LA Indie Movie Jogja cetak generasi baru sineas Indonesia melalui workshop, pitching, dan dukungan produksi film. Antusiasme peserta hampir tembus 600 orang.
Tabooo.id: Yogyakarta – Riuh percakapan memenuhi Gedung Pertemuan Taman Perwacy, Yogyakarta, Sabtu (20/6/2026). Sejak pagi, ratusan anak muda berdatangan dari berbagai kota untuk mengikuti LA Indie Movie, program pengembangan sineas muda yang kembali menyambangi Kota Pelajar.
Mereka datang bukan sekadar untuk mendengar cerita para pelaku industri film. Mereka datang membawa mimpi, ide, dan harapan agar suatu hari karya mereka bisa tampil di layar lebar.
Antusiasme itu terlihat dari jumlah peserta yang nyaris menyentuh angka 600 orang pada hari pertama pelaksanaan workshop.
Director Padi Padi Creative selaku mitra penyelenggara LA Indie Movie, Rina Damayanti, mengatakan tingginya jumlah peserta menunjukkan besarnya minat generasi muda terhadap dunia perfilman.
“Hampir 600 peserta. Tadi pagi sekitar 567 orang dan masih terus berdatangan. Mudah-mudahan bisa tembus 600,” ujar Rina.
Menurutnya, peserta tidak hanya berasal dari Yogyakarta. Banyak peserta datang dari Semarang, Salatiga, Kudus, dan sejumlah daerah lain di Jawa Tengah maupun DIY.
Fenomena itu menunjukkan satu hal industri film masih menjadi ruang yang menarik bagi anak muda untuk berkarya dan menyuarakan gagasan mereka.
Dari Ide hingga Pascaproduksi
LA Indie Movie tahun ini mengemas kegiatan dalam dua hari, yakni 20-21 Juni 2026. Pada hari pertama, penyelenggara menghadirkan serangkaian workshop yang membahas seluruh tahapan produksi film, mulai dari pencarian ide hingga proses pascaproduksi.
Sesi pertama bertajuk Inspiration Session menghadirkan aktris Asmara Abigail, Loeloe Hendra, dan sutradara Garin Nugroho. Mereka berbagi pengalaman tentang perjalanan kreatif dan tantangan yang mereka hadapi di industri perfilman.
Setelah itu, peserta mengikuti Ideation Session bersama Joko Anwar dan Tia Hasibuan yang membahas cara membangun cerita serta mengembangkan gagasan menjadi naskah yang kuat.
Workshop berlanjut dengan Visual Session yang menghadirkan Dita Gambiro dan Ical Tanjung untuk mengupas aspek visual dalam film. Sementara sesi terakhir, Post-Pro Session, mempertemukan peserta dengan Andhy Pulung, Upie Guava, dan Odair Faleco yang membahas proses penyuntingan hingga penyelesaian film.
Rangkaian materi tersebut menunjukkan bahwa LA Indie Movie tidak hanya menawarkan motivasi, tetapi juga memberikan pemahaman menyeluruh mengenai proses produksi film.
Bukan Sekadar Workshop
Di tengah banyaknya kelas kreatif yang bermunculan, LA Indie Movie menawarkan sesuatu yang berbeda.
Program ini tidak berhenti pada pemberian materi. Penyelenggara juga membuka peluang nyata bagi peserta untuk mewujudkan ide mereka menjadi film.
Pada hari kedua, peserta akan mengikuti sesi Story Pitch dan Talent Hunt. Sebelumnya, mereka harus membentuk kelompok yang terdiri atas produser, sutradara, dan penulis naskah. Setiap kelompok kemudian menyusun konsep cerita untuk dikurasi oleh dewan juri.
Panitia akan memilih sekitar 10 hingga 15 karya terbaik untuk dipresentasikan langsung di hadapan para juri.
Bagi peserta muda, kesempatan tersebut memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar kompetisi.
Mereka bisa memperkenalkan ide, membangun jaringan profesional, dan mendapatkan masukan langsung dari nama-nama besar industri film Indonesia.
“Nggak cuma kesempatan pitching, tapi teman-teman juga bisa langsung berkenalan dan membangun relasi. Mudah-mudahan itu menjadi pembuka jalan,” ujar Rina.
Mencari Sineas Baru dari Daerah
Program LA Indie Movie juga membawa misi yang lebih luas, yakni membuka akses bagi talenta-talenta film dari berbagai daerah.
Selama ini, banyak sineas muda memiliki ide dan kemampuan, tetapi kesulitan menemukan ruang untuk menunjukkan karya mereka kepada industri.
Melalui program ini, penyelenggara mencoba menjembatani kesenjangan tersebut.
Kelompok dengan ide terbaik akan mendapatkan mentoring sekaligus dukungan produksi senilai Rp100 juta untuk merealisasikan film mereka.
Kesempatan itu menjadikan LA Indie Movie bukan hanya ajang belajar, melainkan pintu masuk menuju industri perfilman profesional.
Di tengah berkembangnya platform digital dan maraknya konten video pendek, program seperti ini menjadi pengingat bahwa industri film tetap membutuhkan regenerasi.
Bukan hanya regenerasi teknis, tetapi juga regenerasi gagasan.
Karena pada akhirnya, kemajuan perfilman Indonesia tidak hanya bergantung pada teknologi atau peralatan produksi.
Ia bergantung pada keberanian generasi baru untuk menciptakan cerita yang berbeda dan suara yang benar-benar mereka miliki.
Dari Yogyakarta, harapan itu kembali menemukan ruang untuk tumbuh. @dimas







