Infrastruktur di Papua bukan cuma soal membangun, tapi memastikan masyarakat tetap aman saat menggunakannya. Kalimat itu sering muncul dalam diskusi pembangunan kawasan timur Indonesia. Namun di Wamena, Papua Pegunungan, kenyataan justru berjalan sebaliknya.
Tabooo.id – Salah Satu Infrastruktur di Papua yaitu Jembatan Gantung Wouma putus. Sebanyak 24 orang tenggelam di Sungai Uwe, Jayawijaya. Duka itu tidak berhenti di air sungai. Ketegangan sosial ikut membesar hingga memicu perang antarsuku. Pertanyaannya sederhana mengapa tragedi seperti ini terus berulang?
Ketika Jembatan Roboh, Rasa Aman Ikut Hilang
Bagi warga Papua, jembatan bukan sekadar besi yang membentang di atas sungai. Jembatan menghubungkan keluarga, pasar, sekolah, layanan kesehatan, bahkan rasa aman.
Karena itu, saat Jembatan Wouma runtuh, warga tidak hanya kehilangan akses. Mereka kehilangan kepastian hidup.
Kapolres Jayawijaya AKBP Anak Agung Made Satriya Bimantara menjelaskan tim gabungan terus mencari korban bersama Kodim 1702/Jayawijaya dan Basarnas Wamena.
“Hasil pencarian kami bersama tim gabungan sejak putusnya jembatan gantung Wouma hari pertama hingga saat ini kurang lebih telah menemukan 24 korban hingga hari ini,” katanya di Wamena, Minggu (17/05/2026).
Namun masalah lain segera muncul. Data korban berubah-ubah. Sebagian warga menyebut tujuh orang meninggal. Informasi lain menyebut 20, 33, bahkan 38 korban.
Situasi itu memperlihatkan satu persoalan serius: pemerintah belum memiliki sistem respons krisis yang rapi di wilayah rentan.
“Jujur sampai dengan detik ini kami belum mendapatkan data akurat,” ujar Kapolres.
Lalu muncul pertanyaan yang lebih besar kenapa jembatan vital seperti Wouma bisa gagal fungsi?
Negara Semangat Membangun, Tapi Siapa Menjaga?
Pemerintah terus mendorong pembangunan Papua dalam satu dekade terakhir. Jalan Trans Papua meluas. Bandara bertambah. Jembatan baru berdiri di banyak wilayah.
Namun pembangunan sering berhenti di seremoni.
Banyak akademisi kebijakan publik mengingatkan satu persoalan lama: pemerintah rajin membangun, tetapi sering lalai menjaga.
Papua menghadapi tantangan geografis ekstrem. Curah hujan tinggi, arus sungai deras, dan akses teknisi terbatas menuntut perawatan rutin yang lebih serius.
Masalahnya, proyek baru sering menang dalam urusan anggaran dan panggung politik. Sementara perawatan rutin jarang menarik perhatian.
Kementerian PUPR berkali-kali menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur. Tetapi di banyak daerah terpencil, warga masih menunggu tindakan nyata.
Ironisnya, negara sering hadir saat peresmian berlangsung. Setelah pita terpotong, perhatian ikut menghilang.
Ini bukan sekadar jembatan putus. Ini pola lama negara datang saat membangun, lalu pelan-pelan pergi saat warga membutuhkan perawatan infrastruktur.
Papua Masih Menanggung Ketimpangan Lama
Di Papua, satu infrastruktur rusak bisa melumpuhkan banyak hal sekaligus.
Saat akses putus, warga kesulitan menjual hasil kebun. Anak-anak terlambat sekolah. Pasien kehilangan jalur menuju fasilitas kesehatan.
Karena itu, kerusakan infrastruktur di Papua selalu membawa dampak lebih besar dibanding wilayah lain.
Sosiolog pembangunan menyebut kondisi ini sebagai infrastructure vulnerability. Ketika satu fasilitas terlalu vital, kegagalannya bisa memicu krisis sosial berlapis.
Di Wamena, efek itu terasa cepat.
Keluarga korban menunggu kepastian. Informasi simpang siur memperbesar emosi. Ketegangan meningkat. Konflik antarsuku pun pecah.
Kapolres mengakui tim gabungan terus mencari korban untuk menurunkan tensi masyarakat.
“Pencarian itu kami lakukan hingga delapan hari lamanya sebelum terjadinya perang antarsuku di Wamena,” katanya.
Kenapa Duka Cepat Berubah Jadi Konflik?
Papua memiliki ikatan komunal yang kuat. Saat satu keluarga kehilangan anggota, komunitas ikut merasakan luka.
Budayawan Papua sering menjelaskan bahwa masyarakat pegunungan menjunjung solidaritas tinggi. Karena itu, ketidakjelasan informasi mudah memantik kemarahan.
Apalagi ketika keluarga korban merasa negara bergerak terlalu lambat.
Pengamat konflik sosial menilai kecepatan komunikasi sama pentingnya dengan evakuasi korban. Jika pemerintah gagal memberi kepastian, rumor akan menguasai keadaan.
Dan di tengah duka, rumor hampir selalu bergerak lebih cepat daripada fakta.
Alarm yang Tidak Boleh Lagi Diabaikan
Jembatan Wouma memang runtuh. Tapi yang sebenarnya sedang runtuh ialah rasa percaya warga pada sistem yang seharusnya melindungi mereka.
Pembangunan tidak selesai ketika proyek berdiri. Pembangunan baru mulai ketika negara menjaga, memeriksa, dan memastikan warga tetap aman setiap hari.
Sebab di Papua, jembatan bukan sekadar penghubung dua sisi sungai. Jembatan menjaga ekonomi, pendidikan, hubungan keluarga, bahkan perdamaian sosial.
Pertanyaannya sekarang berapa banyak tragedi lagi yang harus terjadi sebelum negara berhenti sibuk membangun dan mulai serius merawat?
Papua Terlalu Sering Kehilangan Kepastian
Kadang yang runtuh bukan cuma infrastruktur. Kadang yang lebih dulu patah adalah keyakinan warga bahwa negara benar-benar hadir saat mereka membutuhkan. @teguh





