Suara ledakan bom sisa perang dunia II itu mengakhiri ketenangan siang di pesisir Biak. Dalam hitungan detik, rumah-rumah berguncang, puing beterbangan, dan kepanikan menyelimuti Kompleks Perikanan di Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota.
Tabooo.id – Ledakan dahsyat yang diduga berasal dari bom sisa Perang Dunia II tidak hanya merenggut nyawa warga. Peristiwa itu juga memaksa 113 orang meninggalkan rumah mereka dan mengingatkan kembali bahwa jejak perang puluhan tahun lalu masih menyimpan ancaman nyata bagi masyarakat Papua.
113 Warga Mengungsi, Pemerintah Buka Posko Darurat
Pemerintah Kabupaten Biak Numfor bergerak cepat setelah ledakan mengguncang kawasan Jalan Walter Mongonsidi pada Minggu (31/5/2026).
Petugas mengevakuasi warga dari area terdampak dan memindahkan mereka ke lokasi yang lebih aman. Hingga Rabu (3/6/2026), pemerintah mencatat sebanyak 113 warga masih berada di pengungsian.
Sebanyak 58 jiwa menempati Aula Kantor Satpol PP Biak Numfor. Sementara itu, 55 jiwa lainnya tinggal sementara di Hotel Mapia Biak.
Plt Kepala Dinas Sosial Biak Numfor, Sandi Palalangan, mengatakan seluruh pengungsi berasal dari keluarga yang merasakan dampak langsung ledakan tersebut.
“Pengungsi ini merupakan warga yang terkena dampak langsung dari peristiwa ledakan tersebut,” ujar Sandi.
Menurutnya, pemerintah terus mendata kebutuhan warga sambil memastikan seluruh korban memperoleh bantuan yang memadai.
Pemkab Pastikan Kebutuhan Dasar Tetap Terpenuhi
Pemerintah daerah tidak hanya menyediakan tempat pengungsian. Pemkab Biak Numfor juga membuka posko induk, mengerahkan tenaga kesehatan, dan memperkuat distribusi logistik bagi para korban.
Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Biak Numfor, Zacharias L. Mailoa, menegaskan bahwa pemerintah daerah menjalankan instruksi langsung Bupati Biak Numfor, Markus Mansnembra, untuk mengawal penanganan korban hingga situasi benar-benar pulih.
“Pemerintah daerah mempunyai tanggung jawab untuk melihat saudara-saudara kita yang terkena dampak dari ledakan bom yang diduga terjadi pada hari Minggu lalu. Puji Tuhan, setelah posko ini terbentuk banyak organisasi yang terlibat membantu warga terdampak,” kata Zacharias.
Tim medis kini memantau kesehatan para pengungsi setiap hari. Selain itu, petugas juga memeriksa kondisi personel gabungan yang masih bekerja di sekitar lokasi kejadian.
Untuk kebutuhan konsumsi, Pemkab Biak Numfor menggandeng Badan Gizi Nasional melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Biak. Tim SPPG memasok makanan bergizi secara rutin kepada warga terdampak dan petugas lapangan.
Tim Gegana Sisir Ancaman yang Masih Tersisa
Meski ledakan utama telah terjadi, ancaman belum sepenuhnya berakhir.
Polda Papua mengirim Tim Penjinak Bom (Jibom) dari Detasemen Gegana Sat Brimob Polda Papua untuk menyisir seluruh area terdampak. Tim tersebut mencari kemungkinan adanya bahan peledak lain yang masih tertanam di sekitar kawasan perumahan nelayan.
Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Cahyo Sukarnito, menegaskan bahwa proses sterilisasi menjadi langkah penting sebelum warga kembali ke rumah masing-masing.
“Tim Jibom melakukan penyisiran dan sterilisasi secara menyeluruh karena masih dimungkinkan terdapat benda berbahaya lainnya,” kata Cahyo.
Sampai saat ini, pemerintah daerah masih mempertahankan status pengungsian sembari menunggu hasil penyisiran dari tim Gegana.
Lima Nyawa Melayang, Tiga Warga Masih Hilang
Tragedi tersebut meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Biak.
Tim identifikasi mencatat lima korban meninggal dunia akibat ledakan itu, yakni Moris Raubaba (24), Delfin Raubaba (41), Karmila Ayorbaba (25), Isrel Raubaba (5), dan Isra Raubaba (7).
Selain itu, tim pencarian masih berupaya menemukan tiga warga yang belum kembali sejak kejadian berlangsung. Mereka adalah Yulianus Raubaba (26), Anes Marandof (27), dan Lay Madura (45).
Tidak hanya memakan korban jiwa, ledakan juga menghancurkan kawasan permukiman warga.
Data sementara menunjukkan ledakan merusak sedikitnya 12 bangunan. Tiga bangunan mengalami kerusakan ringan. Sembilan bangunan lainnya mengalami kerusakan berat. Bahkan, ledakan meratakan empat rumah hingga nyaris tidak menyisakan bentuk bangunan.
Bom dari Masa Lalu yang Masih Mengancam
Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Tri Purwanto, menyebut hasil penyelidikan awal mengarah pada bom peninggalan Perang Dunia II sebagai sumber ledakan.
“Indikasi awal menunjukkan ledakan berasal dari bahan peledak peninggalan Perang Dunia II yang selama ini masih mudah ditemukan di sejumlah wilayah Biak,” jelas Tri.
Biak memang memiliki sejarah panjang dalam Perang Dunia II. Pada masa itu, wilayah ini menjadi salah satu pusat pertempuran sengit antara pasukan Sekutu dan Jepang di kawasan Pasifik.
Puluhan tahun berlalu, tetapi sisa-sisa perang masih muncul dari dalam tanah, hutan, maupun kawasan pesisir.
Akademisi: Papua Masih Menyimpan Jejak Konflik yang Belum Tuntas
Pengamat sejarah militer Papua dari Universitas Cenderawasih, Dr. Yohanis Rumbruren, menilai tragedi ini menunjukkan perlunya pemetaan ulang terhadap kawasan bekas medan perang.
“Banyak wilayah bekas pertempuran di Papua belum memiliki inventarisasi menyeluruh. Pemerintah perlu melakukan pemetaan ulang dan edukasi kepada masyarakat agar risiko serupa tidak terulang.”
Menurutnya, banyak generasi muda tidak mengetahui bahwa wilayah tempat mereka tinggal pernah menjadi arena pertempuran besar dunia.
Sosiolog: Korban Kehilangan Lebih dari Sekadar Rumah
Sosiolog Papua, Dr. Frans Wospakrik, melihat dampak tragedi ini jauh melampaui kerusakan fisik.
“Masyarakat tidak hanya kehilangan bangunan. Mereka kehilangan rasa aman. Trauma akibat ledakan seperti ini bisa bertahan jauh lebih lama dibandingkan proses pembangunan rumah.”
Ia menilai pemerintah perlu menyiapkan pendampingan psikologis bagi keluarga korban dan para pengungsi.
Budayawan: Sejarah Masih Menagih Perhatian Negara
Budayawan Papua, Yan Pieter Mandowen, menyebut ledakan tersebut sebagai pengingat bahwa sejarah tidak pernah benar-benar pergi.
“Perang memang berakhir puluhan tahun lalu. Namun dampaknya masih hidup di tengah masyarakat. Negara perlu melihat ini sebagai tanggung jawab sejarah yang belum selesai.”
Menurutnya, banyak wilayah bekas pertempuran di Papua membutuhkan perhatian lebih serius karena masyarakat masih hidup berdampingan dengan peninggalan perang.
Suara dari Pengungsian
Di antara deretan kasur darurat dan tas-tas yang tersusun di sudut ruangan pengungsian, warga masih berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.
Maria Raubaba, salah satu warga terdampak, mengaku masih terkejut setiap kali mendengar suara keras.
“Kami tidak pernah membayangkan kejadian seperti ini. Dalam beberapa detik semuanya berubah. Ada keluarga yang kehilangan rumah, ada yang kehilangan anggota keluarganya.”
Meski demikian, ia berharap pemerintah dan aparat segera menyelesaikan proses sterilisasi agar warga bisa kembali menjalani kehidupan normal.
Ini Bukan Sekadar Ledakan
Ledakan di Biak bukan sekadar peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawa warga.
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana konflik global yang berakhir puluhan tahun lalu masih meninggalkan ancaman nyata bagi masyarakat sipil hari ini.
Ketika dunia menganggap Perang Dunia II sebagai bagian dari buku sejarah, sebagian warga Papua masih hidup di atas jejak-jejak bahaya yang belum sepenuhnya hilang.
Pertanyaannya kini bukan hanya kapan warga bisa kembali ke rumah. Pertanyaan yang lebih besar adalah berapa banyak lagi peninggalan perang yang masih terkubur di tanah Papua dan menunggu ditemukan dengan cara yang paling tragis. @teguh







