Senin, April 20, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Makar atau Kritik? Ketika Suara Intelektual Bertabrakan dengan Kekuasaan

April 20, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Di tengah gema kata “makar” yang makin nyaring, satu pertanyaan besar langsung muncul: ketika satu pernyataan intelektual masuk ke wilayah hukum pidana, seberapa aman ruang kebebasan berpendapat kita hari ini?

Tabooo.id: Deep – Frasa hukum pidana itu kembali mencuat. Kali ini, publik tidak melihat aksi nyata. Sebaliknya, publik merespons sepenggal pernyataan Profesor Saiful Mujani dalam forum halal bihalal.

Awalnya, forum itu terasa hangat. Para peserta berkumpul untuk menyambung silaturahmi yang sempat tertunda setelah Idul Fitri. Namun kemudian, suasana berubah. Sebuah pernyataan tentang kemungkinan konsolidasi gerakan untuk menjatuhkan Presiden Prabowo muncul di tengah diskusi.

Pernyataan itu berhenti sebagai wacana. Tidak berkembang. Tidak membentuk gerakan. Meski begitu, sebagian pihak langsung memberi respons keras dan bahkan mengaitkannya dengan makar.

Antara Kebebasan dan Kecurigaan

Pada dasarnya, manusia harus bicara. Dengan bicara, manusia menegaskan eksistensinya. Tanpa suara, manusia kehilangan ruang untuk hadir.

Namun demikian, kebebasan itu selalu memiliki batas.

BacaJuga

Makan Bergizi Gratis: Universal atau Selektif, Mana yang Lebih Adil?

Dari Akuarium ke Bencana Ekologi: Sapu-sapu Tak Lagi Bisa Dikendalikan?

Masalahnya, batas tersebut sering terasa kabur. Di satu sisi, konstitusi menjamin kebebasan berpendapat. Di sisi lain, sebagian pihak cepat mengaitkan gagasan tertentu dengan ancaman.

Akibatnya, muncul pertanyaan penting apakah negara sedang menjaga stabilitas, atau justru mempersempit ruang berpikir?

Karena itu, label “makar” terasa muncul terlalu cepat.

Di Tengah Agenda Besar Presiden

Di saat yang sama, konteks politik tidak bisa diabaikan. Presiden Prabowo tengah mendorong berbagai kebijakan strategis. Ia menekan ketimpangan ekonomi, menertibkan lahan ilegal, dan mengejar korupsi kelas kakap.

Selain itu, pemerintah menjalankan program makan bergizi gratis untuk membantu kelompok rentan. Langkah-langkah tersebut jelas mengguncang kepentingan lama.

Oleh karena itu, wacana tentang penggulingan presiden memang terasa sensitif. Namun demikian, rasa sensitif tidak otomatis berarti ancaman nyata.

Demokrasi Butuh Kritik

Sejak awal, demokrasi tidak tumbuh dari keheningan. Sebaliknya, demokrasi berkembang melalui kritik, perdebatan, dan pertukaran gagasan.

Misalnya, John Locke membuka ruang bagi rakyat untuk menentang kekuasaan yang menyimpang. Sementara itu, Thomas Hobbes menekankan pentingnya stabilitas melalui kekuasaan kuat.

Di Indonesia, kedua pendekatan itu bertemu. Kita mengakui kebebasan, tetapi tetap menegakkan hukum sebagai batas.

Namun jika negara terlalu cepat menarik batas tersebut, ruang diskusi akan menyempit. Akibatnya, kritik berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.

Ini Bukan Sekadar Pernyataan

Pada titik ini, persoalan tidak lagi sekadar satu ucapan.

Sebaliknya, persoalan ini menyangkut cara negara merespons suara publik.

Apakah setiap gagasan yang tidak nyaman harus dianggap ancaman? Atau justru harus diuji sebagai bagian dari dinamika demokrasi?

Jika semua kritik terus dianggap berbahaya, maka ruang publik akan berubah. Orang mulai menahan diri. Mereka berpikir dua kali sebelum berbicara.

Dampaknya untuk Publik

Saat ini, sorotan memang tertuju pada seorang intelektual. Namun ke depan, siapa saja bisa mengalami hal yang sama.

Ketika ruang bicara menyempit, masyarakat tidak serta-merta menjadi patuh. Sebaliknya, mereka memilih diam.

Padahal, diam bukan tanda setuju. Justru, diam sering lahir dari rasa takut.

Penutup

Memang, kebebasan berpendapat memiliki batas. Namun batas itu seharusnya melindungi, bukan menekan.

Pada akhirnya, demokrasi tidak hanya bergantung pada kekuatan negara. Sebaliknya, demokrasi bergantung pada keberanian warganya untuk bicara.

Jadi, apakah kita masih benar-benar bebas berbicara hari ini?

Kalau bicara mulai terasa berisiko, mungkin yang perlu diperbaiki bukan suaranya, tapi cara negara mendengarnya. @dimas

Tags: Analisis PolitikDemokrasi IndonesiaDemokrasi SehatDiskursusP ublikHak Sipilhukum pidanaIsu Nasionalkebebasan berpendapatKebebasan SipilKonstitusikritik sosialmakarNegara HukumOpini PublikPerspektif HukumPolitik NasionalprabowoRuang BicaraSuara Rakyat

REKOMENDASI TABOOO

[Polling] Perempuan Sudah Merdeka atau Cuma Terlihat Merdeka?

[Polling] Perempuan Sudah Merdeka atau Cuma Terlihat Merdeka?

by Tabooo
April 18, 2026

Tabooo.id: Polling – Kalau R.A. Kartini masih hidup hari ini, mungkin dia akan tersenyum melihat perempuan-perempuan sudah merdeka. Tapi… belum tentu...

Slank Naik Volume Kritik: Ini Masih Musik atau Sindiran Terbuka?

“PPN 12%”: Lagu Slank yang Menyentil Judi Online dan Legalitas yang Abu-abu

by eko
April 18, 2026

Tabooo.id: Musik - Slank merilis lagu baru berjudul “PPN 12%” pada 17 April 2026. Band ini langsung memantik perdebatan publik...

Pelaku Dihukum, Dalang Hilang: Ada Apa dengan Kasus Kekerasan Aparat?

Pelaku Dihukum, Dalang Hilang: Ada Apa dengan Kasus Kekerasan Aparat?

by dimas
April 18, 2026

Tabooo.id: Deep - Malam itu sunyi. Namun, rasa takut tidak pernah benar-benar pergi.Bagi sebagian orang, ancaman tidak datang dari gelap....

Next Post
Gerakan Buruh Indonesia: Dari Perlawanan ke Senyap yang Dipaksakan

Gerakan Buruh Indonesia: Dari Perlawanan ke Senyap yang Dipaksakan

Recommended

DPR Sepakat Gaji Guru Rp5 Juta per Bulan? Cek Faktanya!

DPR Sepakat Gaji Guru Rp5 Juta per Bulan? Cek Faktanya!

April 17, 2026
Tirto Bukan Nama Jalan, Tapi Alarm Demokrasi yang Masih Berbunyi

Tirto Bukan Nama Jalan, Tapi Alarm Demokrasi yang Masih Berbunyi

April 18, 2026

Popular

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

April 19, 2026

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

April 19, 2026

Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

April 19, 2026

AS dan Iran Kembali Berunding, Tapi Dunia Tak Yakin Perang Akan Berakhir

April 20, 2026

37% ODHIV Tak Terdeteksi: Krisis HIV Indonesia

April 20, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id