Minggu, Juni 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Perlindungan Anak Indonesia Gagal? Kasus Daycare Jogja Jadi Bukti

by Tabooo
April 27, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Negara bicara perlindungan anak Indonesia dengan undang-undang, pasal, dan janji yang terdengar kuat. Lalu bagaimana dengan kasus daycare di Yogyakarta? Realitanya justru membongkar satu hal, bahwa sistem yang seharusnya menjaga, malah gagal sejak awal.

Tabooo.id: Edge – Negara sebenarnya punya Undang-Undang. Bahkan, negara sudah melengkapi regulasi dengan UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Selain itu, undang-undang ini menetapkan pasal, larangan, hingga ancaman pidana secara jelas.

Namun, pada praktiknya, semua itu hanya aktif di atas kertas dan tidak benar-benar berjalan di lapangan.

Daycare Tumbuh Cepat, Negara Jalan Lambat

Kota berkembang. Biaya hidup naik. Suami-istri sama-sama bekerja. Daycare bukan lagi pilihan, tapi sudah menjadi kebutuhan.

Namun, negara tidak pernah benar-benar mengejar perubahan ini.

Akibatnya, permintaan naik drastis. Sementara itu, pengawasan tidak ikut meningkat. Bahkan, standar pun tidak diperketat. Sebaliknya, sistem hanya berharap semua berjalan baik.

Ini Belum Selesai

Reformasi TNI atau Kembalinya Dwifungsi dalam Wajah Baru?

Investor Sudah Datang, Tapi Mesin Negara Masih Pemanasan?

Padahal realitanya, banyak daycare berdiri tanpa izin resmi. Selain itu, pengelola tidak melakukan verifikasi ke Dinas Pendidikan. Di sisi lain, Dinas Perizinan juga tidak melakukan kontrol yang ketat.

Ironisnya, tempat ilegal ini mampu menampung lebih dari 100 anak. Hal ini bukan karena sistemnya canggih, melainkan karena tidak ada pihak yang benar-benar melakukan pengecekan.

Sistem Baru Bergerak Setelah Ada Korban

Kasus ini tidak ditemukan oleh negara. Tidak ada inspeksi rutin atau audit berkala. Apalagi sistem deteksi dini. Tidak ada.

Yang membongkar justru orang dalam. Seorang mantan karyawan. Bukan sistem. Artinya jelas, negara tidak melihat.

Atau lebih jujur lagi, negara tidak benar-benar mencari. Dan ini berbahaya.

Karena kalau sistem hanya mengandalkan laporan, maka semua kasus yang luput dari perhatian akan terus berjalan tanpa pernah tersentuh.

Efisiensi Jadi Alasan, Kekerasan Jadi Metode

Di dalam daycare itu, pengelola memasukkan sekitar 20 anak ke satu kamar kecil.

Ukuran ruang? Sekitar 3×3 meter.

Logikanya sederhana, tidak masuk akal.

Namun sistem membiarkan itu terjadi.

Rasio pengasuh tidak seimbang. Tidak ada standar yang dipaksa untuk ditaati.

Akhirnya, solusi yang muncul bukan peningkatan kualitas.

Tapi pengendalian.

Anak diikat. Gerak dibatasi. Tangis diabaikan.

Bukan karena semua pengasuh bertindak jahat. Namun, sistem justru menciptakan kondisi yang membuat kekerasan berubah menjadi “cara kerja”.

Undang-Undang Ada, Tapi Tidak Menyentuh Realita

Secara hukum, ini jelas pelanggaran.

Pasal 76C UU No. 35 Tahun 2014 menyatakan, tidak boleh ada kekerasan terhadap anak.

Pasal 80 bahkan mengatur sanksi pidana bagi pelaku.

Dan lebih keras lagi, jika pelaku adalah pengasuh atau pendidik, hukumannya diperberat.

Semua sudah tertulis jelas.

Namun pertanyaannya, kalau undang-undang sekuat itu, kenapa kasus seperti ini masih terjadi?

Jawabannya sederhana, penegakan tidak sekuat tulisannya.

Cerita Lama: Negara Hadir Saat Sudah Viral

Polanya tidak berubah.

Masalah terjadi diam-diam. Anak tidak bisa bicara. Orang tua tidak tahu. Lalu satu kasus meledak.

Video beredar. Publik marah.

Baru negara bergerak.

Mereka melakukan audit. Baru ada pendataan ulang. Dan janji evaluasi.

Terlambat. Selalu terlambat.

Sederhana Saja: Ini “Oknum”.

Kita sering menyederhanakan masalah. Menyebutnya “oknum”.

Padahal angka tidak berbohong. Lebih dari 50 anak jadi korban dalam satu tempat. Itu bukan satu kesalahan.

Melainkan, sebuah sistem kerja yang salah yang berlangsung lama tanpa terdeteksi. Dan sistem bisa berjalan seperti itu hanya karena satu hal, tidak ada pihak yang benar-benar mengawasi.

Bagaimana Kalau Kamu di Posisi Orang Tua Anak-Anak Itu?

Kalau kamu orang tua, kamu dipaksa bermain dalam sistem yang tidak transparan.

Kamu harus memilih daycare. Namun kamu tidak punya akses penuh untuk tahu apa yang terjadi di dalam.

Kamu hanya melihat tampilan luar. Brosur. Janji. Lokasi.

Padahal yang paling penting justru tidak terlihat.

Dan anak kamu? Belum bisa menjelaskan apa yang dia alami.

Tidak Viral, Tetap Berjalan

Negara sering bicara masa depan anak. Namun perlindungan paling dasar saja belum beres.

Dan selama sistem hanya aktif saat viral, satu hal pasti, yang tidak viral, tetap berjalan. @tabooo

Tags: Kasus DaycareKekerasan AnakKekerasan BalitaTabooo Edge

Kamu Melewatkan Ini

Gizi Rakyat vs Gizi Koruptor

Gizi Rakyat vs Gizi Koruptor

by Tabooo
Juni 6, 2026

MBG hadir untuk memberi makan anak-anak. Tapi ketika kasus korupsi muncul, publik mulai bertanya: siapa yang sebenarnya paling kenyang dari...

CSR = Cuan Setoran Rutin?

CSR = Cuan Setoran Rutin?

by Tabooo
Mei 11, 2026

CSR = Cuan Setoran Rutin? Ini terdengar nyelekit karena korupsi hari ini tidak selalu datang dengan amplop, tapi bisa memakai...

Drama Madiun Belum Tuntas: Giliran Bagus Panuntun Diperiksa KPK

Drama Madiun Belum Tuntas: Giliran Bagus Panuntun Diperiksa KPK

by Tabooo
Mei 11, 2026

Bagus Panuntun diperiksa KPK sebagai saksi dalam kasus dugaan pemerasan yang menyeret Wali Kota Madiun nonaktif, Maidi. Dari luar, ini...

Next Post
Tabula Rasa: Cinta, Identitas, dan Dunia Modern

Tabula Rasa: Cinta, Identitas, dan Dunia Modern

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id