Foto promo lawas film Max Havelaar kembali beredar di media sosial. Sekilas hanya nostalgia sinema klasik. Namun poster tua itu memicu diskusi baru tentang kolonialisme, sensor, dan ketakutan penguasa terhadap cerita yang jujur.
Tabooo.id: Film – Saat Film produksi 1979 garapan Fons Rademakers ini bukan tontonan sejarah biasa. Ia mengadaptasi novel legendaris Max Havelaar karya Multatuli, mantan pejabat kolonial yang membongkar kebusukan sistem penjajahan Belanda di Hindia Timur. Ironisnya, karya yang menyerang kolonialisme justru lama sulit masuk ruang publik Indonesia.
Film Ini Bercerita Tentang Apa?
Cerita berpusat pada Max Havelaar, pejabat kolonial idealis yang datang ke Lebak, Banten, pada abad ke-19. Setibanya di sana, ia melihat rakyat hidup dalam tekanan. Pajak mencekik. Kerja paksa berjalan. Elite lokal bersekutu dengan penguasa kolonial. Havelaar menolak diam.
Ia melawan korupsi, pemerasan, dan penindasan. Namun sistem menyerangnya balik. Birokrasi kolonial lebih memilih stabilitas semu daripada keadilan nyata.
Film ini bicara tegas ancaman terbesar bukan hanya penjajah, tetapi mesin kekuasaan yang melindungi dirinya sendiri.
Kenapa Film Ini Masih Relevan di 2026?
Karena penindasan terus berganti kostum. Dulu orang menyebutnya kolonialisme. Hari ini orang mengenalnya sebagai oligarki, korupsi, penyalahgunaan jabatan, atau ketimpangan ekonomi. Dulu rakyat diperas lewat tanam paksa. Kini banyak warga merasa tertekan oleh biaya hidup, akses pendidikan mahal, dan sistem yang berat sebelah.
Pengamat film Indonesia Hikmat Darmawan menilai film sejarah kuat akan hidup kembali ketika masyarakat merasakan kegelisahan serupa.
“Film besar tidak mati. Ia menunggu zaman yang tepat untuk dibaca ulang.” Dan Max Havelaar menemukan momennya hari ini.
Film yang Pernah Membuat Penguasa Tak Nyaman
Sutradara Fons Rademakers menegaskan film ini tidak merayakan kolonialisme.
“Ini bukan film tentang kejayaan kolonial. Ini film tentang penyalahgunaan kekuasaan.”
Kalimat itu singkat, tetapi tajam. Banyak rezim tidak takut pada masa lalu. Mereka takut ketika rakyat belajar dari masa lalu.
Sejarawan Ong Hok Ham menjelaskan bahwa kolonialisme bertahan bukan hanya karena tentara, tetapi juga karena elite lokal ikut menopang sistem. Perspektif itu terasa kuat dalam film ini. Rakyat menjadi korban kolaborasi kekuasaan.
Ketika Sinema Menjadi Buku Sejarah yang Bergerak
Kritikus film almarhum JB Kristanto menilai sinema memiliki daya jangkau emosional yang sulit disaingi buku teks.
“Film membuat sejarah terasa dekat, emosional, dan personal.”
Penonton mungkin lupa angka tahun. Namun mereka mengingat wajah lapar, tatapan takut, dan suara ketidakadilan.
Budayawan Goenawan Mohamad lama mengingatkan bahwa seni yang baik sering mengganggu kenyamanan publik karena memaksa orang menatap kenyataan.
Dan Max Havelaar melakukan itu sejak 1979.
Nilai yang Bisa Diambil
1. Integritas Selalu Mahal
Max Havelaar memilih melawan arus. Ia paham risikonya besar. Namun diam jauh lebih mahal.
2. Kekuasaan Harus Diawasi
Saat kontrol hilang, rakyat kecil menanggung luka pertama.
3. Sejarah Bukan Milik Satu Narasi
Jika hanya satu versi yang hidup, maka kebenaran akan mati perlahan.
Pesan untuk Hari Ini
Kita sering bangga karena kolonialisme sudah selesai. Namun pertanyaan pentingnya apakah mentalitas menindas ikut selesai?
Jika pejabat memakai jabatan untuk menekan, jika hukum tajam ke bawah, dan jika akses hanya milik lingkaran tertentu, maka penjajahan hanya berganti bahasa.
Max Havelaar bukan sekadar film klasik. Ia menjadi cermin tua yang masih memantulkan wajah zaman sekarang.
Mungkin itu sebabnya karya seperti ini selalu membuat penguasa gelisah. @teguh






