Senin, Agustus 24, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dari Toba hingga Dairi: Saat Kesabaran Publik Mulai Retak

by dimas
November 17, 2025
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Edge – Warga negeri ini seolah tumbuh dengan satu kemampuan istimewa tahan banting level dewa. Listrik naik, mereka diam. Harga beras melambung, mereka menarik napas panjang. Janji politik basi, mereka masih disuruh sabar.

Setiap kali muncul masalah, satu kalimat selalu muncul: “Prosesnya sedang berjalan.”
Masalahnya, “proses” itu terasa seperti menunggu balasan chat dari gebetan tidak jelas progresnya, tidak jelas kapan selesai, dan selalu sukses membuat hidup tambah tegang.

Di tengah absurditas itu, kutipan Martin Luther King Jr terdengar seperti notifikasi yang mengingatkan semua orang bahwa kesabaran ada batasnya:
“There comes a time when the cup of endurance runs over…”
Kalau cawan terus diisi tanpa jeda, ia tidak hanya meluap ia pecah.

Gelombang Sumatera Utara: Saat Cawan Benar-Benar Tumpah

Pada awal November 2025, Sumatera Utara menunjukkan betapa publik sudah tidak ingin diam.

Pada 10 November, ribuan warga Tapanuli mendatangi kantor Gubernur Sumut. Mereka menuntut PT Toba Pulp Lestari (TPL) keluar dari Tanah Batak setelah lebih dari empat dekade konflik. Konsorsium Pembaruan Agraria mencatat bahwa TPL menguasai 291.263 hektar, termasuk 33.422 hektar tanah adat. Akibat konflik panjang itu, 470 warga menjadi korban, termasuk dua meninggal dan ratusan lainnya mengalami kriminalisasi.

Ini Belum Selesai

Pati Menagih, Bangkalan Membela: Dua Suara Daerah Menuju Jakarta

Gempa NTT Belum Usai, 87 Tewas dan 150 Ribu Mengungsi

Hanya dua hari kemudian, protes kembali muncul. Kali ini ratusan warga Parbuluan VI, Dairi, mendatangi Polres Dairi. Mereka meminta ketua PETABAL dibebaskan. Warga menilai PT GRUTI merampas 600-700 hektar hutan adat, mengeringkan sumber air, dan meningkatkan risiko banjir.
Akibatnya, masyarakat semakin solid, sementara pemerintah terlihat bergerak lambat.

Dari dua kejadian tersebut, pola konfliknya jelas: perusahaan menyerobot ruang hidup, tokoh lokal ditangkap, masyarakat bersatu, dan negara hanya bergerak setengah hati.

RUU Masyarakat Adat: Jalan Panjang yang Tidak Kunjung Selesai

Di tengah konflik yang meluas, RUU Masyarakat Adat tetap terjebak dalam ketidakjelasan. Selama 15 tahun, parlemen hanya memindahkannya dari meja ke meja. Proses ini berjalan lebih lambat daripada update game online.

Padahal Mahkamah Konstitusi sudah menegaskan sejak 2013 bahwa hutan adat bukan hutan negara. Namun pengakuan legal berjalan tersendat. Menurut AMAN, baru 2% wilayah adat yang mendapat legitimasi. Sisanya harus berhadapan dengan izin perusahaan yang justru keluar lebih cepat daripada KTP elektronik generasi pertama.

Karena tidak ada dasar hukum yang kuat, masyarakat adat tetap terjebak dalam ketidakpastian dan rentan kehilangan ruang hidup.

Dipuji Dunia, Diabaikan di Rumah Sendiri

Sementara itu, forum-forum internasional seperti COP30 menjadikan masyarakat adat sebagai aktor penting penyelamat hutan. Dunia mengakui bahwa mereka adalah “penjaga ekosistem paling efektif”.

Namun ironi muncul ketika mereka justru harus membuktikan hak hidup di negara sendiri. Banyak komunitas tidak menolak pembangunan; mereka hanya mempertahankan tanah leluhur. Jika hutan ditebang dan mata air hilang, bagaimana mungkin mereka bertahan?

Plot twist ini terlalu absurd bahkan untuk sinetron azab yang paling dramatis.

Ketika Cawan Itu Tak Lagi Mampu Menampung

Selama puluhan tahun, publik terus diminta bersabar:
– menghadapi perampasan tanah,
– melihat tokoh adat ditahan,
– menunggu konflik diselesaikan,
– menyaksikan RUU mangkrak,
– mendengar janji pengakuan 1,4 juta hektar tanpa kepastian.

Namun setiap wadah memiliki batas. Ketika ketidakadilan terus mengalir tanpa henti, cawan itu bukan hanya meluap ia hancur.

Pada akhirnya, pertanyaan ini muncul dan sulit dihindari:

Apakah kita akan menunggu sampai cawan itu pecah seluruhnya, atau mulai memperbaiki kebocorannya sebelum semuanya terlambat? @dimas

Kamu Melewatkan Ini

Di Desa Lauwa, Buku Tak Cuma Mengajari Anak Membaca

Di Desa Lauwa, Buku Tak Cuma Mengajari Anak Membaca

by teguh
Agustus 24, 2026

Sabtu punya cerita sendiri bagi anak-anak Desa Lauwa, Kecamatan Belopa Utara, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Tabooo.id - Pagi atau siang...

Pati Menagih, Bangkalan Membela: Dua Suara Daerah Menuju Jakarta

Pati Menagih, Bangkalan Membela: Dua Suara Daerah Menuju Jakarta

by dimas
Agustus 23, 2026

Pati menagih pengesahan RUU Perampasan Aset, sementara Bangkalan membela program Prabowo. Dua suara daerah bergerak menuju Jakarta dengan tujuan berbeda....

Keris Tak Pernah Diam: Di Museum Keris Ini, Ingatan Masih Dijaga

Keris Tak Pernah Diam: Di Museum Keris Ini, Ingatan Masih Dijaga

by teguh
Agustus 23, 2026

Di balik 1.012 pusaka yang menurut pengelola Museum keris telah teregistrasi, ada pekerjaan sunyi untuk merawat benda, menjaga cerita, dan...

Next Post
“Billar Ditangkap Lagi”, Beneran atau Halu Berjamaah?

“Billar Ditangkap Lagi”, Beneran atau Halu Berjamaah?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id