Rabu, Juli 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Akademi Bola atau Sekolah Emosi? EPA U-20 Bukan Cari Masa Depan

by teguh
April 20, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Sepak bola usia muda mestinya melahirkan bintang baru. Namun di Stadion Citarum, Minggu, 19 April 2026, yang lahir justru tontonan ricuh. Bhayangkara U-20 kalah 1-2 dari Dewa United U-20, tetapi skor langsung kalah viral oleh aksi tendangan kungfu dan kerumunan panas. Pertanyaannya tajam ini akademi bola atau kelas manajemen amarah yang gagal total?

Tabooo.id: Edge – Dewa United U-20 menang lewat gol Abu Thalib dan Kelvin Ananda Hairulis. Bhayangkara U-20 membalas melalui Aqilah Lissunah.

Namun setelah laga selesai, nalar ikut bubar. Video di media sosial memperlihatkan pemain dari kedua tim saling bentrok. Selain itu, seorang sosok tanpa seragam ikut masuk ke tengah kerumunan lalu memukul.

Cuplikan lain menambah ironi. Pemain cadangan Dewa United yang memakai rompi menerima tendangan kungfu dari pemain Bhayangkara yang juga memakai rompi.

Netizen kemudian menyebut sosok itu sebagai Fadly Alberto, pemain yang masuk lingkar Timnas Indonesia U-20. Kalau benar, ini bukan kabar kecil. Ini alarm besar.

Nova Arianto: Ada Konsekuensi

Pelatih Timnas Indonesia U-20, Nova Arianto, langsung memberi respons pada Minggu, 19/04/2026.

Ini Belum Selesai

Papua Terus Berdarah: Saat Dialog Kalah oleh Senjata

AI Makin Pintar, Mengapa Manusia Justru Berhenti Berpikir?

“Melihat yang terjadi di Pertandingan EPA U20 pastinya menjadi kejadian yang sangat disayangkan dan pastinya apapun situasi dan alasannya kejadian itu bukan menjadi contoh yang baik untuk dicontoh pemain lainnya.”

Nova juga menegaskan tim pelatih sedang menelusuri akar masalah. Jika pemain timnas muda ikut terlibat, hukuman menanti.

“Saat ini kami sedang mencoba mencari tahu apa yang menyebabkan kejadian itu bisa terjadi dan seandainya benar ada pemain Timnas Usia Muda yang terlibat pastinya ada konsekuensi yang akan diberikan.”

Di akhir pernyataannya, Nova memberi pesan sederhana:

“Selalu respect dengan apapun yang berada di lapangan dan semoga menjadi pembelajaran bersama agar kejadian tersebut tidak terjadi kembali.”

Bahasanya halus. Pesannya keras.

Akademi Cetak Talenta, Tapi Lupa Cetak Kendali Diri

Banyak klub bangga saat pemain mudanya dipanggil timnas. Foto dipasang. Poster dibuat. Sorak media sosial dinyalakan.

Sayangnya, jarang ada yang merayakan ketika pemain muda mampu menahan emosi saat diprovokasi.

Mendiang pemilik Leicester City, Vichai Srivaddhanaprabha, pernah berkata pada 10/05/2016:

“Football is not only about winning. It is about values.”

Kalimat itu menusuk. Hari ini banyak tempat melatih sprint, passing, dan pressing, tetapi lupa melatih respek.

Pengamat Sudah Lama Mengingatkan

Pengamat sepak bola Indonesia Kesit Budi Handoyo dalam diskusi olahraga, 14/07/2024, menilai pembinaan muda di Indonesia sering terlalu mengejar hasil instan.

Artinya jelas. Banyak pihak sibuk mengejar trofi kelompok umur, tetapi sedikit yang membangun karakter jangka panjang.

Jika target cuma menang hari ini, jangan kaget kalau pemain kalah dewasa besok.

Psikolog: Anak Muda Penuh Ambisi, Butuh Arah

Psikolog olahraga Dr. Jarred Cooney Horvath pada seminar performa atlet, 18/08/2022, menjelaskan bahwa atlet muda mudah bereaksi impulsif saat tekanan meningkat.

Sebagian ingin diakui. Ada yang ingin menang. Lainnya ingin terlihat hebat. Tanpa kontrol emosi, ambisi mudah berubah menjadi ledakan.

Jadi, jangan cuma tanya siapa yang menendang. Tanyakan juga siapa yang gagal membimbing.

Mantan Timnas Sudah Kasih Kunci

Legenda Timnas Indonesia Bambang Pamungkas pernah berkata pada 09/122021:

“Pemain besar bukan hanya yang hebat di lapangan, tapi yang dihormati di luar lapangan.”

Masalahnya, era sekarang sering membingungkan pemain muda. Viral terasa lebih cepat daripada bermartabat.

Padahal nama besar tanpa sikap baik hanya ramai sebentar.

Sosiolog: Kekerasan Sering Ditiru, Bukan Datang Tiba-Tiba

Sosiolog olahraga Eric Dunning menjelaskan bahwa kekerasan di lapangan sering tumbuh dari budaya kompetisi yang memuja dominasi.

Saat pemain muda terus melihat intimidasi sebagai simbol mental juara, mereka akan meniru pola itu.

Akhirnya, banyak yang belajar satu hal berbahaya lawan harus dipermalukan, bukan dihormati.

Ini Bukan Insiden, Ini Sistem yang Bocor

Keributan EPA U-20 bukan sekadar emosi sesaat. Ini gejala pembinaan yang timpang.

Kita punya lapangan. Ada pelatih. Turnamen juga tersedia. Fasilitas perlahan bertambah. Namun apakah sistem benar-benar membentuk manusia?

Bila akademi hanya mengejar kaki cepat dan badan kuat, hasilnya jelas pemain tumbuh, kedewasaan tertinggal.

Penutup

Sepak bola muda seharusnya menjadi pabrik masa depan. Namun kalau yang keluar justru keributan, ada yang salah sejak ruang produksi.

Mencetak pemain berbakat memang sulit. Tetapi melahirkan pemain berbakat yang tahu cara menghormati lawan jauh lebih langka.

Lalu sekarang pertanyaannya kita sedang membina atlet, atau sedang memelihara ego?. @teguh

Tags: Bhayangkara U-20Dewa United U-20EmosiInsidenKonsekuensiLegendaMasa DepanPelatihPemainPengamatPsikologSekolahSistemSosiologTimnas

Kamu Melewatkan Ini

Inheritance Transfer: Pesawat Kertas, Nilai, dan Masa Depan

Inheritance Transfer: Pesawat Kertas, Nilai, dan Masa Depan

by dimas
Juli 3, 2026

Inheritance Transfer mengajak kita memilih nilai yang layak diwariskan dan menghentikan luka sebelum menjadi tradisi antargenerasi. Tabooo.id - Banyak orang...

Inheritance Consequence: Satu Tetes Lebih Kuat dari Ledakan

Inheritance Consequence: Satu Tetes Lebih Kuat dari Ledakan

by dimas
Juli 3, 2026

Tabooo Merch Inheritance Consequence mengajak memahami bagaimana satu tindakan kecil dapat menciptakan konsekuensi yang melampaui generasi. Tabooo.id - Alam tidak...

Rp352 Ribu, Ujian Anak, dan Seorang Ayah yang Terpaksa Mencuri

Rp352 Ribu, Ujian Anak, dan Seorang Ayah yang Terpaksa Mencuri

by teguh
Juni 15, 2026

Seorang ayah Langkahnya pelan ketika memasuki halaman rumah pemilik toko. Di sampingnya berdiri dua anak laki-laki yang terus menunduk. Tak...

Next Post
Bandara Jadi Arena Tikam, Politik Masih Pakai Otot?

Bandara Jadi Arena Tikam, Politik Masih Pakai Otot?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id