Rabu, Juli 1, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dari Lereng Lawu, Kraton Surakarta Gelar Wilujengan Kiblat Sekawan

by dimas
Juni 30, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter
Kraton Surakarta menggelar Wilujengan Kiblat Sekawan di lereng Gunung Lawu sebagai tradisi Bulan Sura untuk menjaga harmoni alam, budaya, dan spiritualitas.

Tabooo.id: Surakarta – Kabut tipis masih menggantung di lereng Gunung Lawu ketika ratusan Abdi Dalem mulai memenuhi Gerbang Pendakian Cemoro Kandang, Selasa (30/6/2026). Mereka melangkah pelan dengan balutan busana adat Jawa. Sementara itu, lantunan doa perlahan menggantikan suara angin yang berembus dari lereng pegunungan.

Suasana sakral itu menandai dimulainya Wilujengan Kiblat Sekawan, tradisi spiritual Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang selalu hadir pada Bulan Sura. Tahun ini menghadirkan makna yang lebih istimewa. Sebab, Sri Susuhunan Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan (SISKS) Pakoe Boewono XIV untuk pertama kalinya memimpin langsung prosesi tersebut sejak naik takhta.

Momentum itu tidak hanya menandai peringatan Bulan Sura 2026 atau Tahun Jawa Be 1960. Lebih dari itu, Kraton kembali menegaskan pesan yang terus hidup dari generasi ke generasi, yaitu menjaga keselarasan hubungan manusia dengan alam, sesama manusia, dan Allah SWT.

Tradisi Wilujengan Kiblat Sekawan selalu menempati posisi penting dalam kalender spiritual Kraton Surakarta. Selain itu, prosesi tersebut melambangkan empat penjuru mata angin yang menopang keseimbangan kerajaan. Karena itu, masyarakat memaknainya sebagai doa bersama untuk keselamatan, ketenteraman, dan keberlangsungan alam semesta.

Atas dhawuh langsung SISKS Pakoe Boewono XIV, Kraton memulai rangkaian ritual tahun ini dari kawasan timur kerajaan, tepatnya di Gerbang Pendakian Cemoro Kandang, lereng Gunung Lawu. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Sebab, kawasan tersebut memiliki hubungan sejarah sekaligus filosofi yang kuat dalam kosmologi Jawa.

Ini Belum Selesai

Rp600 Triliun Ekspor Sawit, Setahun Menguap, Siapa yang Selama Ini Diuntungkan?

Danantara Libatkan KPK Sebelum Hilirisasi Dimulai, Tata Kelola Jadi Sorotan

Sejak pagi, ratusan Abdi Dalem, Sentana Dalem, kerabat, dan keluarga Raja mengikuti setiap tahapan prosesi dengan penuh kekhusyukan. Hadir pula Prameswari PB XIII yang juga merupakan Ibunda PB XIV bersama GKR Ageng.

Seluruh peserta mengenakan busana adat Jawa lengkap. Dengan demikian, kehadiran mereka tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menunjukkan kesinambungan budaya yang tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Prosesi berlangsung sederhana, tetapi sarat makna. Kemudian, para ulama Kraton memimpin doa bersama untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, ketenteraman, serta perlindungan dari berbagai marabahaya bagi masyarakat.

Gunung Lawu Menjadi Simbol Keseimbangan Kehidupan

Sementara itu, Pengangeng Parentah Kraton Kasunanan Surakarta, KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo, menegaskan bahwa Gunung Lawu bukan sekadar lokasi pelaksanaan ritual.

Menurutnya, Lawu menyimpan filosofi besar mengenai keseimbangan kehidupan yang terus dijaga Kraton Kasunanan Surakarta.

“Kegiatan di Gunung Lawu mencerminkan filosofi keseimbangan alam yang terus dijaga Karaton Kasunanan Surakarta. Dalam pandangan karaton, kehidupan harus berjalan selaras, yaitu harmonis antara manusia dengan alam, manusia dengan sesama makhluk hidup, dan manusia dengan Allah SWT.”

Lebih lanjut, Dipokusumo menjelaskan bahwa setiap prosesi di Gunung Lawu mengandung nilai sejarah sekaligus pendidikan spiritual. Bahkan, masyarakat masih dapat menelusuri jejak tersebut melalui Candi Cetho dan sejumlah situs budaya lain yang tersebar di kawasan Lawu.

Menurutnya, ritual itu tidak hanya menjaga tradisi. Sebaliknya, ritual tersebut mengajak masyarakat memahami kembali hubungan manusia dengan alam dan perjalanan sejarah peradaban Jawa.

Sesaji Menjadi Simbol Syukur kepada Allah SWT

Di sisi lain, Dipokusumo juga meluruskan pandangan masyarakat mengenai sesaji yang hadir dalam prosesi Wilujengan Kiblat Sekawan.

Ia menegaskan bahwa Kraton tidak menjadikan sesaji sebagai bentuk pemujaan. Sebaliknya, seluruh unsur sesaji menjadi simbol rasa syukur kepada Allah SWT.

“Seluruh unsur sesaji berasal dari ciptaan Allah SWT, mulai dari hasil pertanian, makanan, tumbuh-tumbuhan hingga hewan. Filosofi ini mengajarkan bahwa manusia dapat memanfaatkan seluruh ciptaan Allah secara bijaksana untuk kemaslahatan bersama.”

Selanjutnya, Dipokusumo menjelaskan bahwa masyarakat mengolah hasil bumi menjadi hidangan sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT. Dengan begitu, tradisi tersebut sekaligus mengingatkan manusia agar menjaga keseimbangan alam yang telah memberi kehidupan.

Empat Penjuru Menopang Keseimbangan Kerajaan

Dalam pandangan Kraton Kasunanan Surakarta, Kiblat Sekawan tidak hanya menunjukkan arah mata angin.

Sebaliknya, konsep tersebut menggambarkan empat penyangga keseimbangan kehidupan kerajaan. Keempat titik itu meliputi Gunung Lawu di timur, Pantai Parangkusumo di selatan, Gunung Merapi di barat, dan Alas Krendowahono di utara.

Masing-masing lokasi memiliki makna filosofis yang saling melengkapi. Oleh karena itu, Kraton menggelar Wilujengan Kiblat Sekawan secara bergantian di setiap titik tersebut. Melalui cara itu, Kraton terus menyatukan nilai budaya, spiritualitas, serta hubungan manusia dengan alam.

Warisan Budaya yang Terus Menyapa Masa Depan

Pelaksanaan Wilujengan Kiblat Sekawan tahun ini menjadi penanda penting dalam masa kepemimpinan SISKS Pakoe Boewono XIV. Namun, makna tradisi ini jauh melampaui sebuah seremoni tahunan.

Pada akhirnya, Gunung Lawu bukan sekadar bentang alam yang berdiri megah di timur Pulau Jawa. Sebaliknya, gunung itu mengingatkan bahwa peradaban akan tetap kokoh ketika manusia menjaga keseimbangan dengan alam, menghormati sejarah, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Karena itulah, Kraton Kasunanan Surakarta terus merawat Wilujengan Kiblat Sekawan sebagai warisan budaya yang hidup. Tradisi ini bukan hanya menjaga jejak leluhur, melainkan juga menanamkan nilai yang tetap relevan bagi generasi masa depan. Di tengah perubahan zaman yang terus bergerak, pesan tentang harmoni itulah yang justru semakin menemukan maknanya. @dimas

Tags: BudayaBulan SuraGunung LawuKraton Kasunanan SurakartaPakoe Boewono XIVTradisi JawaWilujengan Kiblat Sekawan

Kamu Melewatkan Ini

TABOOO Cinema Lab: Mengubah Realitas Menjadi Film Dokumenter

TABOOO Cinema Lab: Mengubah Realitas Menjadi Film Dokumenter

by dimas
Juli 1, 2026

TABOOO Cinema Lab menghadirkan pelatihan film dokumenter bersama filmmaker Wahyu Utami untuk mengubah cerita budaya menjadi karya yang bermakna. Tabooo.id...

TABOOO Cultural Production Hadir di Bersih Desa Winongo

TABOOO Cultural Production Hadir di Bersih Desa Winongo

by dimas
Juni 30, 2026

TABOOO Cultural Production hadir di Bersih Desa Winongo untuk mengubah tradisi menjadi dokumentasi, pengetahuan, karya kreatif, dan intellectual property budaya....

Karnaval Usai, Peradaban Diuji: Sampah Jadi Cermin Seperti Apa Kesadaran Publik

Karnaval Usai, Peradaban Diuji: Sampah Jadi Cermin Seperti Apa Kesadaran Publik

by teguh
Juni 27, 2026

"Masalah sampah di Indonesia bukan hanya persoalan teknis pengelolaan, tetapi persoalan pola pikir. Selama masyarakat masih menganggap sampah sebagai masalah...

Next Post
TABOOO Cinema Lab: Mengubah Realitas Menjadi Film Dokumenter

TABOOO Cinema Lab: Mengubah Realitas Menjadi Film Dokumenter

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id