Perdebatan Bersih Desa tak pernah usai. Tradisi sesaji, ajaran agama, dan identitas Jawa terus bertemu dalam ritual yang memicu pro dan kontra.
Tabooo.id – Asap kemenyan perlahan membubung ke udara. Warga menata tumpeng, bunga, dan berbagai sesaji di bawah pohon besar yang mereka anggap sakral. Tak jauh dari lokasi itu, tokoh agama memimpin doa-doa Islam melalui pengeras suara.
Dua pemandangan itu sudah lama hidup berdampingan di desa-desa Jawa. Namun keduanya terus memunculkan pertanyaan yang sama apakah ini tradisi budaya, bentuk penghormatan kepada leluhur, atau praktik yang bertentangan dengan ajaran agama?
Perdebatan itu terus muncul setiap kali warga menggelar Bersih Desa. Sebagian masyarakat melihatnya sebagai warisan budaya yang harus dijaga. Sebagian lainnya menilai beberapa unsur ritual perlu ditinggalkan karena berpotensi mengarah pada kemusyrikan.
Warisan Budaya yang Lebih Tua dari Agama Formal
Masyarakat Jawa kuno mempercayai keberadaan kekuatan spiritual dalam alam. Mereka menghormati pohon besar, sumber mata air, dan kawasan tertentu yang mereka anggap memiliki nilai sakral.
Dari keyakinan itulah berbagai ritual syukur lahir. Salah satunya adalah Bersih Desa yang masih bertahan hingga sekarang.
Bagi banyak warga, sesaji bukan alat penyembahan kepada makhluk gaib. Mereka memaknai sesaji sebagai simbol rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, dan pengingat hubungan manusia dengan alam.
Ketika Islam Bertemu Budaya Jawa
Masuknya Islam ke Jawa tidak menghapus seluruh tradisi lama. Para ulama dan masyarakat justru membangun proses akulturasi yang berlangsung selama berabad-abad.
Antropolog Indonesia, Koentjaraningrat, menjelaskan bahwa masyarakat Jawa memiliki kemampuan besar untuk menyerap pengaruh baru tanpa memutus hubungan dengan warisan budaya sebelumnya.
Pandangan serupa muncul dalam karya Clifford Geertz melalui buku The Religion of Java. Geertz menggambarkan bagaimana masyarakat Jawa memadukan tradisi lokal, Islam, dan berbagai unsur budaya lain dalam kehidupan sehari-hari.
Karena proses itu, ritual Bersih Desa kini menampilkan dua wajah sekaligus.
Warga menggelar pengajian, doa bersama, dan slametan. Pada saat yang sama, sebagian masyarakat masih mempertahankan sesaji, penghormatan terhadap tempat keramat, dan simbol-simbol yang berasal dari tradisi leluhur.
Pendukung tradisi melihat perpaduan itu sebagai kekayaan budaya Jawa. Sebaliknya, kelompok yang lebih puritan memandang praktik tersebut sebagai bentuk pencampuran ajaran agama dengan kepercayaan lokal.
Mengapa Sesaji Menjadi Titik Perdebatan?
Perdebatan paling sering muncul ketika warga menyiapkan sesaji.
Masyarakat pendukung tradisi memahami sesaji sebagai simbol. Mereka tidak menempatkan makanan itu untuk “memberi makan” makhluk gaib. Mereka menggunakan simbol tersebut untuk menyampaikan rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur.
Namun sebagian kelompok keagamaan menafsirkan praktik itu secara berbeda.
Mereka menilai segala bentuk persembahan yang berkaitan dengan kekuatan selain Tuhan dapat menimbulkan kesan syirik. Karena itu, beberapa komunitas tetap melaksanakan Bersih Desa tetapi mengganti sesaji dengan doa bersama, pengajian, atau kegiatan sosial.
Perbedaan tafsir inilah yang membuat perdebatan terus bertahan dari generasi ke generasi.
Yang mereka perdebatkan sebenarnya bukan benda-benda yang tersusun dalam sesaji. Mereka memperdebatkan makna yang melekat pada simbol tersebut.
Identitas Jawa yang Ikut Dipersoalkan
Persoalan ini tidak berhenti pada urusan agama.
Di banyak desa, masyarakat menjadikan Bersih Desa sebagai bagian dari identitas kolektif. Tradisi itu mempertemukan warga, memperkuat solidaritas sosial, dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya.
Karena itu, ketika seseorang mempertanyakan ritual tersebut, sebagian warga merasa orang itu juga mempertanyakan identitas budaya mereka.
Di sinilah konflik menjadi lebih rumit.
Kelompok yang mempertahankan tradisi merasa sedang menjaga warisan leluhur. Sementara itu, kelompok yang mengkritik ritual merasa sedang menjaga kemurnian ajaran agama.
Kedua kelompok sama-sama berbicara atas nama kebaikan. Namun mereka berdiri di atas cara pandang yang berbeda.
Ini Bukan Sekadar Soal Sesaji
Bagaimana masyarakat modern memaknai warisan budaya?
Sampai di mana masyarakat dapat mempertahankan tradisi tanpa berbenturan dengan keyakinan agama?
Dan siapa yang berhak menentukan makna sebuah ritual yang telah hidup selama ratusan tahun?
Bersih Desa akhirnya menjadi cermin perjalanan masyarakat Jawa sendiri. Tradisi ini mempertemukan modernitas, agama, dan budaya dalam satu ruang dialog yang tidak pernah benar-benar selesai.
Karena itu, perdebatan mengenai sesaji kemungkinan akan terus muncul.
Sebab masyarakat sebenarnya tidak hanya memperdebatkan makanan di atas tampah bambu. Mereka sedang memperdebatkan cara memahami identitas, keyakinan, dan akar budaya yang membentuk diri mereka.
Modernitas mengajarkan manusia untuk mempertanyakan tradisi. Namun tradisi tetap bertahan karena manusia selalu mencari hubungan dengan masa lalu, identitas, dan makna yang memberi rasa pulang. @dimas






