Selama bertahun-tahun, krisis iklim Indonesia dibahas dalam ruang-ruang formal. Pemerintah menyusun kebijakan. Akademisi menerbitkan riset. Aktivis menggelar kampanye. Perusahaan meluncurkan program keberlanjutan.
Tabooo.id – Namun ada satu pertanyaan yang terus mengendap. Jika semua pihak sudah berbicara tentang perubahan iklim Indonesia, mengapa sebagian besar masyarakat masih merasa isu tersebut jauh dari kehidupan mereka?
Padahal cuaca ekstrem semakin sering terjadi. Harga pangan terus berfluktuasi. Kualitas udara memburuk di banyak kota. Sementara itu, jutaan keluarga masih menganggap krisis iklim sebagai persoalan ilmuwan dan aktivis lingkungan dan disinilah paradoks itu muncul.
Krisis iklim mungkin tidak kekurangan data. Sebaliknya, masyarakat justru dibanjiri informasi setiap hari. Yang kurang adalah ruang percakapan yang mampu menghubungkan persoalan global dengan kehidupan sehari-hari.
Sabtu, 30/05/2026, komunitas perempuan Buibu Baca Buku (BBB) menggelar acara “Buibu Berdaya Bumi Dari Literasi Jadi Aksi” di Galeri Emiria Soenassa, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Kegiatan tersebut menjadi refleksi perjalanan program Climate Literacy for Mothers yang berjalan sejak 2024.
Sekilas, acara ini tampak seperti kegiatan komunitas literasi biasa. Namun jika diamati lebih jauh, ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang tumbuh.
BBB tidak hanya mengajak masyarakat membaca buku. Komunitas ini sedang membangun kesadaran.
Dan dalam banyak perubahan sosial, kesadaran sering menjadi fondasi yang lebih kuat daripada kampanye sesaat.
Ketika Krisis Iklim Turun ke Meja Makan
Selama ini, isu iklim hidup di ruang yang terasa jauh dari sebagian masyarakat.
Diskusi publik dipenuhi istilah seperti emisi karbon, dekarbonisasi, transisi energi, hingga target net zero emission.
Semua istilah tersebut memang penting. Akan tetapi, sebagian besar keluarga Indonesia menghadapi persoalan yang jauh lebih konkret seperti, Tagihan listrik, Harga beras, Biaya hidup, Kualitas udara, Ketersediaan air bersih.
Karena itu, BBB memilih pendekatan yang berbeda. Alih-alih memulai dari grafik dan laporan ilmiah, mereka memulai dari cerita.
Komunitas ini mengajak masyarakat memahami iklim melalui buku anak, kegiatan membaca nyaring, diskusi keluarga, hingga percakapan sehari-hari yang terasa lebih dekat.
Pendiri sekaligus Direktur Eksekutif Buibu Baca Buku, Puty Puar, mengatakan bahwa program tersebut berkembang jauh melampaui target awal.
“Program ini telah menjangkau hampir 9.000 penerima manfaat di seluruh Indonesia dan bekerja sama dengan lebih dari seratus kolaborator.”
Selama dua tahun terakhir, BBB mengintegrasikan literasi iklim ke berbagai kegiatan komunitas.
Mereka mengadakan diskusi buku, melatih teknik membaca nyaring, menyelenggarakan lokakarya, serta membangun kolaborasi dengan taman baca masyarakat di berbagai daerah.
Hasilnya terlihat cukup signifikan dan Lebih dari seratus komunitas lokal dan taman baca masyarakat di 16 provinsi ikut terlibat dalam gerakan tersebut.
Meski jumlah itu belum sebesar program nasional, perubahan sosial memang jarang lahir dari skala besar pada tahap awal.
Sebaliknya, perubahan sering tumbuh dari komunitas kecil yang bergerak secara konsisten dan memiliki kedekatan emosional dengan anggotanya.
Mengapa Kampanye Iklim Sering Gagal Menyentuh Publik?
Ada satu persoalan yang jarang dibahas secara terbuka. Banyak kampanye lingkungan berbicara kepada masyarakat.
Namun hanya sedikit yang berbicara bersama masyarakat dan Perbedaannya tampak sederhana.
Padahal dampaknya sangat besar Ketika informasi bergerak satu arah, masyarakat hanya menjadi penerima pesan. Sebaliknya, ketika percakapan berlangsung dua arah, masyarakat mulai merasa memiliki persoalan tersebut.
Sosiolog Universitas Indonesia, Prof. Dr. Imam Prasodjo, pernah menjelaskan bahwa perubahan sosial tidak lahir hanya dari penyebaran informasi.
“Perubahan perilaku terjadi ketika masyarakat merasa isu tersebut dekat dengan identitas dan kehidupan mereka.”
Pernyataan itu menjelaskan mengapa banyak kampanye lingkungan gagal menghasilkan perubahan perilaku jangka panjang.
Masyarakat mungkin memahami masalahnya. Namun pemahaman tidak selalu berubah menjadi tindakan.
Di sinilah komunitas memainkan peran penting. Kepercayaan tumbuh melalui komunitas. Percakapan berkembang melalui komunitas.
Sementara itu, perubahan perilaku sering berawal dari komunitas yang mampu membangun kedekatan emosional dengan anggotanya.
Karena alasan itulah pendekatan akar rumput memiliki kekuatan yang sering tidak dimiliki kampanye berskala besar.
Dari Penerima Informasi Menjadi Agen Perubahan
Program BBB juga menghadirkan perubahan cara pandang yang menarik. Selama ini, banyak kampanye lingkungan menempatkan ibu rumah tangga sebagai sasaran edukasi.
BBB justru menempatkan mereka sebagai penggerak perubahan karena Perbedaan itu sangat penting. Seseorang yang menjadi target edukasi hanya menerima informasi.
Sebaliknya, seseorang yang menjadi agen perubahan ikut menentukan arah perubahan itu sendiri.
Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai penelitian pendidikan lingkungan yang menempatkan keluarga sebagai ruang pertama pembentukan perilaku ekologis.
Guru Besar Pendidikan Lingkungan Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. Dedi Supriadi, menilai bahwa kebiasaan sehari-hari memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan slogan kampanye.
“Anak belajar dari apa yang dilakukan orang tuanya. Kesadaran lingkungan tumbuh dari kebiasaan yang berulang di rumah.”
Karena itu, ketika seorang ibu memahami hubungan antara energi, pangan, konsumsi, dan perubahan iklim, dampaknya tidak berhenti pada satu individu.
Pengetahuan tersebut menyebar ke anggota keluarga. Selanjutnya, kebiasaan baru memengaruhi lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, perubahan itu perlahan membentuk budaya sosial yang lebih sadar lingkungan.
Proses seperti inilah yang sering luput dari perhatian pembuat kebijakan.
Padahal perubahan besar hampir selalu berawal dari perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Infrastruktur Kesadaran yang Selama Ini Hilang
Ada alasan mengapa banyak kampanye iklim gagal menciptakan perubahan perilaku.
Sebagian besar program lebih fokus membangun pengetahuan. Namun pengetahuan tidak selalu melahirkan tindakan. Di sinilah perbedaan antara mengetahui dan menyadari menjadi sangat penting.
Pengetahuan membuat seseorang memahami sebuah masalah. Sebaliknya, kesadaran mendorong seseorang mengambil keputusan dan mengubah kebiasaan.
Dalam acara tersebut, BBB meluncurkan dua buku terbaru dalam Seri Keluarga Panik, yakni Dari Mana Listrik Berasal? dan Makan Apa Hari Ini?
Kedua tema itu tampak sederhana. Namun sesungguhnya keduanya menyentuh akar persoalan iklim yang paling mendasar.
Energi, Pangan inilah Dua sektor yang menjadi penyumbang besar emisi global sekaligus bagian yang paling dekat dengan kehidupan keluarga.
Direktur Iklim dan Transisi Energi Berkeadilan IESR, Agus P. Tampubolon, menegaskan bahwa perubahan sistem membutuhkan perubahan perilaku masyarakat.
“Perubahan sistem membutuhkan perubahan perilaku. Karena itu literasi publik menjadi fondasi penting bagi keberhasilan transisi energi.”
Pernyataan tersebut mengungkap persoalan yang lebih mendalam.
Banyak orang menganggap teknologi sebagai jawaban utama atas krisis iklim. Namun kenyataannya, inovasi teknis saja tidak cukup menyelesaikan masalah. Lebih jauh lagi, persoalan ini berkaitan dengan budaya, kebiasaan, dan cara masyarakat memandang masa depan.
Ini Bukan Sekadar Komunitas Membaca
Di sinilah lapisan terdalam dari cerita ini mulai terlihat. Banyak orang mengenal BBB sebagai komunitas membaca.
Namun komunitas tersebut sebenarnya sedang membangun sesuatu yang lebih besar. BBB sedang membangun infrastruktur kesadaran.
Melalui buku, BBB membangun jembatan menuju ruang keluarga. Dari keluarga, percakapan berkembang ke komunitas yang lebih luas. Selanjutnya, komunitas tersebut mendorong berbagai aksi nyata di tingkat lokal.
Selama ini negara membangun jalan, jembatan, bendungan, dan berbagai infrastruktur fisik lainnya.
Sementara itu, pembangunan kesadaran masyarakat sering berjalan lebih lambat. Padahal perubahan zaman membutuhkan keduanya.
Masyarakat memerlukan jalan untuk bergerak. Namun masyarakat juga memerlukan kesadaran untuk menentukan arah perjalanan.
Kesadaran dan Empati merupakan Kemampuan membaca risiko masa depan. Kemampuan mengubah informasi menjadi tindakan. Semua kemampuan tersebut tidak lahir dari birokrasi semata.
Sebaliknya, kemampuan itu tumbuh melalui percakapan yang berulang di rumah, sekolah, dan lingkungan sekitar.
Karena itulah ruang keluarga menjadi arena yang sangat penting dalam menghadapi krisis iklim.
Ketika Perubahan Besar Dimulai dari Hal yang Kecil
Krisis iklim sering digambarkan sebagai persoalan global yang sangat besar. Akibatnya, banyak orang merasa dirinya terlalu kecil untuk berkontribusi.
Namun sejarah menunjukkan pola yang berbeda. Perubahan sosial hampir selalu berawal dari kelompok kecil yang memiliki kegelisahan yang sama.
Komunitas membaca, Kelompok perempuan, Taman bacaan, Ruang keluarga merupakan Tempat-tempat sederhana yang sering melahirkan perubahan besar.
Karena itu, pertanyaan utamanya bukan lagi apakah masyarakat peduli terhadap iklim.
Pertanyaan yang lebih penting adalah siapa yang mampu membuat isu tersebut terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Jika negara memiliki kebijakan dan industri memiliki teknologi, komunitas seperti BBB menawarkan pendekatan yang berbeda.
Melalui berbagai kegiatan literasi, komunitas ini membuka ruang percakapan yang sebelumnya tidak tersedia. Selain itu, mereka menciptakan kedekatan emosional antara isu iklim dan kehidupan keluarga. Pada saat yang sama, para anggota komunitas membangun rasa memiliki terhadap persoalan yang selama ini dianggap jauh dari keseharian.
Pada akhirnya, perubahan besar memang tidak selalu lahir dari ruang rapat atau forum internasional.
Sering kali, perubahan justru dimulai ketika seorang ibu membacakan cerita kepada anaknya sebelum tidur.
Ketika Negara Membangun Jalan, Komunitas Membangun Kesadaran
Selama ini banyak orang percaya bahwa teknologi, investasi, dan regulasi akan menjadi jawaban utama atas krisis iklim.
Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah. Namun solusi teknis tidak akan berjalan tanpa perubahan perilaku masyarakat.
Kebijakan membutuhkan dukungan publik. Teknologi membutuhkan pengguna yang bersedia beradaptasi.
Sementara itu, masa depan yang berkelanjutan hanya dapat terwujud ketika keluarga ikut terlibat dalam proses perubahan.
Karena itu, kisah Buibu Baca Buku bukan sekadar cerita tentang komunitas literasi. Kisah ini menunjukkan bagaimana perubahan sosial sebenarnya bekerja.
Sebagian perubahan lahir dari kebijakan negara. Sebagian lainnya tumbuh melalui gerakan masyarakat.
Bahkan banyak transformasi besar berawal dari percakapan sederhana yang terjadi di dalam rumah.
Revolusi sosial tidak selalu lahir dari pidato politik yang bergema di panggung kekuasaan. Dalam banyak kasus, perubahan juga tidak bermula dari konferensi internasional yang dipenuhi para ahli. Sebaliknya, transformasi besar sering muncul ketika seseorang membuka buku, memulai percakapan, lalu mengubah cara pandangnya terhadap dunia.
Kesadaran yang Tumbuh dari Hal Sederhana
Pada akhirnya, BBB sedang menunjukkan sesuatu yang sering dilupakan dalam diskusi perubahan iklim.
Banyak orang percaya bahwa perubahan harus dimulai dari kebijakan besar atau investasi raksasa. Namun sejarah justru memperlihatkan bahwa transformasi sosial sering berawal dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Sebuah buku dan Sebuah percakapan keluarga yang bisa mulai serta memahami hubungan antara kehidupan sehari-hari dan masa depan bumi.
Dari situlah kesadaran tumbuh Dan ketika kesadaran tumbuh di banyak rumah, perubahan tidak lagi menjadi kemungkinan karena Perubahan akan berubah menjadi kenyataan. @teguh







