Kisah inspiratif Arief Rahman, putra Magetan yang menapaki dunia jurnalistik hingga menjadi salah satu tokoh media digital di Indonesia.
Tabooo.id – Di sebuah rumah sederhana di kaki Gunung Lawu, seorang anak kecil rutin berjalan kaki sekitar dua kilometer menuju sekolah setiap pagi. Jalan itu bukan sekadar rute menuju ruang kelas. Jalan itu menjadi lintasan panjang yang kemudian mengantarkannya menjadi salah satu figur penting dalam dunia media digital, pendidikan, dan pariwisata di Jawa Timur.
Anak itu bernama Arief Rahman.
Ayahnya, Rachmadi, memberikan nama Arief Rahman sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh pendidikan nasional, Profesor Dr. Arief Rahman. Nama itu bukan sekadar identitas. Nama itu tumbuh menjadi doa yang terus mengiringi perjalanan hidupnya.
Kini, masyarakat mengenal Arief Rahman sebagai Direktur Utama LensaIndonesia.com, Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jawa Timur, Ketua Harian Komite Komunikasi Digital Jawa Timur, akademisi, sekaligus pegiat pariwisata. Namun, seluruh capaian itu lahir melalui proses panjang yang penuh disiplin, kerja keras, dan ketekunan.
Prestasi yang Tumbuh dari Kesederhanaan
Ayah Arief mengelola bengkel las, sedangkan ibunya berdagang pakaian di Pasar Baru Magetan. Meski hidup sederhana, keduanya selalu menanamkan nilai kerja keras, kejujuran, dan kepedulian kepada sesama.
Karena itu, Arief tumbuh menjadi anak yang mencintai belajar. Selama bersekolah di SD Negeri II Magetan, ia hampir selalu menempati peringkat pertama di kelas.
Namun, prestasi akademik bukan satu-satunya cerita.
Setiap sore, sang ayah melatih Arief bermain tenis meja dengan disiplin tinggi. Latihan yang konsisten akhirnya membuahkan hasil. Bahkan, ketika masih duduk di kelas III SD, Arief berhasil menjuarai Kejuaraan Tenis Meja tingkat Kabupaten Magetan.
Sejak kecil, ia memahami satu pelajaran penting. Tidak ada kemenangan yang datang tanpa latihan.
Kepemimpinan yang Terbentuk Sejak Dini
Selain berprestasi, Arief juga menunjukkan bakat memimpin. Guru-gurunya berkali-kali memilihnya menjadi ketua kelas.
Memasuki SMP Negeri 1 Magetan, ia mempertahankan prestasi akademiknya. Selain meraih peringkat pertama, ia aktif mengikuti pramuka, basket, tenis meja, dan organisasi OSIS.
Tidak berhenti di situ, Arief bersama teman-temannya membentuk grup band yang cukup dikenal di wilayah bekas Karesidenan Madiun.
Semua aktivitas itu mengasah kemampuan memimpin, bekerja sama, sekaligus membangun kepercayaan diri.
SMA Menjadi Ruang Pembentukan Karakter
Perjalanan Arief semakin matang ketika belajar di SMA Negeri 1 Magetan.
Ia kembali meraih juara umum sekolah. Selain itu, ia mengikuti Olimpiade Matematika, memperkuat tim Cerdas Cermat TVRI Surabaya, dan memperoleh nilai sempurna 10,00 untuk mata pelajaran Bahasa Inggris pada Ujian Akhir Nasional.
Di luar ruang kelas, Arief memimpin tim basket sekolah sebagai kapten. Ia juga mengelola majalah sekolah sebagai pemimpin redaksi sekaligus memimpin OSIS.
Berkat konsistensi tersebut, Kabupaten Magetan menganugerahinya gelar Pelajar Teladan.
Prestasi demi prestasi menunjukkan bahwa karakter sering kali menentukan arah keberhasilan, bukan sekadar kecerdasan.
Dari Dunia Teknik Menuju Dunia Jurnalistik
Setelah lulus SMA, Arief lolos UMPTN dan memilih kuliah di Jurusan Teknik Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.
Di kampus, ia tidak hanya mempelajari ilmu teknik. Sebaliknya, ia aktif mengikuti berbagai organisasi mahasiswa, mulai dari Pekan Ilmiah Mahasiswa ITS, Senat Mahasiswa Fakultas Teknologi Kelautan, BEM ITS, hingga organisasi eksternal seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Forum Mahasiswa Indonesia.
Pengalaman organisasi itulah yang kemudian memperkenalkannya pada dunia jurnalistik.
Pada 1999, Arief memulai karier sebagai wartawan Harian Memorandum Surabaya. Selanjutnya, pada tahun 2000, ia bersama tokoh Petisi 50 Jalil Latuconsina dan sejumlah aktivis 1998 mendirikan Tabloid Sapujagat.
Sejak saat itu, ia tidak hanya menulis berita. Ia juga membangun keyakinan bahwa media mampu membentuk cara masyarakat memahami realitas.
Belajar Tanpa Garis Akhir
Karier yang terus berkembang tidak membuat Arief berhenti belajar.
Sebaliknya, ia menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen Strategi di Universitas Airlangga. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan doktor hingga meraih gelar Doktor Ilmu Manajemen dari universitas yang sama.
Baginya, ruang kuliah dan ruang redaksi saling melengkapi.
Ilmu memperkaya pengalaman. Sebaliknya, pengalaman menguji setiap teori.
Menjaga Kepercayaan di Tengah Arus Informasi
Saat ini Arief memimpin LensaIndonesia.com di tengah perubahan besar dunia media digital.
Selain itu, AMSI Jawa Timur mempercayainya memimpin organisasi media siber di tingkat provinsi. Pada saat yang sama, ia juga menjalankan amanah sebagai Ketua Harian Komite Komunikasi Digital Jawa Timur.
Melalui berbagai forum, Arief terus mengingatkan pentingnya menjaga kualitas jurnalisme.
Menurutnya, media tidak cukup berlomba menjadi yang tercepat. Media juga harus menjaga kepercayaan publik sebagai modal terpenting.
Mengabdi Lewat Pariwisata
Di luar dunia media, Arief aktif mendorong pengembangan pariwisata Jawa Timur.
Melalui Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Provinsi Jawa Timur, ia terus memperkenalkan potensi wisata daerah, terutama Magetan.
Baginya, kampung halaman bukan sekadar tempat kelahiran. Kampung halaman merupakan identitas yang harus terus berkembang.
Karena itu, ia juga aktif dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).
Rumah Menjadi Tempat Kembali
Di balik kesibukan profesionalnya, Arief tetap menempatkan keluarga sebagai prioritas.
Bersama sang istri, Ikke Hapsari Yulianita, teman semasa SMA yang juga alumnus Kimia FMIPA Universitas Airlangga, ia membesarkan dua putra, Shah Athar Rahman dan Affan Haidar Rahman.
Mereka membangun keluarga dengan keyakinan bahwa pendidikan, kasih sayang, dan keteladanan merupakan warisan terbaik bagi anak-anak.
Lebih dari Sebuah Biografi
Perjalanan Arief Rahman memperlihatkan pola yang menarik.
Ia tidak lahir dari keluarga elite. Ia juga tidak menikmati jalan pintas menuju berbagai jabatan penting.
Sebaliknya, ia membangun setiap tahap kehidupannya melalui disiplin, pendidikan, organisasi, dan kerja keras.
Karena itu, reputasi yang ia miliki hari ini bukan hasil keberuntungan. Reputasi itu lahir dari konsistensi yang terus ia rawat selama puluhan tahun.
Di tengah zaman yang sering mengutamakan popularitas, Arief memilih memperkuat kapasitas. Setelah kapasitas tumbuh, kepercayaan pun datang mengikuti.
Pada akhirnya, kisah Arief Rahman bukan sekadar perjalanan seorang jurnalis. Kisah ini menunjukkan bahwa karakter selalu lahir lebih dahulu daripada jabatan. Sementara itu, keberhasilan tidak pernah muncul secara instan. Keberhasilan tumbuh perlahan melalui langkah-langkah kecil yang terus dijaga setiap hari. @dimas







