Mas Marco Kartodikromo tidak melihat pers sebagai ruang netral yang hanya mencatat peristiwa. Baginya, jurnalisme harus berani membongkar kekuasaan, berbicara dengan bahasa rakyat, dan berdiri di pihak mereka yang suaranya terbungkam. Menjadi jurnalis ala Mas Marco berarti memahami bahwa pena bukan aksesori profesi, melainkan tanggung jawab yang kadang menuntut keberanian untuk menanggung akibatnya.
Oleh: Wartonagoro (Komisaris PT Tabooo Network Indonesia)
Tabooo.id – Menjadi jurnalis ala Mas Marco bukan berarti meniru kemarahannya atau menganggap penjara sebagai lencana kehormatan. Itu berarti memahami bahwa setiap kalimat punya alamat politik, ia bisa menghibur penguasa atau membuka pikiran rakyat yang selama ini terbungkam. Mas Marco Kartodikromo memilih yang kedua, lalu membayar pilihannya dengan pekerjaan, kebebasan, dan pengasingan.
Mas Marco tidak memperlakukan pers sebagai ruang steril yang berdiri jauh dari pertarungan masyarakat. Baginya, surat kabar bukan meja pajangan untuk menyusun kata-kata yang terlihat rapi.
Pers adalah alat untuk membuat rakyat memahami siapa yang menguasai mereka. Karena itu, jurnalisme Mas Marco tidak pernah sekadar bertanya, “Apa yang terjadi?”
Ia masuk lebih jauh.
Siapa yang membuat keadaan ini terjadi? Lalu, siapa yang mendapatkan keuntungan? Sementara itu, siapa yang harus menanggung akibatnya? Lebih jauh lagi, mengapa orang kecil yang selalu dituntut untuk tertib, sedangkan mereka yang berkuasa bebas menentukan aturan?
Pertanyaan seperti inilah yang mengubah tulisan dari sekadar informasi menjadi gangguan. Pada akhirnya, kekuasaan paling takut pada gangguan yang membuat rakyat berhenti patuh dan mulai berpikir.
Jurnalis Bukan Kurir Pernyataan
Banyak orang mengira pekerjaan jurnalis hanya memindahkan ucapan narasumber ke halaman berita.
Pejabat bicara. Jurnalis merekam. Redaksi menerbitkan. Lalu, besok semuanya terlupakan.
Namun, Mas Marco tidak bekerja seperti itu.
Ia tidak datang kepada kekuasaan hanya untuk meminta bahan kutipan. Sebaliknya, ia datang untuk menguji apa yang dikatakan kekuasaan. Ketika pemerintah kolonial berbicara tentang kesejahteraan, kemajuan, dan peradaban, Marco tidak langsung mengangguk.
Sebaliknya, ia melihat kehidupan rakyat.
Kalau pemerintah mengaku membawa kesejahteraan, mengapa rakyat tetap miskin? Kemudian, kalau kolonialisme mengaku membawa peradaban, mengapa orang bumiputera tetap mendapat perlakuan yang lebih rendah? Lebih jauh lagi, kalau hukum berdiri untuk keadilan, mengapa hukum itu begitu rajin mengejar surat kabar rakyat?
Karena itu, di tangan Mas Marco, jurnalisme bukan stenografi kekuasaan. Jurnalisme justru menjadi ruang pemeriksaan.
Sedangkan hari ini, sebagian media masih bekerja seperti kurir. Media memperoleh pernyataan, membuat judul, memindahkan kutipan, lalu menerbitkan berita tanpa pernah menguji kepentingan di belakangnya.
Pada akhirnya, semua memang terlihat profesional. Namun, tidak ada yang benar-benar dibongkar.
Netralitas Tidak Boleh Mengaburkan Siapa yang Menindas
Mas Marco menolak gagasan bahwa pers harus berdiri netral ketika ketidakadilan sudah terlihat jelas.
Sikap itu bukan berarti fakta boleh dipelintir. Ia juga tidak berarti jurnalis bebas membuat tuduhan tanpa dasar. Marco tetap berpijak pada realitas yang ia lihat, pengalaman masyarakat, dan struktur kekuasaan yang ia pahami.
Namun, ia memahami satu hal, bahwa fakta tidak pernah hidup di ruang kosong.
Ketika satu pihak menguasai pemerintahan, hukum, ekonomi, pendidikan, dan alat kekerasan, sementara pihak lain bahkan kesulitan bersuara, meminta pers berdiri “di tengah” terdengar sopan. Karena, titik tengah itu sudah berada di halaman milik penguasa.
Oleh sebab itu, Mas Marco memilih keberpihakan. Berpihak kepada bangsa yang diperintah. Ia menulis untuk mereka yang hidup di bawah hukum yang tidak mereka buat. Mas Marco membela orang yang suaranya mudah terhapus dari catatan resmi.
Keberpihakan ini tidak menghapus kewajiban memeriksa fakta.
Justru sebaliknya.
Kalau jurnalis mengaku membela rakyat, ia harus bekerja lebih teliti. Penguasa dapat memanfaatkan kesalahan kecil untuk meruntuhkan seluruh kritik. Tuduhan tanpa bukti hanya memberi kekuasaan alasan untuk menyebut perlawanan sebagai kebohongan.
Jurnalisme yang berpihak tetap harus akurat. Namun, akurasi tidak boleh menjadi alasan untuk kehilangan keberanian.
Perang Suara Tidak Membutuhkan Senapan
Mas Marco memahami pers sebagai war of voice, perang suara.
Ia sadar pemerintah kolonial tidak hanya berkuasa melalui polisi, penjara, dan peraturan. Pemerintah juga berkuasa melalui bahasa, gelar, lembaga, seremoni, dan citra moral.
Kekuasaan perlu terlihat terhormat. Ia perlu membuat masyarakat percaya bahwa kebijakan yang menindas sebenarnya hadir untuk menolong. Pemerintah kolonial menyebut eksploitasi sebagai pembangunan. Sementara itu, mereka melabeli pengawasan dengan istilah ketertiban. Bahkan, mereka membungkus pembatasan dengan nama perlindungan.
Mas Marco menyerang lapisan itu.
Dalam polemiknya dengan pejabat kolonial D.A. Rinkes, Marco tidak hanya menyimpan surat teguran. Ia menerbitkannya, lalu menempatkan balasannya sendiri di hadapan pembaca.
Dengan begitu, hubungan yang seharusnya berlangsung secara tertutup berubah menjadi pertarungan terbuka.
Publik bisa membaca sendiri bagaimana pejabat kolonial berbicara kepada seorang jurnalis bumiputera. Publik juga bisa melihat bahwa seorang bumiputera ternyata mampu menjawab tanpa membungkuk.
Marco bahkan memelesetkan nama lembaga kolonial untuk menghancurkan kesan sakral di sekelilingnya. Ia menurunkan birokrasi dari singgasana bahasa, lalu memperlihatkannya sebagai bahan lelucon.
Itulah inti perang suara. Kekuasaan kehilangan sebagian tenaganya ketika rakyat berhenti melihatnya terlalu tinggi.
Bahasa Rakyat Bukan Bahasa Rendahan
Mas Marco tidak hanya melawan melalui isi tulisan.
Ia melawan melalui pilihan bahasa.
Pada masa kolonial, bahasa ikut menentukan kedudukan seseorang. Bahasa Belanda memberi akses kepada elite. Bahasa Jawa krama menjaga jarak antara kelas sosial. Sementara itu, lembaga kolonial menempatkan Melayu Tinggi sebagai bahasa yang lebih tertib dan pantas.
Marco memilih Melayu Pasar.
Bahasa yang hidup di jalan, pasar, pelabuhan, tempat kerja, dan ruang pergerakan. Ia tidak menuntut pembaca memiliki pendidikan tinggi. Ia tidak meminta rakyat memanjat pagar tata bahasa sebelum memahami persoalan hidupnya sendiri.
Pilihan itu jelas politis.
Mas Marco seperti sedang berkata, rakyat tidak perlu menjadi elite terlebih dahulu untuk berhak memahami politik.
Bahasa sederhana bukan tanda pikiran sederhana. Pembaca tetap bisa menemukan kedalaman dalam kalimat yang mudah mereka pahami. Sebaliknya, penulis yang benar-benar memahami persoalan seharusnya mampu menjelaskannya tanpa bersembunyi di balik istilah rumit.
Hari ini, banyak tulisan tampak pintar karena tidak mudah untuk memahaminya.
Kalimatnya panjang. Istilahnya asing. Paragrafnya terasa seperti lorong gedung pemerintahan. Kalimat semacam itu melelahkan pembaca, tetapi penulis justru menganggapnya sebagai bukti kecerdasan.
Mas Marco memilih arah sebaliknya. Ia membuat bahasa datang kepada rakyat, bukan memaksa rakyat mengejar bahasa.
Seorang jurnalis gagal bukan ketika pembaca terlalu mudah memahami tulisannya. Ia gagal ketika orang selesai membaca, tetapi tetap tidak tahu apa yang sedang mereka baca.
Redaktur Harus Berdiri di Depan
Mas Marco membuka ruang bagi surat pembaca di Doenia Bergerak.
Bagi kita hari ini, rubrik semacam itu mungkin terlihat biasa. Namun, saat ruang bicara rakyat sangat terbatas, membuka halaman untuk suara pembaca merupakan tindakan politik.
Masalah muncul ketika beberapa surat menyerang kebijakan kolonial.
Polisi dan pengadilan ingin mengetahui identitas penulisnya. Mas Marco menolak menyerahkan mereka. Ia memilih menanggung risiko hukum sebagai pemimpin redaksi.
Di sinilah kita melihat bahwa perlindungan sumber bukan sekadar pasal dalam pedoman kerja.
Perlindungan sumber membutuhkan tubuh yang bersedia berdiri di depan.
Redaktur tidak boleh menikmati keberanian reporter, penulis, atau narasumber ketika tulisan mereka menghasilkan perhatian. Lalu, ketika masalah datang, redaktur bersembunyi di balik kalimat, “Itu tulisan pribadi.”
Kalau redaksi memutuskan menerbitkan sebuah karya, redaksi ikut memiliki tanggung jawab atas keputusan itu.
Mas Marco memahami tanggung jawab tersebut secara harfiah. Ia masuk penjara karena mempertahankan orang-orang yang mempercayakan suara mereka kepada medianya.
Tentu, jurnalis hari ini tidak perlu memburu hukuman untuk membuktikan integritas. Namun, prinsipnya tetap sama.
Jangan minta orang berbicara ketika kamu tidak siap melindungi mereka. Keberanian narasumber bukan bahan bakar murah untuk trafik.
Kalau Kolom Dilarang, Sastra Bisa Menyelinap
Mas Marco tidak memisahkan jurnalisme dan sastra dengan tembok tinggi.
Ketika hukum kolonial mempersempit ruang opini, ia menggunakan novel, cerita bersambung, syair, dan bentuk sastra lain untuk meneruskan kritiknya.
Mata Gelap membaca kerusakan kehidupan perkotaan di bawah kapitalisme kolonial. Student Hidjo menggugat mitos tentang keunggulan manusia Eropa. Rasa Merdika berbicara tentang kapitalisme, feodalisme, dan pembebasan pikiran bumiputera.
Sementara itu, Syair Sama Rasa dan Sama Rata mengubah gagasan politik menjadi bahasa yang mudah untuk orang mengingatnya.
Marco memahami bahwa fakta tidak selalu harus hadir sebagai tabel, laporan, atau kutipan pejabat. Kadang, pembaca baru benar-benar memahami ketidakadilan setelah melihat bagaimana ketidakadilan masuk ke dalam kehidupan manusia.
Sastra memberi wajah kepada struktur.
Ia memperlihatkan bagaimana sistem ekonomi merusak hubungan, bagaimana kelas sosial mengatur cinta, dan bagaimana kolonialisme memasuki cara seseorang memandang dirinya sendiri. Namun, ini bukan izin bagi jurnalis untuk mencampur fakta dengan khayalan secara sembarangan.
Pelajarannya terletak pada bentuk.
Ketika satu pintu narasi ditutup, jurnalis harus mencari pintu lain. Artikel dapat menjadi esai. Liputan dapat berkembang menjadi dokumenter. Data dapat dihidupkan melalui cerita manusia. Sejarah dapat muncul melalui novel grafis, podcast, atau film.
Wadah boleh berubah. Tetapi, pertanggungjawaban terhadap realitas tidak boleh ikut berubah.
Organisasi Wartawan Bukan Sekadar Kartu Anggota
Mas Marco tidak hanya menulis. Ia ikut membangun Inlandsche Journalisten Bond pada 1914, organisasi wartawan bumiputera pertama yang tercatat dalam sejarah pers Indonesia. Organisasi ini tidak lahir sekadar untuk membuat profesi jurnalis terlihat terhormat.
IJB membangun solidaritas.
Jurnalis bumiputera menghadapi pemerintah kolonial, hukum pers, tekanan ekonomi, dan ketimpangan akses. Tanpa organisasi, setiap jurnalis akan melawan sendirian. Penguasa cukup menangkap satu orang, menutup satu surat kabar, lalu menunggu ketakutan menyebar.
Organisasi mengubah ketakutan pribadi menjadi kekuatan kolektif.
Melalui Doenia Bergerak, IJB juga menjadi tempat belajar bagi jurnalis muda. Karena itu, organisasi wartawan tidak seharusnya berhenti sebagai tempat kongres, pemilihan pengurus, dan sesi foto bersama.
Lebih dari itu, organisasi harus membangun kemampuan, perlindungan, dan keberanian profesi.
Untuk apa organisasi pers berdiri kalau jurnalis kontrak tetap mudah dibuang? Lalu, untuk apa bicara tentang kemerdekaan pers kalau ruang redaksi masih tunduk kepada kepentingan pemilik? Lebih jauh lagi, untuk apa merayakan profesi wartawan kalau reporter lapangan harus menghadapi ancaman sendirian?
Pada akhirnya, kartu anggota tidak akan melindungi jurnalisme. Namun, solidaritas yang benar-benar bekerja mungkin bisa.
Penjara Tidak Berhasil Membungkam Pena
Mas Marco berulang kali berhadapan dengan delik pers dan pasal penyebaran kebencian milik pemerintah kolonial.
Ia dipenjara karena surat pembaca, artikel, dan syair yang dianggap mengganggu kekuasaan kolonial. Setelah itu, pemerintah membuangnya ke Boven Digoel karena mengaitkan dirinya dengan pemberontakan komunis 1926–1927.
Namun, hukuman tersebut tidak membuat Mas Marco berhenti menulis. Sebaliknya, di balik jeruji ia menyelesaikan karya sastra, merawat kritik, dan mengubah ruang hukuman menjadi ruang produksi.
Tentu, kita tidak perlu meromantisasi penderitaan. Penjara tetap merampas kebebasan. Sementara itu, pengasingan tetap menghancurkan kehidupan. Penyakit dan keterasingan juga bukan pengalaman indah yang pantas dibungkus sebagai legenda.
Namun, respons Mas Marco menunjukkan sesuatu yang penting. Kekuasaan memang dapat menentukan di mana tubuh seseorang dikurung. Meski begitu, kekuasaan jauh lebih sulit mengendalikan makna yang lahir dari pengalaman tersebut.
Karena itu, Mas Marco tidak membaca hukuman sebagai bukti bahwa tulisannya salah. Sebaliknya, ia melihat hukuman itu sebagai tanda bahwa tulisannya telah menyentuh sesuatu yang ingin disembunyikan dan dilindungi penguasa.
Hari ini, tekanan terhadap jurnalis tidak selalu datang dalam bentuk jeruji. Tekanan bisa muncul sebagai telepon dari pemilik, pencabutan iklan, ancaman gugatan, pemutusan kontrak, serangan digital, pengucilan akses, atau instruksi halus untuk mengganti judul.
Bentuknya berubah. Akan tetapi, pertanyaannya tetap sama, yaitu ketika tekanan datang, siapa yang masih berdiri?
“Sama Rasa dan Sama Rata” Bukan Hiasan Dinding
Gagasan paling terkenal dari Mas Marco berbunyi “Sama Rasa dan Sama Rata.” Sekilas, kalimat itu terdengar indah, ringkas, cocok menjadi slogan dan dipasang pada poster.
Namun, Marco tidak menulisnya sebagai dekorasi.
Di satu sisi, “Sama Rata” menolak hierarki rasial dan kelas yang menempatkan manusia pada kedudukan hukum berbeda. Di sisi lain, “Sama Rasa” menuntut kemampuan melihat penderitaan orang lain sebagai masalah bersama. Karena itu, dalam jurnalisme, keduanya tidak bisa dipisahkan.
Kesetaraan tanpa empati mudah berubah menjadi laporan yang dingin. Sebaliknya, empati tanpa kesetaraan mudah berubah menjadi belas kasihan yang merendahkan.
Dengan demikian, jurnalisme Mas Marco tidak meminta orang kaya sekadar merasa kasihan kepada rakyat kecil. Ia justru meminta masyarakat mengakui bahwa rakyat kecil memiliki martabat, suara, dan hak politik yang sama.
Karena itu, ruang redaksi tidak boleh hanya melihat orang biasa ketika mereka menjadi korban. Buruh bukan sekadar angka upah. Sementara itu, petani bukan ilustrasi kemiskinan. Warga kampung pun bukan sekadar latar foto bencana.
Lebih dari itu, mereka adalah manusia yang mampu berpikir tentang keadaannya sendiri. Maka, tugas jurnalis bukan berbicara menggantikan mereka. Sebaliknya, tugas jurnalis adalah memastikan kekuasaan tidak menghapus suara mereka.
Mas Marco Tidak Mengajarkan Jurnalis Menjadi Nekat
Ada bahaya ketika kita membaca tokoh radikal.
Sering kali, kita justru meniru bagian yang paling dramatis. Kita mengagumi polemiknya, penjaranya, dan bahasanya yang keras. Namun, pada saat yang sama, kita melupakan disiplin yang menopang semua itu.
Padahal, Mas Marco tidak menjadi penting hanya karena ia berani memaki kolonialisme. Sebaliknya, ia menjadi penting karena keberaniannya memiliki arah.
Marco membangun media. Selain itu, ia mengorganisasi wartawan dan melindungi sumber. Ia juga mengembangkan bahasa politik rakyat, menghubungkan jurnalistik dengan sastra, serta terus menulis meski pemerintah memindahkannya dari satu penjara ke penjara lain.
Karena itu, menjadi jurnalis ala Mas Marco bukan berarti menulis kasar.
Begitu pula, sikap tersebut bukan alasan untuk mencurigai semua orang, memaksakan opini, atau menyebut kemarahan sebagai keberanian. Sebab, keberanian tanpa fakta hanya menghasilkan kegaduhan.
Sementara itu, keberpihakan tanpa disiplin mudah berubah menjadi propaganda. Lebih jauh lagi, bahasa tajam tanpa tanggung jawab hanya melahirkan luka yang tidak perlu.
Pada akhirnya, Mas Marco mengajarkan bahwa jurnalis harus berani mengambil posisi. Namun, posisi itu harus tumbuh dari pembacaan realitas, bukan dari kebutuhan untuk terlihat paling radikal.
Pers Bukan Urusan Jurnalis Saja
Mungkin kamu bukan jurnalis.
Namun, hampir setiap hari kamu menerima hasil kerja jurnalistik. Kamu membaca judul, menonton potongan video, mengikuti utas, lalu menyerap pernyataan yang dibungkus sebagai fakta.
Karena itu, pemikiran Mas Marco tetap menyentuh hidupmu.
Ketika media hanya meneruskan ucapan pejabat, kamu menerima kekuasaan tanpa pemeriksaan. Sementara itu, ketika bahasa dibuat terlalu rumit, kamu dijauhkan dari persoalan yang sebenarnya menyangkut hidupmu. Lebih jauh lagi, ketika sumber tidak dilindungi, orang yang mengetahui kebenaran akan memilih diam.
Masalahnya, ketika media takut mengambil posisi, ketidakadilan mudah tampil sebagai perbedaan pendapat biasa.
Akibatnya, kamu melihat korban dan pelaku seolah memiliki kekuatan yang sama. Selain itu, kamu mulai menganggap eksploitasi sebagai kesalahpahaman. Bahkan, penindasan bisa terlihat seperti konflik biasa antara dua pihak.
Di titik itulah, netralitas berubah menjadi kabut.
Pada akhirnya, Mas Marco mengingatkan bahwa pers seharusnya membantu masyarakat melihat realitas dengan lebih jelas, bukan membuat semuanya tampak sama-sama abu-abu.
Jurnalisme Mati Ketika Kritik Mulai Diredam
Mas Marco hidup pada masa ketika pemerintah kolonial dapat memenjarakan jurnalis hanya karena tulisan.
Hari ini, ruang pers memang berbeda. Namun, godaan untuk bermain aman tidak pernah benar-benar hilang.
Media ingin menjaga akses. Sementara itu, pemilik ingin menjaga bisnis. Jurnalis ingin mempertahankan pekerjaan. Di sisi lain, pembaca ingin mendapatkan berita cepat tanpa harus menghadapi kenyataan yang terlalu mengganggu.
Semua alasan itu bisa dipahami.
Masalahnya, kalau semua pihak hanya sibuk menjaga kepentingannya sendiri, siapa yang menjaga kepentingan publik?
Jurnalisme tidak harus berteriak setiap hari. Ia juga tidak harus selalu tampil marah. Kadang, satu data yang diverifikasi dengan baik jauh lebih menghancurkan daripada seratus kalimat kasar.
Meski begitu, jurnalisme harus tahu kapan ia tidak boleh menunduk.
Karena itu, menjadi jurnalis ala Mas Marco berarti menulis dengan kesadaran bahwa bahasa dapat memperkuat kekuasaan atau justru membongkarnya. Selain itu, jurnalis harus mampu membuat persoalan rumit dapat dipahami rakyat. Lebih jauh lagi, ia harus berani berdiri di depan ketika sumber dan reporter menghadapi ancaman.
Pada akhirnya, menjadi jurnalis ala Mas Marco berarti menolak bersikap netral terhadap penghinaan atas martabat manusia. Sebab, pena yang tidak pernah mengambil risiko mungkin masih mampu menghasilkan berita. Namun, pena semacam itu belum tentu menghasilkan jurnalisme. @tabooo








