Hari Tari Sedunia 2026 kembali dirayakan meriah di seluruh dunia. Namun di balik panggung megah itu, satu pertanyaan tetap menggantung: siapa yang benar-benar hidup dari tari?
Tabooo.id: Global – Setiap 29 April, dunia memperingati Hari Tari Sedunia yang diprakarsai oleh International Theatre Institute (ITI) di bawah UNESCO. Momentum ini bukan sekadar seremoni, tapi juga upaya mengangkat nilai tari sebagai bahasa universal manusia.
Sementara itu, perayaan berlangsung masif. Di Indonesia, event seperti “Solo Menari 24 Jam” kembali menarik ribuan peserta. Di media sosial, tagar #WorldDanceDay2026 bahkan menjadi tren global.
Namun di titik ini, realita mulai terlihat berbeda.
Euforia Tidak Selalu Berbanding Lurus
Di atas panggung, tari terlihat indah. Di baliknya, banyak penari hidup tanpa kepastian.
Di Indonesia, kondisi ini bahkan lebih kompleks. Sebagian besar penari bekerja sebagai freelance, tanpa gaji tetap dan tanpa kontrak jelas.
Masalahnya sederhana: industri tumbuh, tapi pelakunya tertinggal.
Industri Besar, Pelaku Kecil
Artinya, penari sering bergantung pada proyek musiman. Hari ini tampil, besok belum tentu.
Ironisnya, praktik “dibayar exposure” masih sering terjadi. Penari diminta tampil gratis dengan iming-iming popularitas.
Padahal realitanya, popularitas tidak selalu jadi penghasilan.
Teknologi Membuka Panggung, Sekaligus Menggeser
Di era digital, tari semakin mudah viral. Platform seperti TikTok membuat gerakan bisa menjangkau jutaan orang dalam hitungan jam.
Namun ada konsekuensi.
Algoritma lebih memilih konten cepat dan sederhana. Sementara tari profesional yang kompleks justru sering terpinggirkan.
Bahkan, UNESCO memprediksi AI akan menekan pendapatan sektor kreatif hingga puluhan persen dalam beberapa tahun ke depan.
Negara Hadir, Tapi Belum Menyentuh Semua
Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah mulai bergerak.
Program seperti Dana Indonesiana hadir untuk mendukung pelaku seni. Namun masalahnya, akses masih terbatas.
Banyak penari individu kesulitan memenuhi syarat administratif.
Selain itu, perlindungan seperti BPJS juga belum menjangkau mayoritas penari freelance.
Bahkan, di sisi lain, laporan terbaru menunjukkan kebebasan berkesenian justru menghadapi tekanan.
Jadi pertanyaannya bukan ada atau tidaknya program. Tapi siapa yang benar-benar bisa merasakannya.
Ironisnya
Hari Tari Sedunia 2026 terlihat seperti kemenangan budaya.
Namun jika dilihat lebih dalam, ini menunjukkan pola lama, budaya dirayakan, tapi pelakunya tidak diprioritaskan.
Kamu mungkin menikmati tari sebagai hiburan. Tapi di balik itu, ada sistem kerja yang tidak stabil.
Artinya, jika kondisi ini terus berlanjut, yang hilang bukan cuma penari, tapi juga kualitas budaya itu sendiri.
Hari Tari Sedunia seharusnya bukan hanya soal panggung dan perayaan.
Pertanyaannya sekarang, apakah kita benar-benar menghargai tari… atau hanya menikmati hasilnya saja? @tabooo





