Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Garebeg Besar Karaton Surakarta: Simbol Budaya dan Harapan

by dimas
Mei 27, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter
Tradisi Garebeg Besar Karaton Surakarta 2026 dipadati ratusan warga. Kirab gunungan jadi simbol keikhlasan, budaya, dan harapan untuk negeri.

Tabooo.id: Surakarta – Ratusan warga memadati kawasan Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat hingga Masjid Ageng Karaton Surakarta, Rabu (27/5/2026) siang. Mereka datang sejak pagi untuk menyaksikan Hajad Dalem Pareden Garebeg Besar Dal 1959 dalam rangka Idul Adha 1447 Hijriah.

Suara gamelan menggema dari dalam karaton. Prajurit berkostum tradisional berdiri rapi di halaman utama. Di sisi lain, masyarakat terus berdesakan di sepanjang jalur kirab sambil menunggu gunungan keluar dari kompleks karaton.

Tradisi tahunan itu kembali menunjukkan satu hal penting. Masyarakat Jawa masih menjaga simbol budaya dan spiritual di tengah zaman yang makin gaduh.

Kirab Gunungan Padati Solo

Raja Karaton Surakarta Hadiningrat, SISKS Pakoe Boewono XIV, memimpin prosesi awal di Plataran Karaton. Setelah upacara selesai, para abdi dalem membawa dua gunungan keluar dari area karaton.

Gunungan laki-laki dan gunungan perempuan lalu bergerak menuju Masjid Ageng Karaton Surakarta. Warga langsung memenuhi sisi jalan. Banyak pengunjung mengangkat ponsel untuk merekam momen sakral tersebut.

Ini Belum Selesai

Tragedi Sibolangit: Empat Nyawa Melayang di Jalur Medan-Berastagi

Vivo T5 Lite Resmi Meluncur, Bawa Baterai 6.500 mAh dan Fast Charging 44W

Namun sebagian warga tidak sekadar datang untuk menonton. Mereka menunggu rebutan gunungan karena percaya hasil bumi itu membawa berkah dan harapan hidup.

Setibanya di Masjid Ageng, Penghulu Tafsir Anom memimpin doa bersama. Setelah doa selesai, warga langsung berebut gunungan laki-laki di halaman masjid.

Sementara itu, para abdi dalem kembali mengarak gunungan perempuan menuju Kamandungan Karaton Surakarta. Warga di kawasan tersebut kemudian ikut memperebutkan isi gunungan.

Tradisi Lama yang Tetap Hidup

Pengageng Parentah Karaton Surakarta Hadiningrat, KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo, menegaskan bahwa Garebeg Besar memadukan budaya Islam dengan budaya Jawa.

“Tradisi Garebeg telah ada sejak era Kerajaan Demak dan masih tetap dilaksanakan sampai sekarang. Dan merupakan salah satu dari 21 tradisi Karaton Surakarta yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda dalam skala nasional,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa Garebeg Besar mengingatkan masyarakat pada kisah Nabi Ibrahim AS yang menunjukkan keikhlasan saat menerima perintah berkurban.

“Acara Garebeg Besar merupakan budaya Islam dan budaya Jawa sehingga pada hari ini digelar Hajad Dalem Garebeg Besar yang mana merupakan campuran dari dua kebudayaan Islam dan Jawa,” ungkapnya.

Simbol Harapan di Tengah Zaman yang Ribut

Di tengah tekanan ekonomi dan suasana sosial yang sering panas, ribuan warga justru berkumpul untuk memperebutkan hasil bumi sederhana dari gunungan.

Pemandangan itu terasa simbolis. Banyak orang mengejar kekuasaan dan keuntungan. Namun masyarakat kecil tetap mencari berkah lewat tradisi dan doa.

Pakoe Boewono XIV juga memanjatkan doa untuk Indonesia. Ia berharap bangsa ini tetap hidup dalam suasana ayem dan tentrem.

“Beliau juga menyampaikan doa dan harapan agar bangsa ini bisa ayem, tentrem, damai bukan hanya bangsanya, bukan hanya pemimpinnya, tapi masyarakatnya, alamnya,” kata Dipokusumo.

Tradisi Garebeg Besar tahun ini berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun suasananya tetap membawa pesan kuat tentang identitas, kebersamaan, dan ingatan budaya.

Ini bukan sekadar kirab gunungan. Tradisi ini menjadi cara masyarakat menjaga akar budaya di tengah dunia yang terus bergerak cepat.

Dan di Solo, ribuan orang masih percaya bahwa doa, budaya, dan warisan leluhur belum kehilangan maknanya. masih percaya bahwa doa, budaya, dan warisan leluhur belum kehilangan maknanya. @dimas

Tags: Budaya Jawa IslamGarebeg Besar Surakartaidul adha 2026Karaton Surakarta

Kamu Melewatkan Ini

Kirab Pusaka 1 Sura Kembali Digelar, Ini Jam Mulai dan Rute Perjalanannya

Kirab Pusaka 1 Sura Kembali Digelar, Ini Jam Mulai dan Rute Perjalanannya

by dimas
Juni 16, 2026

Kirab Pusaka 1 Sura Karaton Surakarta kembali digelar malam ini. Simak jam mulai, rute perjalanan, dan informasi penting bagi pengunjung...

Pusaka Milik Raja atau Dinasti? Konflik Lama Karaton Solo yang Tak Pernah Selesai

Pusaka Milik Raja atau Dinasti? Konflik Lama Karaton Solo yang Tak Pernah Selesai

by teguh
Juni 10, 2026

Konflik pusaka Karaton Solo kembali mencuat. Benarkah pusaka milik raja atau dinasti? ini seakan menjadi akar legitimasi yang belum selesai....

Asal Usul Kebo Bule Kyai Slamet, Penolak Bala Karaton Surakarta

Asal Usul Kebo Bule Kyai Slamet, Penolak Bala Karaton Surakarta

by dimas
Juni 9, 2026

Kebo Bule Kyai Slamet menjadi simbol sakral Karaton Surakarta. Simak asal usul, sejarah, dan kepercayaan penolak bala yang hidup hingga...

Next Post
Gunungan Jaler dan Estri: Simbol Kehidupan yang Masih Dijaga

Gunungan Jaler dan Estri: Simbol Kehidupan yang Masih Dijaga

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id