Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Max Havelaar: Film Kolonial Dulu Ditakuti Penguasa, Kini Menampar Zaman Lagi

by teguh
Mei 8, 2026
in Culture, Film
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter
Foto promo lawas film Max Havelaar kembali beredar di media sosial. Sekilas hanya nostalgia sinema klasik. Namun poster tua itu memicu diskusi baru tentang kolonialisme, sensor, dan ketakutan penguasa terhadap cerita yang jujur.

Tabooo.id: Film – Saat Film produksi 1979 garapan Fons Rademakers ini bukan tontonan sejarah biasa. Ia mengadaptasi novel legendaris Max Havelaar karya Multatuli, mantan pejabat kolonial yang membongkar kebusukan sistem penjajahan Belanda di Hindia Timur. Ironisnya, karya yang menyerang kolonialisme justru lama sulit masuk ruang publik Indonesia.

Film Ini Bercerita Tentang Apa?

Cerita berpusat pada Max Havelaar, pejabat kolonial idealis yang datang ke Lebak, Banten, pada abad ke-19. Setibanya di sana, ia melihat rakyat hidup dalam tekanan. Pajak mencekik. Kerja paksa berjalan. Elite lokal bersekutu dengan penguasa kolonial. Havelaar menolak diam.

Ia melawan korupsi, pemerasan, dan penindasan. Namun sistem menyerangnya balik. Birokrasi kolonial lebih memilih stabilitas semu daripada keadilan nyata.

Film ini bicara tegas ancaman terbesar bukan hanya penjajah, tetapi mesin kekuasaan yang melindungi dirinya sendiri.

Kenapa Film Ini Masih Relevan di 2026?

Karena penindasan terus berganti kostum. Dulu orang menyebutnya kolonialisme. Hari ini orang mengenalnya sebagai oligarki, korupsi, penyalahgunaan jabatan, atau ketimpangan ekonomi. Dulu rakyat diperas lewat tanam paksa. Kini banyak warga merasa tertekan oleh biaya hidup, akses pendidikan mahal, dan sistem yang berat sebelah.

Ini Belum Selesai

Lirik Asli Genjer-Genjer: Lagu yang Dipaksa Memikul Dosa Politik

Film Jangan Buang Ibu: Kesepian di Balik Pengorbanan

Pengamat film Indonesia Hikmat Darmawan menilai film sejarah kuat akan hidup kembali ketika masyarakat merasakan kegelisahan serupa.

“Film besar tidak mati. Ia menunggu zaman yang tepat untuk dibaca ulang.” Dan Max Havelaar menemukan momennya hari ini.

Film yang Pernah Membuat Penguasa Tak Nyaman

Sutradara Fons Rademakers menegaskan film ini tidak merayakan kolonialisme.

“Ini bukan film tentang kejayaan kolonial. Ini film tentang penyalahgunaan kekuasaan.”

Kalimat itu singkat, tetapi tajam. Banyak rezim tidak takut pada masa lalu. Mereka takut ketika rakyat belajar dari masa lalu.

Sejarawan Ong Hok Ham menjelaskan bahwa kolonialisme bertahan bukan hanya karena tentara, tetapi juga karena elite lokal ikut menopang sistem. Perspektif itu terasa kuat dalam film ini. Rakyat menjadi korban kolaborasi kekuasaan.

Ketika Sinema Menjadi Buku Sejarah yang Bergerak

Kritikus film almarhum JB Kristanto menilai sinema memiliki daya jangkau emosional yang sulit disaingi buku teks.

“Film membuat sejarah terasa dekat, emosional, dan personal.”

Penonton mungkin lupa angka tahun. Namun mereka mengingat wajah lapar, tatapan takut, dan suara ketidakadilan.

Budayawan Goenawan Mohamad lama mengingatkan bahwa seni yang baik sering mengganggu kenyamanan publik karena memaksa orang menatap kenyataan.

Dan Max Havelaar melakukan itu sejak 1979.

Nilai yang Bisa Diambil

1. Integritas Selalu Mahal

Max Havelaar memilih melawan arus. Ia paham risikonya besar. Namun diam jauh lebih mahal.

2. Kekuasaan Harus Diawasi

Saat kontrol hilang, rakyat kecil menanggung luka pertama.

3. Sejarah Bukan Milik Satu Narasi

Jika hanya satu versi yang hidup, maka kebenaran akan mati perlahan.

Pesan untuk Hari Ini

Kita sering bangga karena kolonialisme sudah selesai. Namun pertanyaan pentingnya apakah mentalitas menindas ikut selesai?

Jika pejabat memakai jabatan untuk menekan, jika hukum tajam ke bawah, dan jika akses hanya milik lingkaran tertentu, maka penjajahan hanya berganti bahasa.

Max Havelaar bukan sekadar film klasik. Ia menjadi cermin tua yang masih memantulkan wajah zaman sekarang.

Mungkin itu sebabnya karya seperti ini selalu membuat penguasa gelisah. @teguh

Tags: BantenBirokrasiBudayawanEkonomi Indonesiaelite lokalFilmKlasikKolonialKorupsi di IndonesialebakLegendarisMedia SosialMultatuliNostalgiaNovelOligarkiPengamatsejarawanSutradara

Kamu Melewatkan Ini

Rupiah Rp15 Ribu: Target Berani atau Cara Halus Menenangkan Pasar?

Katanya Rupiah Mau ke Rp15.000, Kok Malah Nyasar ke Rp18.000?

by dimas
Juni 5, 2026

Pemerintah menargetkan rupiah kembali ke Rp15.000 per dolar AS. Namun pasar justru mendorongnya tembus Rp18.000. Salah strategi atau krisis kepercayaan?...

Ketika Negara Sibuk Memungut, Siapa yang Menjaga Dunia Usaha?

Ketika Negara Sibuk Memungut, Siapa yang Menjaga Dunia Usaha?

by dimas
Juni 3, 2026

Ketika Negara Sibuk Memungut, Siapa yang Menjaga Dunia Usaha? Revisi aturan pajak UMKM memunculkan pertanyaan: mengejar penerimaan negara atau menjaga...

Perahu Retak dan Bangsa yang Tak Pernah Benar-Benar Sembuh

Perahu Retak dan Bangsa yang Tak Pernah Benar-Benar Sembuh

by teguh
Juni 3, 2026

Tiga dekade setelah Franky Sahilatua dan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun melahirkan lagu Perahu Retak, bangsa ini kembali menghadapi...

Next Post
Pasar Gelap Konten Seksual Anak, Mengapa Sulit Dibongkar?

Pasar Gelap Konten Seksual Anak, Mengapa Sulit Dibongkar?

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id