Insiden lansia diminta turun dari Transjakarta memicu perdebatan. Di balik persoalan bau, muncul pertanyaan besar tentang empati, kemiskinan, dan hak atas ruang publik.
Tabooo.id – Bus itu tidak berhenti karena mesin bermasalah. Bus itu berhenti karena seorang manusia dianggap membawa aroma yang mengganggu perjalanan.
Video seorang lansia tunawisma yang keluar dari bus Transjakarta setelah petugas menerima keluhan soal bau menyengat langsung memicu perdebatan. Sebagian orang membela hak penumpang menikmati perjalanan yang nyaman. Sebagian lain mempertanyakan cara kota memperlakukan warganya yang paling rentan.
Perdebatan itu sebenarnya tidak lahir dari bau.
Perdebatan itu lahir dari pertanyaan yang lebih besar sampai di mana ruang publik mampu menerima manusia yang hidup dalam kemiskinan?
Kota Menjaga Kenyamanan, Tetapi Siapa Menjaga Martabat?
Petugas Transjakarta menerima laporan dari penumpang mengenai aroma yang menyerupai urine. Mereka kemudian menghampiri lansia tersebut dan mengajaknya turun ketika bus berhenti di Halte Kampung Melayu.
Transjakarta menjelaskan bahwa petugas hanya menjalankan prosedur pelayanan. Perusahaan juga meminta maaf kepada seluruh pelanggan serta langsung berkoordinasi dengan Dinas Sosial agar lansia itu memperoleh pendampingan.
Langkah itu terdengar masuk akal.
Operator transportasi memang wajib menjaga kenyamanan seluruh penumpang.
Namun kehidupan manusia tidak selalu selesai dengan standar operasional.
Karena setiap prosedur selalu menghadapkan petugas pada satu pilihan yang sulit: menjaga kenyamanan atau menjaga martabat manusia.
Bau Itu Hanya Gejala
Publik terlalu sibuk membahas aroma tubuh seorang lansia.
Padahal bau hanyalah akibat.
Kemiskinanlah yang menjadi penyebab.
Orang yang hidup di jalan tidak selalu memiliki akses terhadap air bersih, pakaian layak, tempat mandi, atau ruang untuk merawat dirinya. Mereka membawa seluruh beban hidup ke mana pun kaki melangkah.
Ketika mereka memasuki transportasi publik, mereka tidak hanya membawa tubuh mereka.
Mereka membawa kegagalan sistem sosial yang selama ini kita abaikan.
Kota Modern Sering Kali Tidak Ramah pada Kemiskinan
Jakarta terus membangun halte baru, memperluas jaringan transportasi, dan mempercantik ruang publik. Pemerintah juga mendorong masyarakat beralih ke angkutan umum.
Namun pembangunan fisik ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan pembangunan empati.
Kota modern menyukai keteraturan.
Kota modern menyukai kebersihan.
Namun kota modern sering kehilangan kemampuan menerima manusia yang hidup di luar standar itu.
Kemiskinan akhirnya berubah menjadi sesuatu yang harus disingkirkan agar pemandangan tetap nyaman.
Transportasi Publik Tidak Hanya Mengangkut Penumpang
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan jumlah pengguna Transjakarta terus meningkat. Pada Juni 2026, layanan itu melayani lebih dari 37 juta perjalanan penumpang.
Angka tersebut menunjukkan bahwa transportasi publik telah menjadi ruang bersama bagi jutaan orang.
Namun ruang bersama tidak hanya mempertemukan pekerja kantoran, mahasiswa, atau wisatawan.
Transportasi publik juga mempertemukan masyarakat dengan kenyataan yang selama ini sering mereka hindari.
Di dalam satu bus, seorang pegawai dapat duduk berdampingan dengan seorang tunawisma.
Seorang eksekutif dapat berbagi pegangan tangan dengan lansia yang kehilangan rumah.
Justru di situlah makna transportasi publik diuji.
Kita Lebih Cepat Mengusir Gejala daripada Menyelesaikan Masalah
Masyarakat lebih cepat mengeluhkan bau daripada mempertanyakan mengapa seorang lansia harus hidup di jalan.
Kita lebih mudah meminta seseorang keluar dari bus daripada mencari alasan mengapa ia kehilangan tempat tinggal.
Kita juga lebih sering menutup hidung daripada membuka percakapan.
Bau memang mengganggu.
Namun kemiskinan seharusnya jauh lebih mengganggu hati nurani.
Ironisnya, banyak orang memilih menghilangkan aroma itu selama perjalanan berlangsung tanpa pernah ingin menghilangkan akar persoalannya.
Ketika Kenyamanan Mengalahkan Kemanusiaan
Insiden ini bukan sekadar cerita tentang seorang lansia yang keluar dari bus.
Insiden ini memperlihatkan cara kota memperlakukan warganya yang paling lemah.
Transportasi publik memang harus menjaga kenyamanan. Namun kota juga harus menjaga kemanusiaan.
Sebab kenyamanan tidak boleh lahir dengan mengorbankan martabat seseorang.
Hari ini publik memperdebatkan bau yang memenuhi bus.
Besok, mungkin kita akan sadar bahwa yang selama ini memenuhi kota bukan sekadar aroma menyengat, melainkan ketimpangan yang terus kita biarkan mengendap.
Dan mungkin, bau yang paling sulit dihilangkan bukan berasal dari tubuh seorang tunawisma.
Bau itu berasal dari empati yang perlahan membusuk ketika masyarakat mulai menganggap kemiskinan sebagai gangguan, bukan sebagai persoalan bersama. @dimas








