Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pisau di Bandara Langgur: Saat Politik Lokal Kehilangan Rem

by teguh
April 20, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Minggu siang, 19 April 2026, Bandara Karel Sadsuitubun di Langgur berubah mendadak dari ruang kedatangan menjadi ruang duka. Agrapinus Rumatora alias Nus Kei, Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara, tewas setelah dua pria menikamnya sesaat setelah ia turun dari penerbangan Jakarta. Ini bukan sekadar kriminal biasa. Ini alarm keras tentang rapuhnya relasi kuasa, konflik sosial, dan keamanan elite di daerah.

Tabooo.id: Deep – Menurut Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi, peristiwa itu terjadi di area pintu keluar bandara sekitar pukul 12.00 WIT, Minggu (19/04/2026). Saat korban berjalan menuju luar terminal, dua pria mendekat lalu menyerang dengan senjata tajam.

“Pelaku mendekati korban dan langsung melakukan penikaman menggunakan sebilah pisau. Setelah itu pelaku melarikan diri dari lokasi kejadian,” ujar Rositah.

Petugas medis membawa korban ke RSUD Karel Sadsuitubun. Namun, dokter tidak mampu menyelamatkan nyawanya. Sementara itu, video yang beredar menunjukkan kericuhan antar pemuda di area bandara. Karena itu, kematian satu tokoh langsung memantik bara sosial yang lebih luas.

Ketika Tokoh Politik Diserang di Ruang Publik

Ketua DPD Partai Golkar Maluku Umar Ali Lessy menilai serangan itu bukan hanya melukai keluarga korban, tetapi juga mengganggu stabilitas daerah.

“Kami mengutuk keras tindakan kekerasan dalam bentuk apapun,” katanya.

Ini Belum Selesai

Ketika Riset Jadi Tiket Liburan ke Denmark

Pembodohan Struktural: Ketika Kemiskinan Menjadi Modal Politik

Namun, pertanyaannya sederhana bagaimana seorang ketua partai tingkat kabupaten bisa tewas di ruang publik, di area vital, pada siang hari?

Pengamat politik lokal dari Universitas Pattimura, Dr. M. Latuconsina, pernah menilai dalam sejumlah forum bahwa politik daerah kepulauan sering bertumpu pada figur, jaringan keluarga, dan loyalitas kelompok. Karena itu, saat figur utama tumbang, guncangan tidak berhenti di kantor partai. Guncangan merembet ke masyarakat yang berdiri di belakangnya.

Nus Kei dan Peta Kekuatan Maluku Tenggara

Nama Nus Kei tidak berdiri di ruang kosong. Di Maluku Tenggara, nama keluarga, marga, jaringan adat, dan kedekatan sosial sering memiliki bobot politik lebih besar daripada baliho.

Sosiolog politik Universitas Indonesia, Prof. Dr. Thamrin Amal Tomagola, pernah menjelaskan bahwa di banyak wilayah timur Indonesia, politik lokal bergerak melalui ikatan identitas komunal yang kuat. Karena itu, ketika satu tokoh jatuh, sebagian masyarakat membaca peristiwa itu sebagai serangan terhadap kelompok, bukan sekadar individu.

Akibatnya, dampak kematian Nus Kei bisa melampaui meja partai. Ia bisa mengubah kalkulasi dukungan, memicu pembelahan baru, lalu menghidupkan kembali sentimen lama yang selama ini hanya diam di bawah permukaan.

Kekerasan Elite, Trauma Massa

Psikolog sosial dari Universitas Airlangga, Dr. Hamidah, pernah menjelaskan bahwa masyarakat sering meniru cara elite menyelesaikan konflik. Jika elite memakai kekerasan, publik menangkap pesan bahwa dialog tidak lagi cukup.

Bahasanya sederhana: ketika tokoh diserang, warga belajar bahwa siapa kuat dia menang.

Itu berbahaya. Sebab masyarakat yang sudah lelah oleh tekanan ekonomi dan ketegangan sosial sangat mudah tersulut. Karena itu, kericuhan di bandara setelah penikaman menjadi bukti awal bahwa kematian elite jarang berhenti pada satu korban.

Negara Harus Hadir, Bukan Sekadar Datang ke TKP

Sekjen Partai Golkar Sarmuji meminta kader menahan diri dan memberi kepercayaan kepada polisi.

“Kepada kader tetap waspada, tapi jangan terpancing situasi. Kita berikan kepercayaan kepada aparat kepolisian untuk mengusut tuntas peristiwa tersebut,” ujarnya, Minggu (19/04/2026).

Pernyataan itu penting. Namun, yang jauh lebih penting ialah kerja cepat dan transparan aparat. Siapa pelaku? Apa motifnya? Apakah ini dendam pribadi, konflik politik, atau pertarungan jaringan ekonomi?

Praktisi hukum pidana, Prof. Edward Omar Sharif Hiariej, berulang kali menegaskan dalam banyak forum bahwa kepastian hukum lahir dari penyidikan cepat, terbuka, dan berbasis alat bukti. Jika negara bergerak lambat, rumor akan menggantikan fakta.

Padahal, rumor di daerah yang tegang sering lebih berbahaya daripada pisau.

Ini Bukan Sekadar Pembunuhan

Kematian Nus Kei membuka pertanyaan yang lebih besar mengapa politik lokal masih begitu dekat dengan ancaman fisik?

Jika tokoh partai bisa tumbang di bandara, maka yang terluka bukan hanya satu nyawa. Kepercayaan publik ikut retak, rasa aman ikut goyah, dan keyakinan bahwa demokrasi bisa berjalan damai ikut melemah.

Bandara seharusnya menjadi tempat orang datang dan pulang. Namun, hari itu bandara berubah menjadi panggung pesan kekerasan.

Lalu sekarang, siapa yang berani menjamin rem politik lokal masih berfungsi?. @teguh

Tags: bandaraGolkarketuaKriminalPengamat PolitikRSUD Karel SadsuitubunSosial & Publik

Kamu Melewatkan Ini

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

by jeje
Mei 24, 2026

Lucu, ya. Kita hidup di zaman ketika semua orang tampak marah. Timeline penuh kritik. Warung kopi berubah jadi ruang debat...

Socrates Tidak Mati, Kita yang Berhenti Bertanya

Filsafat Socrates: Mengapa Berpikir Kritis Semakin Langka di Era Digital

by jeje
Mei 22, 2026

Ada sesuatu yang terasa janggal di zaman ini. Informasi datang tanpa henti. Namun, manusia justru semakin sulit membedakan mana pengetahuan...

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

by jeje
Mei 20, 2026

Buruh diminta jangan terlalu banyak menuntut. Pengusaha jangan diperas. Itulah pesan blak-blakan Presiden Prabowo Subianto saat berbicara di Rapat Paripurna...

Next Post
AI Naikkan PDB? Indonesia Sedang Belajar Mengubah Data Jadi Mesin Uang

AI Naikkan PDB? Indonesia Sedang Belajar Mengubah Data Jadi Mesin Uang

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id