Garuda ada di timeline. Merah putih ada di foto profil. Kutipan nasionalisme memenuhi beranda setiap hari besar nasional. Tapi ketika simbol negara semakin mudah dibagikan, satu pertanyaan muncul: apakah nasionalisme masih hidup sebagai kesadaran, atau sudah berubah menjadi sekadar estetika digital?
Tabooo.id: Bendera merah putih berkibar di foto profil. Garuda muncul di poster digital. Kutipan tentang cinta tanah air memenuhi timeline setiap peringatan nasional.
Sekilas, nasionalisme tampak hidup dan baik-baik saja.
Tapi beberapa hari lalu, publik ramai memperdebatkan jumlah bulu Garuda dalam unggahan Hari Lahir Pancasila milik BRIN. Kesalahan itu terlihat kecil. Namun respons masyarakat justru memunculkan pertanyaan yang lebih besar:
Apakah kita masih memahami simbol negara, atau hanya menggunakannya sebagai elemen visual?
Ketika Nasionalisme Masuk Timeline
Media sosial mengubah cara manusia mengekspresikan identitas.
Dulu, nasionalisme hadir melalui upacara, organisasi, diskusi publik, atau keterlibatan dalam kehidupan sosial. Kini, ekspresi itu sering muncul dalam bentuk yang jauh lebih cepat: unggahan, story, poster digital, dan tagar.
Dalam banyak hal, perubahan ini tidak selalu buruk.
Masalahnya muncul ketika simbol lebih sering dipakai daripada dipahami.
Garuda menjadi dekorasi.
Bendera menjadi latar belakang.
Pancasila menjadi kutipan.
Sementara makna di baliknya perlahan menghilang dari percakapan sehari-hari.
Simbol yang Semakin Viral
Budaya digital bekerja dengan logika visual.
Sesuatu yang menarik perhatian akan menyebar lebih cepat dibanding sesuatu yang membutuhkan pemahaman mendalam. Akibatnya, simbol nasional sering diperlakukan seperti aset desain yang harus terlihat menarik, bukan sebagai representasi sejarah dan identitas bangsa.
Kasus Garuda yang salah unggah menjadi contoh menarik.
Publik memang mengkritik kesalahan tersebut. Namun di balik kritik itu tersimpan fakta lain: banyak orang baru mengetahui makna jumlah bulu Garuda setelah kasus itu viral.
Ironisnya, sebuah kesalahan justru menjadi momen edukasi nasional.
Ini menunjukkan bahwa hubungan masyarakat dengan simbol negara semakin bersifat visual. Orang mengenali bentuknya, tetapi belum tentu memahami ceritanya.
Dari Kesadaran Menjadi Estetika
Media sosial mendorong budaya representasi.
Yang terlihat sering dianggap lebih penting daripada yang dipahami.
Tidak sedikit akun, institusi, bahkan individu yang menggunakan simbol nasional sebagai penanda identitas tanpa benar-benar memahami nilai yang mereka wakili.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia.
Di berbagai negara, simbol kebangsaan semakin sering hadir dalam ruang digital sebagai bagian dari citra, branding, atau ekspresi identitas online. Namun ketika simbol berubah menjadi estetika semata, ada risiko bahwa nasionalisme ikut berubah menjadi performa.
Orang terlihat nasionalis.
Tapi belum tentu terlibat dalam persoalan bangsa.
Orang membagikan kutipan tentang persatuan.
Tapi belum tentu peduli pada masalah yang mengancam persatuan itu sendiri.
Nasionalisme akhirnya menjadi sesuatu yang ditampilkan, bukan dijalankan.
Algoritma Tidak Peduli Makna
Masalah terbesar media sosial mungkin bukan hoaks atau debat tanpa akhir.
Masalah terbesar adalah algoritma tidak peduli pada makna.
Algoritma hanya peduli pada perhatian.
Semakin menarik sebuah visual, semakin besar peluangnya muncul di beranda. Semakin emosional sebuah konten, semakin tinggi peluangnya untuk dibagikan.
Akibatnya, banyak orang lebih sibuk membuat simbol terlihat menarik daripada memastikan simbol itu dipahami dengan benar.
Dalam lingkungan seperti ini, kedalaman sering kalah oleh kecepatan.
Pemahaman kalah oleh impresi.
Dan makna kalah oleh estetika.
Ketika Detail Menjadi Pengingat
Meski demikian, kasus Garuda juga menunjukkan sesuatu yang positif. Bahwa publik masih peduli.
Netizen ramai mengkritik bukan karena jumlah bulu semata. Mereka mengkritik karena simbol negara masih dianggap penting.
Di tengah budaya digital yang serba cepat, perhatian terhadap detail justru menjadi tanda bahwa makna belum sepenuhnya hilang.
Mungkin itu alasan mengapa kesalahan kecil bisa memicu perdebatan besar.
Karena di balik jumlah bulu, terdapat sejarah.
Di balik lambang negara, terdapat identitas.
Dan di balik simbol, terdapat nilai yang membentuk sebuah bangsa.
Nasionalisme Setelah Tombol Share
Pertanyaan sebenarnya bukan apakah kita masih mencintai simbol negara.
Pertanyaannya adalah apa yang terjadi setelah tombol share ditekan.
Apakah nasionalisme berhenti pada unggahan?
Atau ia berlanjut menjadi rasa ingin tahu, pemahaman, dan kepedulian terhadap kehidupan bersama?
Di era media sosial, simbol nasional memang semakin mudah terlihat. Namun tantangan terbesar bukan membuat simbol itu viral.
Tantangan terbesar saat ini adalah memastikan maknanya tidak ikut hilang saat melintasi timeline.
Karena bangsa tidak dibangun oleh estetika.
Bangsa dibangun oleh kesadaran tentang apa yang sebenarnya kita wakili. @waras







