Turis Austria Jurgen (54) dan Astrid (56) datang ke Cunca Wulang untuk menikmati keindahan alam. Namun siang itu, jembatan gantung justru merenggut hidup mereka.
Tabooo.id – Sebuah papan kayu mendadak patah saat keduanya melintas menuju area air terjun. Tubuh kedua turis Austria itu jatuh sekitar 10 meter dan menghantam bebatuan sungai.
Indonesia terus menjual surga wisata ke dunia. Tapi tragedi ini memunculkan pertanyaan yang makin sulit dihindari Apakah kita terlalu sibuk menjual keindahan sampai lupa menjaga keselamatan?.
Ketika Liburan Berakhir di Atas Bebatuan
Siang itu, Jurgen dan Astrid memasuki kawasan wisata Air Terjun Cunca Wulang, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Mereka datang secara legal, melapor ke petugas loket, lalu mengikuti jalur trekking resmi. Namun perjalanan mereka berhenti di atas jembatan gantung.
Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, menjelaskan bahwa papan kayu di jembatan tiba-tiba hancur saat kedua turis itu melintas.
“Keduanya langsung terjatuh ke bawah. Tepat di bebatuan,” kata Fathur Rahman, Minggu (24/05/2026).
Benturan keras langsung mengakhiri hidup keduanya. Tim SAR gabungan tiba sekitar pukul 13.17 WITA. Namun petugas hanya bisa mengevakuasi jenazah karena korban sudah tidak bernyawa.
Petugas menggotong jenazah selama kurang lebih 30 menit menuju area parkir ambulans sebelum membawa keduanya ke RSUD Merombok.
Peristiwa ini tidak hanya meninggalkan duka. Tragedi ini juga membuka pertanyaan besar tentang keselamatan wisata alam Indonesia.
Surga Wisata yang Kadang Lupa Menjaga Nyawa
Indonesia terus mempromosikan wisata alam. Labuan Bajo, Raja Ampat, Bromo, Kawah Ijen, hingga puluhan hidden paradise muncul di berbagai promosi pariwisata. Pemerintah mengejar kunjungan wisatawan, devisa, dan status destinasi premium.
Namun satu pertanyaan sering tenggelam di balik kampanye besar itu Apakah fasilitas keselamatannya ikut berkembang?
Banyak destinasi wisata alam masih menghadapi masalah lama jembatan lapuk, jalur trekking minim pengawasan, pagar pengaman seadanya, hingga papan peringatan yang hanya formalitas.
Publik juga terus melihat pola yang samam viral dulu, ramai dulu, korban jatuh dulu, lalu evaluasi muncul.
Tragedi Cunca Wulang terasa seperti pengulangan cerita lama. Karena terlalu banyak lokasi wisata tumbuh cepat tanpa sistem mitigasi risiko yang matang.
Mengapa Evaluasi Selalu Datang Setelah Korban?
Wakil Bupati Manggarai Barat, dr. Yulianus Weng, memastikan pemerintah daerah akan mengevaluasi seluruh fasilitas wisata.
“Tidak hanya yang ada di Cunca Wulang, tetapi di semua destinasi yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah Kabupaten Manggarai Barat,” ujar Yulianus.
Pernyataan itu penting Namun publik juga punya alasan untuk bertanya Kenapa pemerintah sering bergerak setelah tragedi terjadi?
Kalimat Yulianus berikut justru membuka ruang pertanyaan lebih besar. “Soal kondisi jembatan sebelumnya, belum ditahu pasti kondisinya.”
Kalau pemerintah belum mengetahui kondisi fasilitas wisata, lalu siapa yang rutin mengecek keamanan?
Siapa yang memastikan kayu jembatan masih kuat?, Siapa yang menghitung risiko sebelum wisatawan melintas?
Pengamat pariwisata dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Azril Azahari, pernah mengingatkan bahwa banyak destinasi alam berkembang lebih cepat daripada sistem keselamatannya.
Daerah sering mengejar angka kunjungan wisatawan. Namun mereka lupa membangun budaya inspeksi rutin, audit fasilitas, dan mitigasi risiko.
Masalahnya bukan sekadar kayu lapuk tapi sebenarnya ada pada cara berpikir.
Ketika target kunjungan terasa lebih penting daripada biaya maintenance, keselamatan perlahan berubah menjadi formalitas.
Konflik Besar: Pariwisata atau Keselamatan?
Indonesia ingin masuk liga besar pariwisata dunia. Pemerintah bahkan mendorong Labuan Bajo menjadi destinasi premium kelas internasional. Namun dunia juga menuntut standar.
Banyak negara rutin memeriksa jembatan gantung, jalur hiking, hingga titik rawan wisata alam. Operator wisata mengecek fasilitas secara berkala dan langsung menutup akses ketika risiko muncul.
Sebaliknya, banyak destinasi Indonesia masih mengandalkan harapan semoga aman. Masalahnya, harapan bukan sistem keselamatan.
Tragedi Cunca Wulang bukan hanya soal dua turis Austria. Peristiwa ini juga menyangkut rasa aman wisatawan, reputasi negara, dan kepercayaan dunia terhadap pariwisata Indonesia.
Karena wisatawan tidak hanya membeli pemandangan. Mereka juga membeli rasa aman untuk pulang.
Analisis Tabooo: Kita Ahli Menjual Surga, Tapi Siapa Menjaga Jalannya?
Indonesia sangat piawai membuat video promosi wisata. Drone terbang. Air laut berkilau. Tebing tampak megah. Musik sinematik mengalun pelan.
Namun kamera hampir tak pernah menyorot papan lapuk, baut berkarat, atau jalur yang tidak pernah menjalani audit keselamatan.
Padahal keselamatan bukan aksesori wisata. Keselamatan adalah fondasi. Keindahan tanpa perlindungan hanya mengubah wisata menjadi perjudian.
Pertanyaan reflektifnya sederhana Berapa banyak tragedi lagi yang harus terjadi sebelum keselamatan menjadi prioritas, bukan formalitas?. @teguh





