Ketika orang membicarakan penemuan kembali Borobudur, satu nama hampir selalu muncul Thomas Stamford Raffles. Namun sejarah sering menyimpan ironi. Di balik nama besar sang gubernur Inggris, ada sosok lain yang justru membuka jalan menuju candi terbesar di dunia itu. Namanya Tan Jin Sing.
Tabooo.id – Ia seorang keturunan Tionghoa, Tan Jin Sing mantan Kapiten Cina, sahabat keraton, pejabat kolonial, sekaligus bupati pertama berdarah Tionghoa di Jawa. Ironisnya, semakin besar Borobudur dikenal dunia, semakin kecil ruang yang diberikan sejarah untuk mengingat dirinya.
Tan Jin Sing Dari Kapiten Cina Menjadi Bupati Jawa
Awal abad ke-19 merupakan masa penuh gejolak di Jawa. Inggris baru saja mengambil alih kekuasaan dari Belanda. Di tengah perubahan politik itu, muncul seorang tokoh bernama Tan Jin Sing yang memiliki posisi unik.
Ia lahir sebagai bagian dari komunitas Tionghoa, tetapi berhasil menembus lingkar kekuasaan Jawa yang saat itu sangat eksklusif.
Kedekatannya dengan Keraton Yogyakarta dan pemerintah Inggris membuat posisinya semakin kuat. Sebagai penghargaan atas jasanya, Sultan Hamengku Buwono III mengangkatnya menjadi bupati dengan gelar Raden Tumenggung Secodiningrat. Pengangkatan itu bukan sekadar promosi jabatan.
Itu adalah peristiwa langka yang mengguncang batas identitas sosial Jawa saat itu. Untuk pertama kalinya, seorang keturunan Tionghoa menduduki posisi bupati di tanah Jawa.
Menurut sejarawan Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Agus Suwignyo, fenomena Tan Jin Sing menunjukkan bahwa identitas pada masa kolonial jauh lebih cair dibanding yang sering dibayangkan publik saat ini.
“Tan Jin Sing adalah contoh bagaimana politik, budaya, dan kekuasaan saling bernegosiasi. Ia hidup di persimpangan identitas yang kompleks,” ujarnya dalam berbagai kajian sejarah kolonial Jawa.
Tan Jin Sing Memotong Kuncir, Mengubah Identitas
Tak lama setelah menjadi bupati, Tan Jin Sing mengambil langkah yang mengejutkan Ia memeluk Islam.
Keputusan itu diikuti tindakan simbolik yang sangat besar maknanya: memotong taucang atau kuncir rambut khas Dinasti Qing yang selama ini menjadi identitas masyarakat Tionghoa.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya perubahan penampilan Namun bagi masyarakat saat itu, tindakan tersebut berarti perubahan identitas, status sosial, bahkan arah hidup.
Budayawan Yogyakarta, KRT Jatiningrat, menilai langkah itu mencerminkan proses adaptasi sosial yang tidak sederhana.
“Ia tidak sedang meninggalkan asal-usulnya. Ia sedang mencari ruang hidup baru di tengah konfigurasi kekuasaan yang berubah.”
Di titik inilah kisah Tan Jin Sing menjadi menarik. Ia bukan sepenuhnya Tionghoa menurut pandangan komunitasnya.
Ia juga tidak sepenuhnya Jawa menurut sebagian kalangan bangsawan. Namun justru karena berada di antara dua dunia itulah ia mampu menjadi jembatan.
Tan Jin Sing Orang Pertama yang Membawa Kabar Borobudur
Sekitar tahun 1813, seorang mandor yang bekerja di wilayah Bumisegoro melaporkan keberadaan bangunan besar yang tertutup semak belukar di pedalaman Kedu.
Informasi itu sampai kepada Tan Jin Sing. Ia kemudian meneruskannya kepada Thomas Stamford Raffles yang saat itu menjabat Letnan Gubernur Inggris di Jawa.
Raffles tertarik Namun yang lebih penting, Tan Jin Sing tidak berhenti pada laporan semata. Ia ikut memastikan informasi itu diperiksa langsung ke lapangan.
Saat tiba di lokasi, yang terlihat bukanlah kemegahan seperti sekarang. Semak liar menutupi sebagian besar struktur bangunan. Tanah menimbun banyak bagian candi.
Alam perlahan menelan karya besar yang pernah menjadi pusat peradaban. Warga setempat menyebut bangunan itu dengan satu nama Borobudur.
Menurut catatan keluarga yang kemudian dihimpun T.S. Werdoyo dalam Tan Jin Sing Dari Kapiten Cina sampai Bupati Yogyakarta (1990), Tan memperkirakan usia bangunan tersebut sudah sangat tua dan memiliki nilai sejarah luar biasa.
Laporan itu kemudian mendorong Raffles memerintahkan Christian Cornelius bersama ratusan pekerja lokal untuk membersihkan kawasan tersebut.
Dua minggu kemudian, dunia mulai melihat kembali wajah Borobudur yang selama berabad-abad terkubur waktu.
Mengapa Raffles Terkenal, Tan Jin Sing Terlupakan?
Di sinilah ironi sejarah bekerja Nama Raffles masuk buku pelajaran Namanya melekat pada hotel, jalan, hingga museum. Sementara Tan Jin Sing lebih sering muncul sebagai catatan kaki.
Menurut sosiolog sejarah dari Universitas Indonesia, Dr. Robertus Robet, pola seperti ini bukan sesuatu yang baru.
“Sejarah kolonial sering memberi sorotan utama kepada tokoh Eropa. Perantara lokal, penerjemah budaya, dan penghubung masyarakat biasanya tersingkir dari narasi besar.”
Pola itu terlihat jelas dalam kisah Borobudur. Raffles dikenang sebagai tokoh penemu kembali.
Padahal informasi awal, jaringan lokal, hingga akses ke masyarakat sekitar melibatkan peran penting Tan Jin Sing.
Jejak Tan Jin Sing yang Masih Menyala di Borobudur
Setiap tahun, ribuan umat Buddha dari berbagai negara berkumpul di Borobudur untuk merayakan Waisak.
Mereka membawa api suci, air suci, doa, dan harapan. Lampion-lampion terbang ke langit malam Magelang.
Dunia mengenal Borobudur sebagai simbol spiritual, warisan budaya, dan kebanggaan Indonesia.
Namun sangat sedikit yang mengetahui bahwa salah satu orang pertama yang membuka jalan menuju kebangkitan kembali situs itu adalah seorang keturunan Tionghoa bernama Tan Jin Sing.
Ini Bukan Sekadar Kisah Tan Jin Sing
Ini bukan sekadar cerita tentang seorang bupati. Ini adalah pola bagaimana sejarah memilih siapa yang layak dikenang dan siapa yang perlahan dilupakan.
Tokoh besar sering berdiri di panggung utama. Sementara mereka yang membuka pintu, menerjemahkan budaya, dan menjembatani peradaban kerap menghilang di balik layar.
Tan Jin Sing mengingatkan kita bahwa sejarah tidak selalu melupakan orang kecil. Kadang sejarah hanya lebih keras mengingat orang yang memegang kuasa.
Sejarah yang Memilih Ingatan
Borobudur berhasil keluar dari timbunan tanah. Nama Tan Jin Sing belum tentu.







