29 desa di 13 kecamatan terdampak kekeringan. Cilacap krisis air karena warga kesulitan mendapatkan air bersih. BPBD membuka posko 24 jam dan distribusi air masih berjalan.
Tabooo.id: Sebanyak 24.934 jiwa dari 8.691 keluarga di Kabupaten Cilacap krisis air dan kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka tersebar di 29 desa pada 13 kecamatan. Hingga Sabtu, 08/08/2026, BPBD Kabupaten Cilacap telah mendistribusikan 1.184.000 liter air bersih atau setara 232 tangki. Distribusi dilakukan bertahap berdasarkan kebutuhan setiap wilayah.
232 Tangki, Tapi Sumber Bantuan Tidak Sama
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap, Taryo, mengatakan sebagian bantuan berasal dari anggaran pemerintah daerah.
“Total distribusi air bersih sampai dengan 8 Agustus 2026 mencapai 1.184.000 liter atau setara 232 tangki,” kata Taryo di Cilacap, Minggu, 9/08/2026.
Dari total tersebut, 450.000 liter atau 90 tangki berasal dari APBD Kabupaten Cilacap.
Sementara itu, 734.000 liter atau 142 tangki berasal dari CSR perusahaan dan dukungan sejumlah mitra kemanusiaan.
Artinya, kontribusi CSR dan mitra saat ini lebih besar dibandingkan distribusi yang bersumber dari APBD.
Sejumlah pihak ikut mendukung penanganan kekeringan. Mereka antara lain PMI Kabupaten Cilacap, Pertamina Patra Niaga, BBWS Citanduy, LazisMU, CSR anggota DPR RI, Kodim 0703/Cilacap, NU Peduli Cilacap, dan PT SBI Tbk.
Lima Desa Masih Menerima Bantuan
Distribusi tidak berhenti pada angka 232 tangki. Pada Sabtu, 08/08/2026, BPBD bersama mitra kembali mengirim lima tangki ke lima desa.
Kelima desa itu adalah Kubangkangkung, Ujungalang, Panikel, Kalijeruk, dan Karangjantung.
Desa Kubangkangkung dan Kalijeruk berada di Kecamatan Kawunganten. Ujungalang dan Panikel berada di Kecamatan Kampunglaut. Sementara Karangjantung berada di Kecamatan Gandrungmangu. Masing-masing desa menerima satu tangki air.
Distribusi tersebut mendapat dukungan LazisMU Kabupaten Cilacap, LazisMU-CAT, Siaga Peduli Kabupaten Cilacap, dan Garuda Nusantara 08.
Taryo memastikan bantuan akan terus berjalan selama masyarakat masih membutuhkan.
“Kami memastikan penyaluran bantuan air bersih akan terus dilakukan selama masyarakat masih membutuhkan,” ujarnya.
Posko Dibuka 24 Jam
BPBD tidak hanya mengirim air tapi juga melakukan pemantauan wilayah terdampak juga terus dilakukan. BPBD membuka posko penanggulangan bencana selama 24 jam untuk mendukung respons di lapangan.
Masyarakat juga diminta menggunakan air secara bijak dan tidak membakar sampah sembarangan.
Imbauan itu muncul ketika BMKG memprediksi kondisi kemarau 2026 relatif berat. Dalam pemutakhiran Juni 2026, BMKG memperkirakan 482 Zona Musim atau 56,18 persen luas daratan Indonesia mengalami musim kemarau dengan curah hujan bawah normal. BMKG juga memprediksi sebagian besar wilayah mengalami durasi kemarau lebih panjang dari normal.
BMKG sebelumnya, pada 10/06/2026, menyebut puncak musim kemarau Indonesia berlangsung pada Juli–September. Agustus menjadi periode puncak di 369 Zona Musim atau sekitar 48,84 persen luas daratan Indonesia.
Kondisi itu membuat distribusi air menjadi respons penting, tetapi bukan jawaban permanen.
Air Sudah Dikirim, Krisis Belum Selesai
232 tangki memang menunjukkan respons bergerak. Tetapi angka itu juga menunjukkan satu persoalan lain kebutuhan air warga belum selesai.
Air yang datang hari ini menyelesaikan kebutuhan hari ini. Besok, sebagian warga masih membutuhkan air lagi.
Di titik inilah kekeringan tidak lagi sekadar cerita tentang cuaca. Ini menyangkut akses warga terhadap kebutuhan dasar.
Saat Air Bersih Bukan Lagi Soal Cuaca
Bagi 24.934 warga terdampak, air bukan sekadar angka dalam laporan bencana. Air berarti minum, memasak, mandi, mencuci, beribadah, dan menjaga kehidupan sehari-hari tetap berjalan.
Karena itu, ukuran keberhasilan penanganan kekeringan bukan hanya berapa tangki yang sudah dikirim.
Pertanyaan berikutnya jauh lebih sederhana berapa lama warga harus menunggu tangki berikutnya?. Dan ketika musim kemarau masih berlangsung, kebutuhan itu belum punya kata selesai. @teguh








