan.
Tradisi membutuhkan orang yang mau belajar. Tradisi juga membutuhkan ruang untuk berkembang.
Di Joyotakan, ruang itu mulai dibangun melalui pertemuan pengrajin, mahasiswa, Pokdarwis, dan lansia.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa regenerasi tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Kadang, ia cukup dimulai dari satu orang yang mau mengajarkan keterampilannya kepada orang lain.
Ini bukan sekadar soal membuat canting. Ini soal menjaga pengetahuan agar tidak ikut hilang ketika satu generasi berhenti membuatnya.
Bagi Joyotakan, canting bisa menjadi lebih dari sekadar produk.
Ia bisa menjadi identitas kampung. Ia bisa menjadi ruang belajar. Bahkan, ia berpeluang menjadi bagian dari ekonomi kreatif masyarakat.
Pada akhirnya, sebuah tradisi bertahan bukan karena masa lalu memaksanya hidup.
Tradisi bertahan ketika generasi hari ini masih menemukan alasan untuk meneruskannya. @eko








