Semua orang pernah ngupil, tapi hampir semua orang juga pura-pura tidak pernah. Hal sederhana ini langsung berubah jadi “aib” saat ketahuan. Lalu muncul pertanyaan. Kenapa kita takut terlihat manusia.
Tabooo.id: Talk – Pernah gak sih kamu lagi santai sendirian lalu refleks mengupil. Awalnya terasa biasa saja. Namun, situasi langsung berubah saat ada orang lewat. Tangan turun. Ekspresi berubah. Kamu pura-pura tidak melakukan apa-apa.
Seolah-olah barusan kamu melakukan kesalahan besar. Padahal tidak. Justru di situlah letak ironinya. Bukan aktivitasnya yang membuat malu. Rasa itu muncul saat orang lain melihatnya.
Tubuh Itu Jujur, Kita yang Diajarin Malu
Secara biologis, mengupil adalah hal yang normal. Tubuh memang bekerja seperti itu. Hidung menyaring debu dan partikel asing. Setelah itu, tubuh membersihkannya secara alami.
Masalahnya bukan di tubuh. Masalahnya ada di cara kita diajarkan melihat tubuh. Sejak kecil, kita sering mendengar larangan. Jangan ngupil. Itu jorok. Itu tidak sopan.
Karena itu, kita belajar menahan diri. Namun bukan hanya berhenti. Kita juga mulai merasa malu. Pelan-pelan, kebiasaan berubah jadi stigma.
Dunia Menuntut Kita Terlihat Bersih
Di sisi lain, lingkungan sosial menuntut kesempurnaan. Semua harus terlihat rapi. Semua harus terlihat bersih. Bahkan, semua harus terlihat ideal.
Sementara itu, tubuh manusia tidak seperti itu. Tubuh berkeringat, menghasilkan kotoran dan tidak selalu indah.
Sayangnya, kita tidak diajarkan menerima itu. Sebaliknya, kita dilatih menutupinya. Akibatnya, kita hidup sebagai versi yang aman dilihat. Bukan sebagai diri yang sebenarnya.
Ironi Sosial yang Kita Anggap Normal
Sekarang coba pikirkan. Kita sering melakukan hal yang tidak sepenuhnya jujur, tersenyum saat tidak baik-baik saja, mengangguk saat tidak setuju dan menyembunyikan perasaan asli.
Semua itu dianggap wajar. Namun, saat seseorang ketahuan ngupil, reaksinya berbeda. Rasa malu muncul seketika.
Kenapa bisa begitu. Mengapa hal yang jujur secara biologis terasa lebih memalukan daripada kepura-puraan sosial.
Di titik ini terlihat ironi. Kita lebih takut terlihat jorok. Namun kita tidak terlalu takut terlihat tidak jujur.
Tabu Kecil, Dampaknya Besar
Sekilas, mengupil memang terlihat sepele. Namun dari sini, pola yang lebih besar terlihat. Kita terbiasa menyembunyikan banyak hal.
Mulai dari kebiasaan tubuh. Lalu emosi. Bahkan kelemahan diri. Semua itu dilakukan demi satu hal. Diterima.
Lama-lama, kebiasaan ini jadi otomatis. Kita bukan hanya menyembunyikan tindakan. Kita juga menyensor diri sendiri.
Ini Bukan Soal Ngupil
Jika dilihat lebih dalam, ini bukan soal ngupil. Ini tentang cara kita memandang diri sendiri. Kita diajarkan malu pada hal yang sebenarnya manusiawi.
Jika hal kecil saja harus disembunyikan, maka hal lain ikut ditekan. Misalnya rasa sedih. Atau kelelahan. Bahkan kegagalan.
Mengupil hanya contoh kecil. Namun maknanya jauh lebih besar.
Lalu Kamu di Posisi Mana
Sekarang pertanyaannya kembali ke kamu. Apakah ini soal sopan santun. Atau ini tekanan sosial.
Tidak ada jawaban mutlak. Namun selalu ada pilihan. Kamu bisa tetap jadi manusia. Atau jadi versi yang selalu terlihat rapi.@eko





