Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Harga Ayam Aman, Pedagang Tetap Cemas

by eko
Agustus 6, 2026
in Reality
A A
Home Reality
Share on Facebook
Share on Twitter
Harga ayam merah di Pasar Ayam Silir, Surakarta, tetap Rp20.000 per ekor. Namun, pedagang mengaku penjualan turun hingga satu ton per hari dalam tiga tahun terakhir karena daya beli masyarakat melemah.

Tabooo.id – Harga ayam merah di Pasar Ayam Silir, Surakarta, tetap bertahan di Rp20.000 per ekor. Padahal, peternak masih mengeluhkan mahalnya harga jagung sebagai bahan baku pakan. Namun, persoalan yang paling dirasakan pedagang bukan kenaikan harga. Mereka justru kehilangan pembeli. Dalam tiga tahun terakhir, penjualan ayam terus menurun. Kondisi itu membuat omzet ikut menyusut meski harga jual tetap stabil.

Harga Ayam Belum Bergerak

Alif, salah satu pedagang ayam di Pasar Hewan Sikit, mengatakan harga ayam merah belum berubah. Ia masih menjual ayam dengan harga Rp20.000 per ekor.

“Untuk ayam yang saya jual, ayam merah hari ini tidak mengalami kenaikan dan stabil di harga Rp20.000 per ekor,” kata Alif.

Menurut Alif, harga tersebut masih mampu bertahan karena pasokan ayam tetap tersedia. Selain itu, biaya yang ia keluarkan juga belum mengalami perubahan besar.

Karena itu, ia belum melihat alasan untuk menaikkan harga jual kepada konsumen.

Harga Jagung Belum Berpengaruh

Beberapa peternak sebelumnya menyampaikan keluhan tentang mahalnya harga jagung. Mereka menilai kenaikan harga pakan meningkatkan biaya produksi.

Ini Belum Selesai

Kapolda Sulsel Usul Arena Tawuran 10 Lawan 10, Polisi Bidik Produsen Busur

BBM Belum Normal, ASN Jember WFH: Siapa Menjamin Layanan Publik Tetap Jalan?

Namun, Alif belum merasakan dampaknya secara langsung.

Ia menjelaskan bahwa ayam yang ia jual berasal dari peternakan yang sudah tidak lagi memanfaatkan ayam tersebut sebagai ayam petelur.

“Kalau terkait harga pakan jagung yang mahal kami tidak merasakan dampaknya, karena kami pedagang mengambil ayam dari peternakan yang sudah tidak bertelur lalu kami jual,” ujarnya.

Karena sistem itu, kenaikan harga jagung belum memengaruhi harga ayam yang ia beli dari peternak.

Meski begitu, ia menyadari kondisi tersebut bisa berubah. Jika biaya produksi terus naik, harga di tingkat pedagang juga berpotensi ikut bergerak.

Pembeli Terus Berkurang

Meski harga tetap stabil, penjualan tidak ikut meningkat.

Alif mengatakan jumlah pembeli terus menurun dalam tiga tahun terakhir. Akibatnya, volume penjualan ikut berkurang.

Sebelumnya, ia mampu menjual sekitar empat ton ayam setiap hari. Kini, jumlah itu turun sekitar satu ton.

“Dari tiga tahun terakhir ini pemesanan dan penjualan ayam turun kira-kira satu ton. Dulu bisa menjual empat ton sehari,” ungkapnya.

Penurunan itu tidak hanya terlihat dari angka penjualan.

Suasana pasar juga berubah. Aktivitas jual beli masih berjalan setiap hari. Namun, keramaian tidak lagi sama seperti beberapa tahun lalu.

Banyak pelanggan datang lebih jarang. Sebagian lainnya membeli dalam jumlah yang lebih sedikit.

Daya Beli Menjadi Persoalan

Alif menduga kondisi ekonomi menjadi penyebab utama turunnya penjualan.

Menurutnya, masyarakat kini lebih berhati-hati saat mengeluarkan uang. Mereka lebih memilih memenuhi kebutuhan yang dianggap paling penting.

Akibatnya, permintaan ayam ikut menurun meski harga tidak berubah.

Kondisi tersebut menunjukkan satu hal. Harga yang stabil belum tentu membuat pasar kembali ramai.

Jika daya beli masyarakat melemah, pedagang tetap kesulitan meningkatkan penjualan.

Tantangan Pedagang Berbeda dengan Peternak

Peternak dan pedagang kini menghadapi tantangan yang berbeda.

Peternak harus menanggung biaya produksi yang semakin tinggi akibat mahalnya harga jagung.

Sementara itu, pedagang harus menghadapi pasar yang semakin sepi.

Perbedaan itu menunjukkan bahwa persoalan sektor perunggasan tidak hanya berkaitan dengan harga pakan.

Daya beli masyarakat juga memegang peran penting dalam menjaga perputaran ekonomi di pasar tradisional.

Berharap Ekonomi Segera Membaik

Alif berharap kondisi ekonomi segera pulih.

Ia ingin pasar kembali ramai seperti beberapa tahun lalu. Dengan begitu, pedagang dapat meningkatkan penjualan dan memperbaiki pendapatan.

“Ya semoga ke depannya ekonomi stabil dan pedagang ayam kembali ramai kembali,” harapnya.

Cerita Alif menjadi gambaran sederhana tentang kondisi pasar tradisional saat ini. Harga ayam memang belum naik. Namun, stabilnya harga belum mampu mengembalikan pembeli. Pada akhirnya, tantangan terbesar pedagang bukan hanya menjaga harga tetap terjangkau, tetapi juga menunggu daya beli masyarakat kembali pulih. @eko

Tags: Ayam merahHarga Ayampedagang pasarSurakarta

Kamu Melewatkan Ini

Sudah Dibasahi, Api TPA Putri Cempo Muncul Lagi

Sudah Dibasahi, Api TPA Putri Cempo Muncul Lagi

by teguh
September 24, 2026

Api kembali muncul di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo, Solo, Kamis 24/09/2026. Padahal, petugas sebelumnya sudah melakukan pembasahan dan...

KY Gelar Diskusi Publik di Solo Bahas Penguatan Kewenangan

KY Gelar Diskusi Publik di Solo Bahas Penguatan Kewenangan

by eko
September 24, 2026

KY gelar diskusi publik di Solo untuk membahas penguatan kewenangan, kelembagaan, dan pengawasan hakim dalam sistem kekuasaan kehakiman. Tabooo.id: Surakarta...

Surakarta Dipelajari FAO-ICLEI, Sampah Makanan Naik Kelas Jadi Isu Kota

Surakarta Dipelajari FAO-ICLEI, Sampah Makanan Naik Kelas Jadi Isu Kota

by teguh
September 22, 2026

Sisa dan sampah makanan biasanya berakhir di tempat sampah. Namun, bagi FAO dan ICLEI, persoalannya tidak berhenti pada aktivitas membuang....

Next Post
Realitas Tukang Becak Klewer: Satu Hari Tanpa Penumpang, Kini Jadi Kenyataan

Tukang Becak Klewer: Satu Hari Tanpa Penumpang, Kini Jadi Kenyataan

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id