Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kolam Segaran: Jejak Majapahit di Atas Riak Air

by teguh
Juni 5, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter
Fajar baru saja menyentuh langit Trowulan ketika cahaya keemasan perlahan memantul di permukaan Kolam Segaran. Udara pagi masih terasa sejuk. Angin bergerak pelan di atas hamparan air yang tenang. Dari kejauhan, beberapa warga duduk di tepian kolam sambil menggenggam joran, menikmati pagi tanpa tergesa.

Tabooo.id – Sulit membayangkan bahwa tempat seperti kolam segaran yang kini menghadirkan ketenangan itu pernah menjadi bagian penting dari denyut nadi Kerajaan Majapahit.

Di tengah perkembangan kota-kota modern yang terus bergerak cepat, Kolam Segaran justru menawarkan sesuatu yang semakin langka: ruang untuk berhenti sejenak, memandang ke belakang, lalu memahami bagaimana masa lalu masih berbicara kepada masa kini.

Kolam seluas sekitar 6,5 hektare itu bukan sekadar peninggalan arkeologi. Segaran adalah potongan sejarah yang masih hidup. Ia menyimpan kisah tentang kecerdasan leluhur, kejayaan sebuah imperium, hingga hubungan manusia dengan alam yang terasa semakin relevan hari ini.

Ketika Majapahit Sudah Memikirkan Masa Depan

Banyak orang mengenal Majapahit melalui cerita tentang Hayam Wuruk, Gajah Mada, atau Sumpah Palapa. Namun tidak banyak yang menyadari bahwa kejayaan kerajaan itu juga berdiri di atas kemampuan mengelola sumber daya alam. Kolam Segaran menjadi salah satu buktinya.

Pada abad ke-14, ketika banyak wilayah masih berjuang membangun sistem pengairan yang stabil, Majapahit telah mengembangkan infrastruktur air yang terencana. Kolam Segaran menampung limpahan air saat musim hujan lalu menyalurkannya kembali ketika musim kemarau datang. Sistem tersebut membantu menjaga pasokan air bagi kawasan pertanian di sekitar pusat kerajaan.

Ini Belum Selesai

Saujana Malam dan Monumen Perahu Penjaga Sejarah Mojokerto

Ketika Franky Sahilatua Menulis Luka Bangsa dari Sebuah Terminal

Kemampuan itu menunjukkan bahwa Majapahit tidak hanya membangun simbol kekuasaan, tetapi juga menciptakan fondasi keberlanjutan hidup.

Para perajin pada masa itu menyusun bata-bata merah berukuran besar menggunakan teknik kosot. Mereka menggosok dua permukaan bata hingga saling mengunci tanpa bantuan semen. Hasilnya masih dapat disaksikan hingga sekarang, berdiri kokoh melawan pergantian musim dan perubahan zaman.

Di balik struktur sederhana itu tersimpan pesan penting: peradaban besar tidak lahir dari kemegahan semata, melainkan dari kemampuan membaca kebutuhan masa depan.

Dari Diplomasi Kerajaan hingga Ruang Publik Warga

Sejarah mencatat bahwa Kolam Segaran juga memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar waduk.

Berbagai catatan dan tradisi lisan menyebut kawasan ini pernah menjadi lokasi penyambutan tamu-tamu penting dari berbagai wilayah Asia. Di tempat inilah Majapahit memperlihatkan kekuatan, kemakmuran, dan kemampuan diplomatiknya kepada dunia luar.

Pada masa itu, Segaran menjadi panggung kebesaran sebuah kerajaan. Kini suasananya sangat berbeda.

Tak ada lagi utusan kerajaan yang datang membawa pesan politik. Tak ada pula prosesi megah yang mengiringi kedatangan tamu negara.

Sebaliknya, warga Mojokerto datang dengan pakaian santai. Sebagian berjalan kaki di jalur pedestrian. Sebagian lagi memilih duduk di tepian kolam sambil menikmati suasana pagi.

Perubahan fungsi tersebut justru memperlihatkan sesuatu yang menarik. Kolam Segaran tidak membeku sebagai museum masa lalu. Ia terus hidup bersama masyarakat yang menggunakannya hari ini.

Ruang Tenang di Tengah Dunia yang Berisik

Ketika kehidupan modern semakin dipenuhi notifikasi, kemacetan, dan tekanan pekerjaan, banyak orang mulai mencari ruang untuk menenangkan diri. Kolam Segaran menawarkan pengalaman itu secara alami.

Riak air yang bergerak perlahan menghadirkan suasana yang sulit ditemukan di pusat kota. Pepohonan yang mengelilingi kawasan tersebut menambah kesan teduh. Sementara itu, aktivitas sederhana seperti memancing atau berjalan santai menciptakan hubungan yang lebih dekat antara manusia dan lingkungan sekitarnya.

Pengamat Sosial sekaligus Sosiolog Universitas Airlangga, Dr. Rendra Wirawan, saat diwawancarai pada 05/01/2026, menilai fenomena itu sebagai bentuk keberhasilan ruang publik yang jarang ditemukan saat ini.

“Aktivitas warga yang memancing di tepi Kolam Segaran memperlihatkan fenomena ruang ketiga yang sukses. Di tengah kepungan industrialisasi modern di wilayah Mojokerto, manusia perkotaan membutuhkan ruang katarsis yang tenang. Segaran menyediakan itu.”

Menurutnya, keheningan yang hadir di kawasan tersebut menjadi penyeimbang dari ritme kehidupan modern yang serba cepat.

Bukan tanpa alasan banyak orang memilih datang ke sana saat pagi atau sore hari. Di tempat itu, waktu seolah berjalan lebih lambat.

Legenda Emas yang Menolak Hilang

Setiap situs bersejarah biasanya menyimpan cerita yang hidup di antara fakta dan legenda. Kolam Segaran memiliki salah satu kisah paling terkenal dalam sejarah Trowulan.

Konon, setelah menjamu tamu-tamu kerajaan dari luar negeri, Raja Majapahit memerintahkan pelayannya membuang piring, mangkuk, dan peralatan makan berbahan emas ke dalam kolam.

Cerita tersebut berkembang selama ratusan tahun dan menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat. Sebagian orang melihatnya sebagai simbol kemakmuran Majapahit.

Sebagian lainnya memandangnya sebagai strategi diplomasi yang sengaja dirancang untuk menunjukkan kekuatan ekonomi kerajaan kepada para tamu asing.

Benar atau tidaknya kisah tersebut, legenda itu tetap menyimpan makna menarik.

Peradaban besar selalu berusaha menunjukkan kebesarannya kepada dunia. Namun sejarah juga berkali-kali membuktikan bahwa kejayaan tidak pernah benar-benar abadi.

Kekuasaan bisa runtuh, Kerajaan bisa hilang. Tetapi cerita yang ditinggalkan sering kali bertahan jauh lebih lama.

Saat Dasar Kolam Muncul ke Permukaan

Pada pertengahan November 2018, Kolam Segaran mengalami fenomena yang mengejutkan banyak pihak.

Air di dalam kolam surut hingga memperlihatkan dasar yang selama bertahun-tahun tersembunyi.

Retakan tanah muncul di berbagai bagian. Ribuan warga berdatangan untuk menyaksikan pemandangan yang sangat jarang terjadi tersebut.

Bagi sebagian orang, peristiwa itu hanya dampak cuaca ekstrem. Namun para pemerhati lingkungan melihatnya sebagai peringatan yang lebih serius.

Krisis air bukan lagi ancaman yang menunggu masa depan. Persoalan itu mulai menunjukkan wajahnya hari ini.

Fenomena tersebut sekaligus mengingatkan bahwa sistem pengelolaan air yang dibangun ratusan tahun lalu ternyata masih memiliki relevansi bagi tantangan lingkungan modern.

Warisan yang Masih Menghidupi

Budayawan dan Sejarawan Mojokerto, Suhartono, saat ditemui di Trowulan pada 14/05/2026, menilai Kolam Segaran menyimpan pelajaran penting tentang keberlanjutan.

“Kolam Segaran adalah simbol bahwa leluhur kita di masa Majapahit sudah memikirkan keberlanjutan hidup lintas generasi. Mereka tidak sekadar membangun pusat pemerintahan yang megah, tetapi mendirikan benteng hidrologi.”

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa warisan budaya tidak hanya berfungsi sebagai objek wisata atau sumber kebanggaan sejarah.

Lebih dari itu, situs seperti Segaran mengajarkan cara berpikir yang melampaui kepentingan sesaat.

Pesan serupa juga muncul dari Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto melalui pernyataan resmi pada 22 September 2025.

“Segaran mengajarkan pemerintah modern tentang pentingnya penyediaan infrastruktur publik terpadu yang memiliki fungsi ekologis, ekonomis, sekaligus ruang interaksi sosial warga yang humanis.”

Pernyataan tersebut terasa relevan ketika banyak kota modern menghadapi persoalan berkurangnya ruang hijau dan semakin sempitnya ruang interaksi sosial.

Riak yang Tak Pernah Berhenti Bercerita

Matahari kini semakin tinggi di atas Trowulan. Pantulan cahaya pagi perlahan berganti dengan warna biru terang yang memenuhi permukaan Kolam Segaran.

Para pemancing mulai beranjak pulang. Jalur pedestrian kembali ramai oleh warga yang berolahraga.

Sementara itu, struktur bata merah yang telah bertahan berabad-abad tetap berdiri tanpa banyak berubah.

Di situlah letak keistimewaan Segaran Ia tidak hanya menyimpan masa lalu tapi Ia terus menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Kemajuan tidak selalu lahir dari sesuatu yang baru. Sering kali, langkah paling bijak justru muncul ketika manusia mau belajar dari jejak yang telah ditinggalkan generasi sebelumnya.

Dan selama riak air masih bergerak di permukaan Kolam Segaran, warisan Majapahit tampaknya akan terus menemukan cara untuk berbicara kepada siapa pun yang bersedia mendengarkannya. @teguh

Tags: Budaya IndonesiaCagar BudayaHealing HistoryJejak PeradabanKolam SegaranMajapahitMojokertoNostalgia MajapahitRuang PublikSejarah NusantaraTourism MojokertoTrowulanwarisan budaya

Kamu Melewatkan Ini

Saujana Malam dan Monumen Perahu Penjaga Sejarah Mojokerto

Saujana Malam dan Monumen Perahu Penjaga Sejarah Mojokerto

by teguh
Juni 5, 2026

Malam perlahan menyelimuti Kota Mojokerto. Sisa cahaya senja tenggelam di balik cakrawala. Lampu-lampu jalan mulai mengambil alih tugas matahari dan...

Majapahit Tidak Dikalahkan Musuh, Tapi Ego Elitnya Sendiri

Majapahit Tidak Dikalahkan Musuh, Tapi Ego Elitnya Sendiri

by teguh
Juni 4, 2026

Kendaraan melintas tanpa henti. Klakson bersahutan di bawah terik matahari. Aktivitas ekonomi bergerak seperti biasa. Di tengah kesibukan itu, satu...

Ketika Franky Sahilatua Menulis Luka Bangsa dari Sebuah Terminal

Ketika Franky Sahilatua Menulis Luka Bangsa dari Sebuah Terminal

by teguh
Juni 4, 2026

Suara mesin bus meraung memecah siang. Debu beterbangan mengikuti langkah para penumpang yang datang dan pergi di sebuah terminal. Matahari...

Next Post
Timnas Indonesia Hajar Oman 3-0, Herdman: Ini Kemenangan Kami Tunggu 38 Tahun

Timnas Indonesia Hajar Oman 3-0, Herdman: Ini Kemenangan Kami Tunggu 38 Tahun

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id