Selasa, April 28, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Sistem Among Solusi atau Sekadar Romantisme Pendidikan Masa Lalu?

by dimas
April 26, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter
Di ruang-ruang kelas pada masa kolonial Belanda, pendidikan tidak sekadar menjadi sarana belajar, tetapi juga menjadi alat untuk membentuk cara berpikir yang tunduk pada kekuasaan. Di balik papan tulis dan kurikulum yang kaku, sistem pendidikan kolonial menekan jiwa dan mengikis nilai kebangsaan anak-anak pribumi.

Tabooo.id: Vibes – Di tengah situasi itu, Ki Hadjar Dewantara muncul membawa gagasan tandingan yang kemudian melahirkan Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Ia merancang Sistem Among sebagai perlawanan terhadap pola pendidikan kolonial yang membatasi kemerdekaan berpikir, dengan menawarkan pendekatan pendidikan yang berakar pada budaya dan kodrat bangsa sendiri.

Pada masa itu, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai instrumen kekuasaan. Sistem pendidikan kolonial membentuk struktur sosial yang menempatkan kepintaran sebagai alat seleksi, bukan sebagai sarana pembebasan. Di dalamnya, logika yang berkembang menuntut kepatuhan, bukan kemandirian.

Pendidikan kolonial Belanda tidak hanya mengajarkan membaca dan berhitung, tetapi juga membentuk pola pikir. Sistem tersebut menekankan intelektualisme, individualisme, dan materialisme. Anak-anak pribumi mengasah kemampuan berpikir, tetapi kehilangan ruang untuk membangun kesadaran diri dan kebebasan batin.

Di tengah kondisi tersebut, Ki Hadjar Dewantara bergerak dengan pendekatan berbeda. Ia tidak berhenti pada kritik terhadap sistem, tetapi membangun model pendidikan alternatif yang menempatkan kebudayaan bangsa sebagai dasar utama pembelajaran.

Sekolah Bukan Lagi Alat Kekuasaan

Ki Hadjar Dewantara memandang pendidikan sebagai ruang untuk membentuk manusia seutuhnya. Ia menempatkan pendidikan bukan sekadar sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi sebagai upaya membangun keseimbangan antara akal, rasa, dan tindakan.

Ini Belum Selesai

Asap Rokok Roro Mendut dan Aroma Kebebasan

Dunia Mengakui Sosrokartono, Mengapa Indonesia Hampir Melupakannya?

Ia memperkenalkan Sistem Among sebagai pendekatan pendidikan yang menolak paksaan, hukuman, dan kontrol berlebihan. Dalam sistem ini, pendidik tidak memperlakukan anak sebagai objek pembelajaran, tetapi sebagai individu yang tumbuh sesuai kodratnya.

Taman Siswa menjadi ruang nyata penerapan gagasan tersebut. Sejak berdiri pada 1922, lembaga ini mengubah relasi pendidikan menjadi hubungan yang lebih manusiawi antara pamong (guru) dan murid.

Guru tidak lagi berdiri sebagai pusat instruksi. Ia memilih posisi mendampingi dari belakang dengan prinsip Tutwuri Handayani.

Anak Tumbuh dengan Kodratnya Sendiri

Sistem Among bertumpu pada satu gagasan utama: setiap anak memiliki kodrat dan ritme perkembangan yang berbeda. Karena itu, pendidikan harus menyesuaikan diri dengan proses tumbuh anak, bukan memaksakan standar yang seragam.

Dalam pendekatan ini, guru berperan sebagai pamong yang menjaga arah perkembangan anak, bukan mengendalikan seluruh prosesnya. Ia membantu anak mengenali potensi dirinya dan mengarahkannya tanpa paksaan.

Pendekatan ini mengoreksi sistem pendidikan kolonial yang cenderung menyeragamkan peserta didik. Sistem Among membuka ruang bagi anak untuk bertanya, mencoba, dan belajar dari pengalaman secara langsung.

Kemerdekaan dalam konsep ini tidak hanya bermakna kebebasan politik, tetapi juga kebebasan berpikir, merasa, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari.

Sekolah sebagai Ruang Kekeluargaan

Ki Hadjar Dewantara juga menghapus batas kaku antara guru dan murid. Ia membangun relasi pendidikan sebagai hubungan kekeluargaan yang setara secara kemanusiaan.

Dalam ruang kelas seperti ini, guru dan murid tumbuh bersama. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar dari murid. Murid tidak hanya menerima ilmu, tetapi juga aktif membangun pengetahuan dari pengalaman hidupnya.

Dengan cara ini, sekolah tidak hanya menjadi institusi pendidikan, tetapi juga ruang sosial yang membentuk nilai, karakter, dan kebudayaan bersama.

Perlawanan Budaya melalui Pendidikan

Sistem Among tidak hanya berfungsi sebagai metode belajar, tetapi juga sebagai bentuk perlawanan budaya. Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa bangsa yang merdeka harus membangun sistem pendidikannya sendiri, bukan meniru sistem yang lahir dari penjajahan.

Ketika pendidikan kolonial menyeragamkan cara berpikir, Sistem Among justru merayakan keberagaman manusia. Ketika sistem lama menekankan kepatuhan, Sistem Among menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab.

Nilai-nilai seperti kesenian, sejarah kebangsaan, olahraga tradisional, dan budaya lokal menjadi bagian penting dalam proses pendidikan, bukan sekadar pelengkap.

Warisan yang Masih Diuji Zaman

Hingga saat ini, gagasan tersebut masih hidup dalam berbagai bentuk sistem pendidikan di Indonesia. Namun pertanyaan penting tetap muncul: apakah pendidikan hari ini benar-benar membebaskan cara berpikir, atau justru mengulang pola lama dalam bentuk yang lebih halus?

Sebab yang diperjuangkan Ki Hadjar Dewantara bukan hanya perubahan sistem sekolah, tetapi pembentukan manusia merdeka.

Dan sampai sekarang, pertanyaan itu masih relevan:

Apakah pendidikan kita sudah benar-benar membebaskan, atau masih diam-diam mengatur cara kita berpikir? @dimas

Tags: Budaya BangsaFilsafat PendidikanGenerasi MerdekaKi Hadjar DewantaraPendidikan IndonesiaPendidikan MerdekaRefleksi PendidikanSejarah pendidikanSekolah IndonesiaSistem AmongTaman SiswaWarisan Kolonial

Kamu Melewatkan Ini

Menengok Perjuangan Memberantas Buta Huruf: Saat Huruf Menjadi Gerbang Kemerdekaan

Menengok Perjuangan Memberantas Buta Huruf: Saat Huruf Menjadi Gerbang Kemerdekaan

by dimas
April 25, 2026

Di tengah perjalanan panjang Indonesia melawan buta huruf, program pemberantasan aksara tidak lagi berdiri sekadar sebagai agenda pendidikan nasional. Ia...

Sejarah Pendidikan Indonesia: Mengapa Dua Pelopor Guru Ini Nyaris Hilang dari Sejarah?

Selain Ki Hajar Dewantara, Mengapa Dua Pelopor Pendidikan Ini Justru Dilupakan?

by dimas
April 25, 2026

Banyak orang mengenal Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh besar pendidikan Indonesia. Negara menetapkan 2 Mei, hari kelahirannya, sebagai Hari Pendidikan Nasional, sementara...

Guru Honorer Tak Digaji Berbulan-bulan, Saat Birokrasi Lebih Cepat dari Keadilan?

Guru Honorer Tak Digaji Berbulan-bulan, Saat Birokrasi Lebih Cepat dari Keadilan?

by dimas
April 24, 2026

Ribuan guru honorer di Jawa Barat menghadapi kenyataan pahit: mereka tetap mengajar setiap hari, tetapi gaji yang menjadi sumber penghidupan...

Next Post
Ini Bukan Sekadar Insiden: Saat Pengamanan Paling Ketat Ikut Retak

Bukan Sekadar Insiden: Saat Pengamanan Paling Ketat Ikut Retak

Pilihan Tabooo

Dari Layar ke Realita: Film”Unseen, Unannounced” Bongkar Kejujuran yang Lama Disembunyikan

Dari Layar ke Realita: Screning Film “Unseen, Unannounced” Bongkar Kejujuran yang Lama Disembunyikan

April 22, 2026

Realita Hari Ini

Vote Buying Terancam Punah? KPK Dorong Larangan Uang Kartal di Pemilu

Vote Buying Terancam Punah? KPK Dorong Larangan Uang Kartal di Pemilu

April 27, 2026

47.000 Kejahatan, 468 Terdakwa: El Salvador Hajar MS-13

April 27, 2026

Prabowo Dikabarkan Rombak Kabinet Hari Ini, Siapa Kehilangan Kursi?

April 27, 2026

Kabinet Selalu Berubah: Prabowo Sedang Merapikan atau Mengacak Kekuasaan?

April 27, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id