Rabu, Juli 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

John Lennon: Musisi Perdamaian atau Sosok yang Pernah Ditakuti Penguasa?

by eko
Juli 22, 2026
in Figures
A A
Home Figures
Share on FacebookShare on Twitter
John Lennon bukan hanya personel The Beatles. Ia menjadikan musik sebagai alat kritik sosial, menginspirasi gerakan perdamaian, dan bahkan pernah dianggap ancaman oleh pemerintah Amerika Serikat.

Tabooo.id – Ketika mendengar nama John Lennon, banyak orang langsung mengingat lagu Imagine. Nama Jhon Lennon juga sering dikaitkan dengan simbol perdamaian dan keberanian dalam bermusik. Selama puluhan tahun, dunia mengenal lagu itu sebagai simbol perdamaian. Namun, Lennon bukan sekadar musisi yang mengajak orang bermimpi. Ia adalah sosok yang terus menabrak batas, mengkritik kemapanan, bahkan membuat pemerintah Amerika Serikat merasa terancam oleh pengaruhnya.

Kisah ini bukan hanya tentang seorang personel The Beatles. Lebih dari itu, ini adalah cerita tentang bagaimana musik dapat berubah menjadi alat perlawanan politik.

Dari Liverpool Menuju Panggung Dunia

John Winston Lennon lahir pada 9 Oktober 1940 di Liverpool, Inggris, ketika Perang Dunia II masih berlangsung. Masa kecilnya tidak berjalan mudah. Ayahnya jarang hadir. Ibunya pun tidak membesarkannya sepenuhnya. Karena itu, bibinya, Mimi Smith, membesarkan Lennon sejak kecil.

Kesepian justru membentuk karakter sekaligus kreativitasnya. Pada akhir 1950-an, Lennon mendirikan The Quarrymen. Dari kelompok musik inilah ia bertemu Paul McCartney, kemudian George Harrison. Pertemuan tersebut menjadi awal lahirnya The Beatles, band yang kemudian mengubah sejarah musik modern.

The Beatles tidak hanya menghasilkan lagu-lagu populer. Mereka juga mengubah cara masyarakat memandang musik, budaya, dan gaya hidup generasi muda.

Ini Belum Selesai

D.N. Aidit: Dari Muazin Belitung ke Ketua PKI

Umi Sardjono: Dari Pendiri Gerwani ke Penjara Tanpa Pengadilan

The Beatles Mengubah Budaya Populer

Sepanjang dekade 1960-an, The Beatles menjelma menjadi fenomena global. Setiap konser dipenuhi ribuan penggemar yang histeris. Album-album mereka memecahkan rekor penjualan. Jutaan orang kemudian meniru gaya rambut, cara berpakaian, hingga cara berbicara mereka.

Di tengah popularitas itu, Lennon selalu tampil berbeda. Ia lebih vokal, lebih sinis, dan tidak pernah ragu mempertanyakan berbagai hal yang dianggap mapan.

Keberaniannya kembali menarik perhatian pada 1966 ketika ia mengatakan bahwa The Beatles “lebih populer daripada Yesus.” Ucapan Lennon memicu kemarahan besar, terutama di Amerika Serikat. Sejumlah stasiun radio memboikot lagu-lagu The Beatles, sementara banyak penggemar membakar album mereka sebagai bentuk protes.

Meski menghadapi tekanan besar, Lennon tidak pernah menarik ucapannya.

Ketika Musik Menjadi Bentuk Perlawanan

Setelah The Beatles bubar pada 1970, Lennon memilih jalan yang berbeda. Ia tidak hanya melanjutkan karier solo, tetapi juga semakin aktif menyuarakan isu politik dan kemanusiaan.

Bersama Yoko Ono, ia menggelar berbagai aksi damai yang kemudian dikenal dunia. Salah satunya adalah Bed-In for Peace, ketika mereka mengundang wartawan ke kamar hotel untuk menyampaikan pesan perdamaian.

Saat banyak selebritas memilih menjaga citra demi karier, Lennon justru menggunakan popularitasnya untuk mengkritik Perang Vietnam, ketidakadilan sosial, hingga kebijakan pemerintah Amerika Serikat.

Sejak saat itu, Lennon mengubah arah musiknya. Lirik-liriknya tidak lagi hanya berbicara tentang cinta, tetapi juga tentang kekuasaan, kebebasan, dan hak asasi manusia.

Imagine, Lagu yang Terus Memicu Perdebatan

Pada 1971, Lennon merilis Imagine, lagu yang hingga kini dikenal sebagai salah satu lagu perdamaian paling berpengaruh di dunia.

Namun, lagu tersebut tidak lepas dari kritik. Sebagian orang menganggap Imagine menawarkan gagasan yang terlalu utopis. Sementara itu, sebagian lainnya menilai ada ironi ketika pesan tentang kesederhanaan datang dari seorang musisi yang hidup bergelimang kekayaan.

Meski begitu, perdebatan itulah yang membuat Imagine tetap relevan hingga sekarang. Berbagai penyelenggara acara kemanusiaan, peringatan tragedi, hingga seremoni kenegaraan terus memutar lagu ini sebagai simbol harapan dan perdamaian.

Ketika Pemerintah Amerika Menganggap Lennon Sebagai Ancaman

Tidak banyak musisi yang menjadi perhatian badan intelijen. John Lennon termasuk salah satunya.

Pada awal 1970-an, pemerintahan Presiden Richard Nixon khawatir pengaruh Lennon dapat memobilisasi pemilih muda melalui konser dan gerakan antiperang.

Karena alasan itu, FBI mengumpulkan sekaligus menyimpan berbagai dokumen tentang aktivitas Lennon. Pemerintah Amerika bahkan sempat berupaya mendeportasinya.

Bukan karena lagu-lagunya.

Melainkan karena kekuatan pengaruh politik yang ia miliki.

Akhir Tragis Seorang Legenda

Pada 8 Desember 1980, John Lennon ditembak mati di depan apartemennya di Dakota Building, New York.

Pelakunya adalah Mark David Chapman, seorang penggemar yang beberapa jam sebelumnya masih meminta tanda tangan Lennon.

Kabar penembakan itu langsung mengejutkan dunia. Ribuan orang berkumpul di Central Park untuk mengenangnya. Berbagai stasiun radio juga memutar lagu-lagunya tanpa henti sebagai bentuk penghormatan.

Kematian Lennon mengakhiri perjalanan salah satu musisi paling berpengaruh pada abad ke-20.

Warisan yang Terus Hidup

Lebih dari empat dekade setelah kematiannya, generasi baru terus mengenal nama John Lennon. Jutaan orang masih mendengarkan lagu-lagunya, sementara banyak orang terus memperdebatkan pemikirannya.

Sebagian melihatnya sebagai simbol perdamaian. Sebagian lainnya menilai Lennon sebagai sosok yang penuh kontradiksi. Namun, justru di situlah letak kekuatannya.

Ia tidak pernah berusaha tampil sebagai manusia yang sempurna. Sebaliknya, Lennon memilih terus mempertanyakan dunia dan mengajak orang lain melakukan hal yang sama.

Tabooo Perspective

Banyak orang mengenang John Lennon sebagai penyanyi yang mengampanyekan perdamaian. Padahal, warisan terbesarnya bukan hanya lagu-lagu yang ia ciptakan. Lennon menunjukkan bahwa musik juga dapat menjadi alat kritik terhadap kekuasaan.

Kisah hidupnya membuktikan bahwa seni mampu melampaui fungsi hiburan. Ketika seorang seniman memiliki pengaruh besar, karya yang ia hasilkan dapat berubah menjadi alat kritik, ruang perlawanan, sekaligus pemantik perubahan sosial.

Di tengah era ketika banyak figur publik memilih bermain aman demi menjaga citra, perjalanan John Lennon mengingatkan bahwa keberanian menyampaikan gagasan sering kali meninggalkan jejak yang jauh lebih panjang daripada sekadar popularitas.@eko

Kamu Melewatkan Ini

Dibalik kata “Ampun, Bos”: Demokrasi atau Feodalisme Politik?

Dibalik kata “Ampun, Bos”: Demokrasi atau Feodalisme Politik?

by dimas
Juli 22, 2026

Dibalik kata "Ampun, Bos", tersimpan pertanyaan besar tentang arah demokrasi Indonesia. Apakah budaya feodalisme masih membentuk relasi kekuasaan sehingga loyalitas...

Malam Datang Terlalu Cepat di Desa Juhu

Malam Datang Terlalu Cepat di Desa Juhu

by teguh
Juli 22, 2026

Ketika Gelap Memadamkan Lampu, Harapan Warga Meratus Ikut Meredup. Bukan karena warga Desa Juhu memilih beristirahat lebih awal, melainkan karena...

Deforestasi Legal: Pola Baru Kejahatan Lingkungan Indonesia

Deforestasi Legal: Pola Baru Kejahatan Lingkungan Indonesia

by dimas
Juli 22, 2026

Deforestasi legal menjadi pola baru kejahatan lingkungan di Indonesia. Laporan Auriga mengungkap 58 persen kehilangan hutan kini terjadi melalui mekanisme...

Next Post
Deforestasi Legal: Pola Baru Kejahatan Lingkungan Indonesia

Deforestasi Legal: Pola Baru Kejahatan Lingkungan Indonesia

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id