Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Vape Rasa Buah Terasa Manis, Tapi Kenapa Ribuan Gen Tubuh Ikut Berubah?

by teguh
Juni 7, 2026
in Health, Life
A A
Home Life Health
Share on FacebookShare on Twitter
Mangga, semangka, stroberi, hingga campuran buah tropis membuat vape semakin populer di kalangan anak muda. Banyak pengguna juga meyakini vape lebih aman daripada rokok konvensional. Namun, penelitian terbaru justru mengguncang anggapan tersebut.

Tabooo.id – Tim ilmuwan dari Amerika Serikat menemukan bahwa vape mengubah aktivitas ribuan gen dalam tubuh, sementara varian rasa buah memicu perubahan paling besar.Popularitas vape terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Di balik citra modern dan kesan “lebih aman”, para ilmuwan kini melihat sinyal biologis yang layak menjadi perhatian publik.

Rasa Vape Mendorong Perubahan Gen

Tim peneliti dari Keck School of Medicine, University of Southern California (USC), melibatkan 83 partisipan yang terdiri dari 35 pengguna vape, 24 perokok, dan 24 orang yang tidak menggunakan keduanya.

Para peneliti mengambil sampel sel dari bagian dalam pipi setiap peserta. Mereka kemudian memeriksa aktivitas ribuan gen melalui teknologi RNA sequencing.

Analisis tersebut menunjukkan hasil yang cukup mengejutkan. Pengguna vape mengalami perubahan aktivitas pada 3.124 gen jika dibandingkan dengan kelompok non-pengguna.

Tim USC juga melihat bahwa rasa vape dan jenis perangkat memberi pengaruh lebih besar daripada frekuensi penggunaan.

Ini Belum Selesai

Tapa Bisu, Jejak Mindfulness dalam Tradisi Jawa

“Jangan Buang Ibu”: Saat Rindu Tak Lagi Punya Waktu

Penulis senior penelitian, Prof. Ahmad Besaratinia, mengatakan timnya masih berusaha mencari faktor utama yang memicu perubahan tersebut.

“Satu pertanyaan besar masih tersisa, yaitu apa yang sebenarnya mendorong perubahan ini?” kata Prof. Ahmad Besaratinia pada Juni 2026.

“Apakah aktivitas vaping, durasi penggunaan, karakteristik produk, atau kombinasi dari semuanya?”

Vape Rasa Buah Menarik Perhatian Ilmuwan

Penelitian itu menunjukkan bahwa karakteristik produk menjelaskan sekitar 67 persen perubahan aktivitas gen yang muncul selama penelitian.

Di antara berbagai varian yang masuk dalam penelitian, vape rasa buah memicu dampak paling besar. Varian tersebut berkontribusi terhadap sekitar 31 persen perubahan gen.

Sebaliknya, rasa manis hanya berhubungan dengan 2,9 persen perubahan gen. Rasa mint dan mentol bahkan hanya berhubungan dengan 0,9 persen perubahan gen.

Tim peneliti juga melihat pola menarik pada pengguna yang mencampur beberapa rasa sekaligus. Kelompok ini menunjukkan perubahan gen hingga 64,3 persen.

Menurut Besaratinia, setiap rasa membawa komposisi kimia yang berbeda sehingga menghasilkan respons biologis yang berbeda pula.

“Implikasinya adalah setiap rasa memiliki karakteristik unik yang menghasilkan efek biologis berbeda,” ujar Besaratinia.

Anak Muda Berada di Garis Depan Tren Vape

Anak muda mendominasi pasar vape rasa buah. Kemasan menarik, pilihan rasa beragam, dan citra modern mendorong banyak remaja serta dewasa muda mencoba produk tersebut.

Pada saat yang sama, banyak pengguna memandang vape sebagai alternatif yang lebih aman daripada rokok.

Dokter spesialis paru, dr. Erlina Burhan, mengingatkan bahwa persepsi tersebut tidak selalu sejalan dengan perkembangan bukti ilmiah.

“Banyak orang beranggapan bahwa selama tidak ada asap rokok, maka risikonya kecil. Padahal tubuh tetap menerima paparan berbagai zat kimia yang dampak jangka panjangnya masih terus diteliti,” ujar dr. Erlina Burhan.

Karena itu, temuan terbaru mengenai perubahan aktivitas gen layak menjadi perhatian, terutama bagi kelompok usia muda yang kemungkinan memakai vape selama bertahun-tahun.

Tubuh Memberikan Sinyal Lebih Awal

Tim USC tidak menyatakan bahwa vape langsung menyebabkan penyakit tertentu. Namun, mereka menemukan hubungan antara perubahan aktivitas gen dan berbagai jalur biologis yang berkaitan dengan kanker, gangguan endokrin, penyakit saluran pencernaan, serta gangguan neurologis.

Guru Besar Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. dr. Budi Haryanto, menjelaskan bahwa tubuh sering menunjukkan perubahan biologis jauh sebelum seseorang merasakan gejala penyakit.

“Perubahan pada tingkat sel dan gen sering menjadi sinyal awal sebelum gejala penyakit muncul. Karena itu, penelitian seperti ini penting sebagai sistem peringatan dini bagi kesehatan masyarakat,” kata Prof. Budi Haryanto.

Dengan kata lain, tubuh dapat memberikan peringatan lebih cepat daripada yang disadari manusia.

Perangkat Vape Juga Memegang Peran Besar

Penelitian ini tidak hanya menyoroti rasa vape. Tim USC juga membandingkan berbagai jenis perangkat yang beredar di pasaran.

Hasil analisis menunjukkan bahwa perangkat isi ulang atau mods menghasilkan perubahan regulasi gen yang lebih kuat dibandingkan perangkat lain.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa karakteristik produk memberi pengaruh besar terhadap respons biologis tubuh.

“Perbedaan produk ini menjelaskan variasi regulasi gen lebih besar daripada seberapa banyak atau seberapa sering seseorang menggunakan vape,” kata Besaratinia.

Fakta tersebut membuka ruang diskusi baru bagi regulator. Selama ini banyak pihak lebih fokus pada kandungan nikotin dan frekuensi penggunaan. Kini, rasa dan teknologi perangkat juga perlu masuk dalam pembahasan.

Gaya Hidup Modern dan Persepsi Aman

Sosiolog kesehatan Universitas Gadjah Mada, Dr. Hempri Suyatna, melihat vape sebagai bagian dari perubahan budaya konsumsi generasi muda.

Menurutnya, industri tidak hanya menawarkan produk. Mereka juga menjual identitas, gaya hidup, dan citra modern.

“Produk kesehatan modern sering dipasarkan melalui citra gaya hidup. Ketika sesuatu terlihat lebih keren, lebih modern, atau lebih aman, masyarakat cenderung menurunkan kewaspadaannya,” ujar Hempri.

Karena itu, banyak orang lebih fokus pada rasa, desain, dan tren sosial daripada risiko jangka panjang yang mungkin muncul.

Padahal tubuh tidak mengenali sebuah produk berdasarkan popularitasnya. Tubuh hanya merespons zat yang masuk ke dalamnya.

Ini Bukan Sekadar Soal Vape

Banyak lembaga kesehatan masih menilai vape memiliki risiko lebih rendah daripada rokok konvensional. Beberapa negara bahkan memanfaatkan vape sebagai alat bantu berhenti merokok. Namun, risiko yang lebih rendah tidak berarti risiko itu hilang.

Saat ini tim USC terus mencari senyawa kimia spesifik yang memicu perubahan aktivitas gen tersebut. Jika mereka menemukan sumber utamanya, regulator dapat meminta produsen mengurangi kandungan tertentu yang berpotensi membahayakan kesehatan. Ini bukan sekadar cerita tentang vape rasa mangga atau semangka.

Ini tentang cara industri membangun persepsi aman melalui rasa yang menyenangkan. Sementara itu, sains terus mengungkap bagaimana tubuh sebenarnya merespons produk tersebut.

Karena ancaman tidak selalu datang dalam bentuk yang menakutkan. Kadang ancaman hadir dalam rasa yang manis, aroma yang menyenangkan, dan kebiasaan yang terlihat biasa saja. @teguh


Tags: Frontiers In OncologyGaya HidupGen ZKesehatanKesehatan MasyarakatKesehatan ParuPenelitian KesehatanRokok ElektronikUniversitas IndonesiaUniversity of Southern CaliforniaVapeVape Rasa Buah

Kamu Melewatkan Ini

Pesawat Tempurku: Ketika Gitar Iwan Fals Menembus Langit Kekuasaan

Pesawat Tempurku: Ketika Gitar Iwan Fals Menembus Langit Kekuasaan

by teguh
Juni 2, 2026

"Musik Iwan Fals bukan sekadar hiburan pop. Ia adalah dokumen sosial yang mencatat trauma ketimpangan struktural dan salah satu karya...

Diskusi Anak Muda Sekarang: Masih Debat, atau Cuma Adu Emosi?

Diskusi Anak Muda Sekarang: Masih Debat, atau Cuma Adu Emosi?

by Naysa
Mei 31, 2026

Timeline masih ramai meski malam hampir habis. Orang memperdebatkan politik, agama, sampai hal receh yang seharusnya tak perlu berubah jadi...

Solo Tidak Hanya Dikenang dari Keraton, Tapi dari Aroma Lumpia di Pasar Gede

Solo Tidak Hanya Dikenang dari Keraton, Tapi dari Aroma Lumpia di Pasar Gede

by teguh
Mei 29, 2026

Orang mengenang Solo lewat banyak cara. Sebagian datang untuk melihat megahnya keraton. Sebagian lain mengejar jejak batik, alunan gamelan, atau...

Next Post
Malam 1 Suro: Saat Jawa Mengajarkan Diam Juga Bentuk Pengetahuan

Malam 1 Suro: Saat Jawa Mengajarkan Diam Juga Bentuk Pengetahuan

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id