Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Jokowi Mulai Safari Politik, Sekadar Menyapa Rakyat atau Menata 2029?

by dimas
Mei 28, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter
Safari Jokowi ke sejumlah daerah mulai Juni memunculkan spekulasi baru soal peta politik 2029, PSI, dan masa depan Gibran.

Tabooo.id: Reality – Presiden ketujuh RI Joko Widodo belum benar-benar meninggalkan panggung politik nasional. Setelah beberapa bulan lebih banyak menerima tamu di Solo, Jokowi kini bersiap melakukan safari ke sejumlah daerah mulai Juni 2026.

Nusa Tenggara Timur menjadi tujuan pertama. Setelah itu, Jokowi dijadwalkan mengunjungi Lampung dan Jawa Barat.

Di permukaan, agenda itu terlihat sederhana menyapa masyarakat, bertemu relawan, dan berdialog dengan akar rumput. Namun, politik Indonesia jarang berjalan tanpa kepentingan yang lebih besar.

Safari Politik atau Sekadar Silaturahmi?

Sekretaris Jenderal Projo Freddy Damanik mengatakan, rencana safari muncul setelah Jokowi pulih dari sakit dan kembali menyatakan kesiapan berkeliling Indonesia dalam pertemuan dengan relawan pada awal Mei lalu.

Sejak itu, undangan dari berbagai daerah terus berdatangan. Projo di sejumlah wilayah juga meminta Jokowi datang langsung menemui masyarakat.

Ini Belum Selesai

Tragedi Sibolangit: Empat Nyawa Melayang di Jalur Medan-Berastagi

Vivo T5 Lite Resmi Meluncur, Bawa Baterai 6.500 mAh dan Fast Charging 44W

“Ini murni menyapa rakyat, bertemu, dialog, dan kunjungan ke akar rumput,” ujar Freddy.

Namun, publik mulai membaca langkah itu lebih jauh. Banyak pengamat melihat safari tersebut sebagai sinyal awal konsolidasi politik menuju Pemilu 2029.

Pilihan NTT sebagai titik awal juga memunculkan tafsir politik tersendiri. Wilayah Indonesia timur selama ini dikenal sebagai salah satu basis dukungan terbesar Jokowi.

Freddy mengakui hal itu.

“Memang harus diakui, itu basis terbesar pendukung Bapak Jokowi,” katanya.

Pernyataan itu memperlihatkan satu hal penting: Jokowi masih ingin menjaga kedekatan emosional dengan basis massanya.

Nama Gibran dan PSI Mulai Masuk Peta

Spekulasi soal arah safari Jokowi semakin menguat ketika nama Gibran Rakabuming Raka dan PSI ikut masuk dalam pembahasan publik.

Freddy memang menolak anggapan bahwa seluruh agenda itu hanya bertujuan memuluskan langkah Gibran pada Pilpres 2029. Namun, ia juga tidak menutup kemungkinan bahwa kekuatan sosial Jokowi nantinya bisa mendukung tokoh tertentu.

“Kalau modal sosial Pak Jokowi digunakan untuk mendukung salah satu calon atau tokoh, menurut saya sah saja dalam demokrasi,” ujarnya.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi, dalam politik, pernyataan yang setengah terbuka sering kali justru menyimpan pesan paling besar.

Dukungan Jokowi terhadap PSI juga semakin memperkuat tafsir politik tersebut. Dalam Rakernas PSI awal tahun ini, Jokowi secara terbuka menyatakan siap membantu PSI lolos ambang parlemen pada Pemilu 2029.

Ketua DPP PSI Bestari Barus memastikan Jokowi nantinya juga akan menemui kader PSI di sejumlah daerah.

Artinya, setiap kunjungan Jokowi bukan hanya soal nostalgia blusukan. Agenda itu juga berpotensi menjadi ruang konsolidasi politik baru.

Pertaruhan Besar Jokowi Pasca Kekuasaan

Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga menilai safari itu memiliki dua tujuan besar.

Pertama, Jokowi ingin menunjukkan bahwa basis massanya masih kuat. Kedua, Jokowi ingin mendongkrak elektabilitas PSI agar mampu lolos ke Senayan.

Jika langkah itu berhasil, Jokowi tetap memiliki daya tawar tinggi di hadapan partai politik dan pemerintahan baru.

Namun, risikonya juga tidak kecil.

“Jokowi bisa kehilangan segalanya, termasuk dinasti politik yang selama ini dibangunnya,” kata Jamiluddin.

Peneliti BRIN Lili Romli juga melihat safari itu sebagai pertaruhan politik besar. Menurutnya, PSI kini menjadi kendaraan penting bagi masa depan pengaruh politik keluarga Jokowi.

Karena itu, keberhasilan PSI lolos parlemen akan menentukan seberapa besar pengaruh Jokowi setelah tidak lagi menjabat presiden.

Masalahnya, politik Indonesia memiliki hukum yang keras publik biasanya bergerak mengikuti pusat kekuasaan baru.

Hari ini, pusat kekuasaan itu berada di tangan Presiden Prabowo Subianto.

Jokowi Belum Benar-Benar Pergi

Safari politik ini akhirnya bukan hanya menguji kekuatan PSI atau peluang Gibran pada 2029. Agenda itu juga menguji satu hal yang lebih besar: apakah publik masih melihat Jokowi sebagai figur politik utama setelah lengser dari kursi presiden.

Semakin sering Jokowi muncul di ruang politik, semakin besar pula pertanyaan yang muncul di publik.

Apakah Jokowi benar-benar pensiun?

Sebab dalam politik Indonesia, kekuasaan memang punya batas masa jabatan. Tetapi pengaruh sering mencari cara untuk bertahan lebih lama.

Dan mungkin, safari ini menjadi tanda bahwa permainan itu belum selesai.

Kekuasaan bisa selesai dalam lima tahun, tetapi pengaruh politik sering mencari jalan untuk hidup lebih lama. @dimas

Tags: Gibran RakabumingJokowi 2029Politik IndonesiaPSISafari Politik Jokowi

Kamu Melewatkan Ini

D.N. Aidit: Dari Muazin Belitung ke Ketua PKI

D.N. Aidit: Dari Muazin Belitung ke Ketua PKI

by Tabooo
Juli 18, 2026

D.N. Aidit tumbuh dalam keluarga Muslim terpandang di Belitung. Perjalanannya membawanya dari surau, gerakan pemuda, hingga puncak kepemimpinan PKI dan...

Kipas Anginnya Belum Datang, Drama Anggarannya Sudah Bikin Indonesia Masuk Angin

Kipas Angin Belum Datang, Drama Anggarannya Sudah Bikin Indonesia Masuk Angin

by teguh
Juli 17, 2026

Di era media sosial, satu tangkapan layar bisa memicu kegaduhan nasional sebelum pemerintah sempat membuka konferensi pers. Itulah yang terjadi...

Legislator dan Hukum yang Kehilangan Wajah Manusia

Legislator dan Hukum yang Kehilangan Wajah Manusia

by dimas
Juli 13, 2026

Legislator tidak cukup menjadi pembuat norma. Hukum membutuhkan arsitek kemanusiaan agar setiap undang-undang benar-benar melindungi rakyat, bukan sekadar melayani kekuasaan....

Next Post
Monarki Absolut: Saat Titah Raja Lebih Kuat daripada Suara Rakyat

Monarki Absolut: Saat Titah Raja Lebih Kuat daripada Suara Rakyat

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id