Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Akademi Bola atau Sekolah Emosi? EPA U-20 Bukan Cari Masa Depan

by teguh
April 20, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Sepak bola usia muda mestinya melahirkan bintang baru. Namun di Stadion Citarum, Minggu, 19 April 2026, yang lahir justru tontonan ricuh. Bhayangkara U-20 kalah 1-2 dari Dewa United U-20, tetapi skor langsung kalah viral oleh aksi tendangan kungfu dan kerumunan panas. Pertanyaannya tajam ini akademi bola atau kelas manajemen amarah yang gagal total?

Tabooo.id: Edge – Dewa United U-20 menang lewat gol Abu Thalib dan Kelvin Ananda Hairulis. Bhayangkara U-20 membalas melalui Aqilah Lissunah.

Namun setelah laga selesai, nalar ikut bubar. Video di media sosial memperlihatkan pemain dari kedua tim saling bentrok. Selain itu, seorang sosok tanpa seragam ikut masuk ke tengah kerumunan lalu memukul.

Cuplikan lain menambah ironi. Pemain cadangan Dewa United yang memakai rompi menerima tendangan kungfu dari pemain Bhayangkara yang juga memakai rompi.

Netizen kemudian menyebut sosok itu sebagai Fadly Alberto, pemain yang masuk lingkar Timnas Indonesia U-20. Kalau benar, ini bukan kabar kecil. Ini alarm besar.

Nova Arianto: Ada Konsekuensi

Pelatih Timnas Indonesia U-20, Nova Arianto, langsung memberi respons pada Minggu, 19/04/2026.

Ini Belum Selesai

Mahasiswa Bosan Politik Kampus, Solusinya: Hapus Pemilu

Gizi Rakyat vs Gizi Koruptor

“Melihat yang terjadi di Pertandingan EPA U20 pastinya menjadi kejadian yang sangat disayangkan dan pastinya apapun situasi dan alasannya kejadian itu bukan menjadi contoh yang baik untuk dicontoh pemain lainnya.”

Nova juga menegaskan tim pelatih sedang menelusuri akar masalah. Jika pemain timnas muda ikut terlibat, hukuman menanti.

“Saat ini kami sedang mencoba mencari tahu apa yang menyebabkan kejadian itu bisa terjadi dan seandainya benar ada pemain Timnas Usia Muda yang terlibat pastinya ada konsekuensi yang akan diberikan.”

Di akhir pernyataannya, Nova memberi pesan sederhana:

“Selalu respect dengan apapun yang berada di lapangan dan semoga menjadi pembelajaran bersama agar kejadian tersebut tidak terjadi kembali.”

Bahasanya halus. Pesannya keras.

Akademi Cetak Talenta, Tapi Lupa Cetak Kendali Diri

Banyak klub bangga saat pemain mudanya dipanggil timnas. Foto dipasang. Poster dibuat. Sorak media sosial dinyalakan.

Sayangnya, jarang ada yang merayakan ketika pemain muda mampu menahan emosi saat diprovokasi.

Mendiang pemilik Leicester City, Vichai Srivaddhanaprabha, pernah berkata pada 10/05/2016:

“Football is not only about winning. It is about values.”

Kalimat itu menusuk. Hari ini banyak tempat melatih sprint, passing, dan pressing, tetapi lupa melatih respek.

Pengamat Sudah Lama Mengingatkan

Pengamat sepak bola Indonesia Kesit Budi Handoyo dalam diskusi olahraga, 14/07/2024, menilai pembinaan muda di Indonesia sering terlalu mengejar hasil instan.

Artinya jelas. Banyak pihak sibuk mengejar trofi kelompok umur, tetapi sedikit yang membangun karakter jangka panjang.

Jika target cuma menang hari ini, jangan kaget kalau pemain kalah dewasa besok.

Psikolog: Anak Muda Penuh Ambisi, Butuh Arah

Psikolog olahraga Dr. Jarred Cooney Horvath pada seminar performa atlet, 18/08/2022, menjelaskan bahwa atlet muda mudah bereaksi impulsif saat tekanan meningkat.

Sebagian ingin diakui. Ada yang ingin menang. Lainnya ingin terlihat hebat. Tanpa kontrol emosi, ambisi mudah berubah menjadi ledakan.

Jadi, jangan cuma tanya siapa yang menendang. Tanyakan juga siapa yang gagal membimbing.

Mantan Timnas Sudah Kasih Kunci

Legenda Timnas Indonesia Bambang Pamungkas pernah berkata pada 09/122021:

“Pemain besar bukan hanya yang hebat di lapangan, tapi yang dihormati di luar lapangan.”

Masalahnya, era sekarang sering membingungkan pemain muda. Viral terasa lebih cepat daripada bermartabat.

Padahal nama besar tanpa sikap baik hanya ramai sebentar.

Sosiolog: Kekerasan Sering Ditiru, Bukan Datang Tiba-Tiba

Sosiolog olahraga Eric Dunning menjelaskan bahwa kekerasan di lapangan sering tumbuh dari budaya kompetisi yang memuja dominasi.

Saat pemain muda terus melihat intimidasi sebagai simbol mental juara, mereka akan meniru pola itu.

Akhirnya, banyak yang belajar satu hal berbahaya lawan harus dipermalukan, bukan dihormati.

Ini Bukan Insiden, Ini Sistem yang Bocor

Keributan EPA U-20 bukan sekadar emosi sesaat. Ini gejala pembinaan yang timpang.

Kita punya lapangan. Ada pelatih. Turnamen juga tersedia. Fasilitas perlahan bertambah. Namun apakah sistem benar-benar membentuk manusia?

Bila akademi hanya mengejar kaki cepat dan badan kuat, hasilnya jelas pemain tumbuh, kedewasaan tertinggal.

Penutup

Sepak bola muda seharusnya menjadi pabrik masa depan. Namun kalau yang keluar justru keributan, ada yang salah sejak ruang produksi.

Mencetak pemain berbakat memang sulit. Tetapi melahirkan pemain berbakat yang tahu cara menghormati lawan jauh lebih langka.

Lalu sekarang pertanyaannya kita sedang membina atlet, atau sedang memelihara ego?. @teguh

Tags: Bhayangkara U-20Dewa United U-20EmosiInsidenKonsekuensiLegendaMasa DepanPelatihPemainPengamatPsikologSekolahSistemSosiologTimnas

Kamu Melewatkan Ini

Sekolah atau Pabrik Pekerja? Mengajari Taat, Melupakan Berpikir

Sekolah atau Pabrik Pekerja? Mengajari Taat, Melupakan Berpikir

by dimas
Juni 3, 2026

Sekolah atau pabrik pekerja? Mengupas bagaimana pendidikan modern lebih menekankan kepatuhan daripada kemampuan berpikir kritis di tengah perubahan dunia kerja....

Revanno dan Ruang Toleransi: Saat Sekolah Agama Tak Lagi Eksklusif

Revanno dan Ruang Toleransi: Saat Sekolah Agama Tak Lagi Eksklusif

by teguh
Mei 18, 2026

Di sebuah sekolah berbasis Islam di Kota Pekalongan, seorang remaja keturunan Tionghoa beragama Katolik justru menemukan ruang yang membuatnya bertumbuh....

Zonasi Pendidikan: Pemerataan atau Pembatasan Mimpi?

Zonasi Pendidikan: Pemerataan atau Pembatasan Mimpi?

by teguh
Mei 17, 2026

Musim penerimaan peserta didik baru melalui sistem zonasi pendidikan selalu membawa dua hal ke ruang keluarga Indonesia harapan dan kecemasan....

Next Post
Bandara Jadi Arena Tikam, Politik Masih Pakai Otot?

Bandara Jadi Arena Tikam, Politik Masih Pakai Otot?

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id