Winongo Madiun menyimpan sejarah panjang sebagai kampung nelayan, pusat Persaudaraan Setia Hati, hingga destinasi wisata budaya di bantaran Bengawan Madiun.
Tabooo.id – Pagi datang perlahan di bantaran Bengawan Madiun. Cahaya matahari memantul di permukaan air yang bergerak tenang. Dari kejauhan terdengar aktivitas warga yang memulai hari. Sulit membayangkan bahwa kawasan yang kini dipenuhi ruang publik, jalur olahraga, dan kampung tematik ini pernah menjadi salah satu titik terpenting dalam perjalanan panjang Kota Madiun.
Di sinilah Winongo berdiri.
Kelurahan yang kini berada di Kecamatan Manguharjo itu bukan sekadar kawasan permukiman di pinggir kota. Winongo merupakan saksi perubahan zaman. Kawasan ini tumbuh dari permukiman kuno di tepi Bengawan Madiun, berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi, ruang kebudayaan, hingga melahirkan salah satu warisan pencak silat terbesar di Indonesia.
Jejak Kampung Nelayan di Tepi Bengawan
Nama Winongo menyimpan cerita yang lebih tua daripada usia banyak bangunan yang berdiri hari ini.
Sebagian sejarawan mengaitkan nama Winongo dengan kata Sanskerta minangha yang berarti tempat para pencari ikan. Nama itu lahir dari kehidupan masyarakat yang sejak dahulu menggantungkan hidup pada sungai. Bengawan Madiun kala itu menjadi jalur perdagangan, pelabuhan perahu, sekaligus pusat aktivitas perikanan yang ramai.
Versi lain menyebut nama Winongo berasal dari Pohon Winong atau Binong yang dahulu tumbuh besar di kawasan tersebut. Apa pun asal-usulnya, kedua versi itu menunjukkan hubungan kuat antara masyarakat Winongo dan alam sekitarnya.
Sungai bukan sekadar bentang geografis. Sungai menjadi ruang hidup yang membentuk identitas masyarakat selama berabad-abad.
Bagian Penting dari Madiun Kuno
Sejarah Winongo tidak bisa dipisahkan dari perkembangan awal Madiun.
Wilayah ini mencakup sejumlah padukuhan lama seperti Krajan, Tambakboyo, Boboran, dan Brengosan. Letaknya yang strategis di tepian sungai menjadikan kawasan ini memiliki peran penting dalam kehidupan ekonomi maupun geopolitik sejak masa Gagelang hingga era Kesultanan Mataram.
Perahu hilir mudik membawa hasil bumi, ikan, dan berbagai kebutuhan masyarakat. Aktivitas perdagangan tumbuh di sepanjang aliran sungai. Karena itu, kawasan bantaran Bengawan Madiun berkembang menjadi salah satu pusat kehidupan masyarakat pada masanya.
Di balik ketenangan sungai hari ini, tersimpan jejak sebuah peradaban yang pernah bergerak sangat dinamis.
Winongo dan Lahirnya Persaudaraan Setia Hati
Bagi banyak orang, nama Winongo identik dengan dunia pencak silat.
Kawasan ini menjadi pusat perkembangan Persaudaraan Setia Hati Winongo. Pada 15 Oktober 1966, Raden Djimat Hendro Soewarno, murid kesayangan pendiri Setia Hati Ki Ngabehi Soerodwirjo, mendirikan organisasi tersebut secara resmi di Winongo.
Dari padepokan yang berdiri di kawasan ini, nilai persaudaraan, kedisiplinan, spiritualitas, dan budaya Jawa terus berkembang. Ribuan anggota dari berbagai daerah datang untuk belajar sekaligus menjaga warisan yang telah tumbuh selama puluhan tahun.
Karena itu, Winongo bukan hanya dikenal sebagai wilayah geografis. Nama ini juga melekat sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Madiun.
Ketika Dermaga Berubah Menjadi Ruang Publik
Waktu terus bergerak. Winongo pun ikut berubah.
Pada era 1960-an hingga 1990-an, warga masih memanfaatkan perahu penyeberangan sebagai sarana transportasi penting. Dermaga-dermaga kecil menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat bantaran sungai.
Kini pemandangan itu sudah berbeda.
Pemerintah Kota Madiun mengembangkan kawasan bantaran sungai menjadi ruang publik yang lebih modern. Salah satu simbol transformasi tersebut adalah Sport Center Bahtera Kencana (SCBK).
Warga kini memanfaatkan kawasan itu untuk berolahraga, memancing, bermain, dan berkumpul bersama keluarga. Tempat yang dahulu menjadi jalur penyeberangan kini berubah menjadi ruang interaksi sosial yang lebih terbuka.
Transformasi itu menunjukkan bahwa sebuah kawasan bisa bergerak maju tanpa harus menghapus jejak sejarahnya.
Merawat Budaya di Tengah Arus Modernisasi
Perubahan fisik bukan satu-satunya hal yang terjadi di Winongo.
Masyarakat setempat terus menjaga berbagai tradisi budaya. Kesenian karawitan masih hidup. Tradisi Ruwatan Bumi tetap berlangsung. Berbagai kegiatan budaya juga terus melibatkan generasi muda agar tidak kehilangan hubungan dengan akar sejarahnya.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, Winongo memilih cara yang berbeda. Kawasan ini tidak meninggalkan masa lalu demi terlihat modern. Sebaliknya, masyarakat menjadikan sejarah sebagai fondasi untuk melangkah ke masa depan.
Pilihan itu membuat Winongo memiliki karakter yang khas.
Sungai yang Menyimpan Ingatan
Winongo hari ini dikenal sebagai kampung tematik, ruang budaya, sekaligus kawasan wisata edukatif. Namun di balik wajah modern tersebut, tersimpan kisah panjang tentang sungai, perdagangan, budaya, dan manusia yang hidup berdampingan dengan perubahan zaman.
Ini bukan sekadar cerita tentang sebuah kelurahan di Kota Madiun.
Ini adalah kisah tentang sebuah kampung yang memilih untuk mengingat ketika banyak tempat lain mulai melupakan sejarahnya sendiri.
Bengawan Madiun terus mengalir membawa waktu. Namun Winongo membuktikan bahwa sejarah tidak selalu hanyut bersama arus. Ada tempat-tempat yang tetap menjaga ingatan, lalu mengubahnya menjadi arah untuk menatap masa depan. @dimas







