Gerpolek karya Tan Malaka mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak berhenti pada Proklamasi 1945. Revolusi harus menghadirkan kedaulatan politik, ekonomi, dan keadilan bagi rakyat Indonesia.
Tabooo.id – Bangsa ini pernah merayakan kemerdekaan dengan air mata, darah, dan harapan. Merah Putih berkibar di langit Indonesia pada 17 Agustus 1945. Dunia mulai mengenal sebuah negara baru yang lahir dari perjuangan panjang. Namun, bagi banyak pejuang, kemerdekaan saat itu belum benar-benar terasa utuh.
Peluru masih melesat di berbagai daerah. Belanda terus berusaha kembali menguasai Indonesia. Rakyat kehilangan rumah, sawah, bahkan keluarga. Sementara itu, para elite politik sibuk berunding untuk mencari jalan damai. Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian itu, muncul sebuah pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar menang atau kalah dalam perang.
Apa arti kemerdekaan jika rakyat belum benar-benar menentukan nasibnya sendiri?
Pertanyaan itu menjadi denyut utama lahirnya Gerilya, Politik, Ekonomi atau Gerpolek, sebuah karya yang Tan Malaka tulis dari balik penjara pada 17 Mei 1948.
Ironisnya, ketika republik berjuang mempertahankan kebebasan, salah satu tokoh revolusi justru kehilangan kebebasan pribadinya. Akan tetapi, penjara tidak pernah mampu membatasi sebuah gagasan. Tan Malaka tetap menulis, berpikir, dan mengirimkan kegelisahannya kepada bangsa yang sedang mencari arah revolusi.
Revolusi Tidak Berhenti Saat Bendera Berkibar
Tan Malaka tidak menulis Gerpolek sebagai catatan sejarah biasa. Ia menyusunnya sebagai kritik, peringatan, sekaligus peta jalan bagi revolusi Indonesia.
Menurutnya, kemerdekaan tidak boleh berhenti pada pengakuan negara lain atau berdirinya pemerintahan baru. Sebuah bangsa baru benar-benar merdeka ketika rakyat menguasai kehidupan politiknya, mengendalikan ekonominya, dan mampu mempertahankan kedaulatannya.
Karena itulah, Gerpolek menyatukan tiga gagasan besar yang saling menguatkan.
Gerilya menjaga kemerdekaan melalui perlawanan.
Politik mengarahkan perjuangan agar tetap berpihak kepada rakyat.
Ekonomi memastikan bangsa tidak kembali bergantung kepada kekuatan asing.
Tan Malaka melihat ketiga unsur tersebut sebagai fondasi yang tidak dapat dipisahkan. Jika salah satunya runtuh, kemerdekaan akan kehilangan maknanya.
Kritik yang Lahir dari Kepedulian
Tan Malaka tidak hanya mengkritik kolonialisme Belanda. Ia juga berani mempertanyakan arah perjuangan republik sendiri.
Menurut pandangannya, kemenangan diplomasi tidak selalu menghadirkan kemenangan bagi rakyat. Sebuah perjanjian memang dapat menghentikan perang, tetapi kesepakatan yang lahir tanpa kedaulatan hanya akan menunda persoalan.
Karena itu, Tan Malaka menolak revolusi yang terlalu cepat berkompromi.
Ia percaya bahwa negara harus berdiri di atas kekuatan rakyat, bukan di atas kemurahan hati pihak lain. Sebab sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa kemerdekaan yang bergantung pada belas kasihan akan selalu rapuh ketika kepentingan politik berubah.
Keberanian itulah yang membuat Gerpolek berbeda. Buku ini tidak sekadar mengajak bangsa melawan penjajah, tetapi juga mendorong bangsa berani mengoreksi dirinya sendiri.
Ketika Penjajahan Berganti Wajah
Hampir delapan dekade berlalu sejak Gerpolek lahir. Senjata tidak lagi memenuhi jalanan. Kolonialisme klasik telah berakhir. Namun, pertanyaan yang diajukan Tan Malaka justru terasa semakin dekat dengan kehidupan hari ini.
Siapa yang sesungguhnya menguasai kekayaan alam Indonesia hari ini?
Kebijakan ekonomi yang lahir setiap tahun, benarkah sepenuhnya berpihak kepada kepentingan rakyat?
Di sisi lain, apakah politik masih menjadi ruang memperjuangkan kepentingan publik, atau justru semakin sibuk mempertahankan kekuasaan?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu memiliki jawaban sederhana. Meski demikian, justru di situlah nilai sebuah karya besar. Gerpolek tidak memaksa pembacanya menerima semua gagasan Tan Malaka. Buku itu mengajak setiap generasi untuk terus berpikir kritis terhadap arah perjalanan bangsanya.
Kini, penjajahan tidak selalu hadir dalam bentuk tentara bersenjata. Ketergantungan ekonomi, dominasi modal global, ketimpangan sosial, korupsi, hingga melemahnya keberanian mengkritik kekuasaan dapat menjadi wajah baru yang sama berbahayanya.
Bentuknya berubah, tetapi ancamannya tetap sama: hilangnya kedaulatan rakyat.
Kemerdekaan Adalah Tugas Setiap Generasi
Gerpolek mengingatkan bahwa revolusi bukan peristiwa yang selesai pada satu tanggal di kalender. Revolusi hidup selama sebuah bangsa terus memperjuangkan keadilan bagi rakyatnya.
Kemerdekaan bukan sekadar memiliki pemerintahan sendiri. Kemerdekaan juga berarti memberi ruang bagi rakyat untuk hidup bermartabat, memperoleh kesempatan yang setara, dan menentukan masa depannya tanpa tekanan dari siapa pun.
Barangkali itulah warisan terbesar yang ditinggalkan Tan Malaka.
Ia tidak meminta setiap orang sepakat dengan seluruh pemikirannya. Ia hanya mengingatkan bahwa bangsa yang berhenti mempertanyakan dirinya sendiri perlahan akan kehilangan arah.
Karena pada akhirnya, perjuangan terbesar bukanlah mengusir penjajah dari tanah air.
Perjuangan yang jauh lebih berat adalah memastikan kemerdekaan benar-benar hadir di meja makan rakyat, di ruang kelas anak-anak, di ladang para petani, di pabrik tempat buruh bekerja, dan di setiap kehidupan yang selama ini menjadi alasan mengapa revolusi pernah diperjuangkan.
Selama cita-cita itu belum sepenuhnya terwujud, kemerdekaan tidak pernah benar-benar selesai. Ia tetap hidup sebagai pekerjaan rumah yang harus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. @dimas







