Tragedi Sibolangit menewaskan empat orang dan melukai delapan lainnya setelah truk diduga mengalami rem blong hingga memicu kecelakaan beruntun di Jalan Medan-Berastagi.
Tabooo.id: Deli Serdang – Jalan yang setiap hari menghubungkan Kabupaten Karo dan Kota Medan kembali menjadi saksi duka. Sebuah truk bermuatan galon air mineral diduga mengalami rem blong lalu menghantam delapan kendaraan di Jalan Medan-Berastagi Kilometer 44-45, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Jumat (17/7/2026) sekitar pukul 10.30 WIB.
Empat orang meninggal dunia. Delapan korban lainnya mengalami luka-luka. Dalam hitungan detik, jalur wisata yang biasanya ramai berubah menjadi hamparan besi ringsek, kaca berserakan, dan kepanikan.
Peristiwa itu bukan sekadar kecelakaan beruntun. Tragedi tersebut kembali mengingatkan publik bahwa jalur Medan-Berastagi masih menyimpan risiko keselamatan yang tinggi.
Truk Meluncur Tak Terkendali di Jalur Menurun
Kepala Bidang Humas Polda Sumatera Utara Komisaris Besar Ferry Walintukun menjelaskan truk pengangkut galon air mineral melaju dari arah Kabupaten Karo menuju Kota Medan.
Saat memasuki ruas jalan yang menurun, pengemudi diduga kehilangan fungsi pengereman. Truk terus meluncur tanpa kendali. Pengemudi tidak mampu menghentikan laju kendaraan sebelum menabrak kendaraan yang berada di depannya.
Tabrakan melibatkan sembilan kendaraan. Rinciannya terdiri atas tiga truk, lima mobil minibus, dan satu sepeda motor.
Benturan keras membuat dua truk terguling di badan jalan. Beberapa minibus juga mengalami kerusakan parah. Bobot kendaraan angkutan membuat bodi mobil ringsek hampir di seluruh bagian.
Empat Korban Meninggal di Lokasi
Petugas gabungan langsung mengevakuasi korban yang terjebak di dalam kendaraan.
Empat korban meninggal dunia ialah Heppi Sitinjak (60), Dinaria Manik (60), Samsir Sitinjak (30), yang berasal dari Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi, serta Anton Simorangkir.
Keluarga korban harus menerima kabar duka setelah perjalanan yang semula berlangsung biasa berubah menjadi tragedi.
Delapan Korban Jalani Perawatan
Enam korban luka berat menjalani perawatan di RSUP H Adam Malik Medan. Mereka ialah Rafika Lince (41), Harga Ulina (50), Seventri Amandasari Manihuruk (27), Five Sitinjak (11), Gabe Roida Sitinjak (18), dan Rinto Sitinjak (23).
Sementara itu, Siti Mawan (61) dan Febrianto Siburian (31) menjalani perawatan di Puskesmas Sibolangit.
Manajer Hukum dan Humas RSUP H Adam Malik, Rosario Dorothy Simanjuntak, mengatakan seluruh korban tiba dalam keadaan sadar.
“Mereka mengalami patah tulang dan cedera kepala. Saat ini seluruh pasien dalam kondisi stabil dan menjalani penanganan di Instalasi Gawat Darurat,” ujarnya.
Polisi Periksa Sopir dan Selidiki Penyebab
Polisi mengamankan sopir truk berinisial Ilham (50). Ia hanya mengalami luka ringan.
Penyidik memeriksa sejumlah saksi dan melakukan olah tempat kejadian perkara. Mereka ingin memastikan penyebab kecelakaan secara menyeluruh.
Selain dugaan rem blong, penyidik juga mendalami kemungkinan adanya kelalaian. Pemeriksaan mencakup kondisi teknis kendaraan sebelum beroperasi.
Proses evakuasi membuat arus lalu lintas di Jalan Medan-Berastagi sempat terhenti total.
Petugas mengalihkan kendaraan kecil melalui jalur alternatif. Setelah seluruh kendaraan berhasil dievakuasi, petugas kembali membuka akses jalan pada Jumat siang.
Jalur Berisiko Tinggi Kembali Menelan Korban
Kecelakaan di Sibolangit kembali menyoroti persoalan keselamatan kendaraan berat yang melintasi jalur pegunungan.
Akademisi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia, Djoko Setijowarno, menilai tragedi tersebut harus menjadi momentum evaluasi nasional.
Menurut Djoko, Indonesia kehilangan sekitar 100 jiwa setiap hari akibat kecelakaan lalu lintas. Angka itu menunjukkan keselamatan jalan belum menjadi prioritas utama.
Ia menegaskan pemeriksaan kendaraan secara berkala dapat menekan risiko kegagalan sistem pengereman. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat pengawasan dan tidak mengurangi anggaran keselamatan transportasi.
“Setiap hari 100 jiwa meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Seharusnya ini menggugah hati dan pikiran pejabat pemerintah untuk lebih peduli pada keselamatan berlalu lintas,” kata Djoko.
Rem Blong Bukan Penyebab Tunggal
Istilah “rem blong” kembali muncul dalam tragedi Sibolangit. Namun, penyebab kecelakaan kendaraan berat biasanya tidak berdiri sendiri.
Kurangnya perawatan armada, kelebihan muatan, pemeriksaan kendaraan yang lemah, hingga minimnya pengawasan sering menjadi rangkaian penyebab sebelum kecelakaan terjadi.
Ketika berbagai faktor itu bertemu dengan jalur pegunungan yang curam, risiko korban jiwa meningkat drastis.
Keselamatan Harus Dimulai Sebelum Kecelakaan Terjadi
Empat orang kehilangan nyawa dalam perjalanan yang seharusnya berlangsung normal. Delapan korban lainnya masih menjalani perawatan akibat luka serius. Di sisi lain, keluarga korban harus menghadapi kehilangan yang tidak mungkin dipulihkan.
Tragedi Sibolangit menunjukkan bahwa keselamatan jalan tidak hanya bergantung pada keterampilan pengemudi. Pemerintah harus memperketat pengawasan. Perusahaan angkutan wajib memastikan armadanya laik jalan. Pengelola kendaraan juga harus menjalankan perawatan secara berkala.
Selama semua pihak baru bergerak setelah kecelakaan terjadi, jalur rawan seperti Jalan Medan-Berastagi akan terus menyisakan ancaman bagi setiap pengguna jalan. @dimas







