Kepribadian manusia sering terasa mudah ditebak. Anak sulung dianggap paling bertanggung jawab, anak tengah terlihat mandiri, dan si bungsu sering dinilai santai. Label ini terasa akrab. Bahkan, banyak orang merasa itu benar.
Namun, di balik keyakinan tersebut, muncul satu pertanyaan penting: benarkah urutan lahir menentukan siapa kita?
Tabooo.id: Edge – Selama ini, banyak orang memakai urutan lahir sebagai cara cepat membaca karakter. Selain itu, label ini hidup dalam obrolan keluarga, meme internet, hingga cara kita menilai diri sendiri.
Akan tetapi, di balik semua itu, ada satu kemungkinan yang jarang dibahas: bagaimana jika label ini hanya cerita yang terus kita ulang?
Sains Mulai Menggoyang Keyakinan
Psikolog Amy Todey menegaskan bahwa sains belum menemukan bukti kuat tentang pengaruh urutan lahir terhadap kepribadian.
Ia mengatakan, “Tidak ada data yang meyakinkan bahwa urutan lahir memiliki dampak nyata.” ujarnya.
Selain itu, psikolog Susan Newman menilai label anak sulung, tengah, dan bungsu sering tidak relevan saat seseorang dilihat secara utuh.
Artinya, manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar nomor dalam keluarga.
Dari Teori Lama ke Realitas Baru
Pada awalnya, Alfred Adler memperkenalkan teori urutan lahir pada awal 1900-an. Ia ingin membantu manusia memahami posisi dalam keluarga.
Kemudian, Murray Bowen mengembangkan pendekatan sistem keluarga untuk melihat pola hubungan antargenerasi.
Namun sekarang, konteks keluarga sudah berubah. Pola hidup menjadi lebih dinamis. Karena itu, pendekatan lama tidak lagi cukup menjelaskan realitas hari ini.
Faktor yang Lebih Menentukan
Sebaliknya, para ahli menemukan bahwa banyak faktor lain lebih berpengaruh terhadap kepribadian, seperti:
- Pola asuh orangtua
- Kondisi ekonomi keluarga
- Interaksi antar saudara
- Lingkungan sosial dan budaya
- Faktor genetik
Andrew Kami, profesor psikologi klinis, menjelaskan bahwa kepribadian terbentuk dari interaksi berbagai faktor.
Dengan kata lain, jika seorang anak terlihat dominan, lingkungan mungkin memperkuat perilaku tersebut.
Peran Anak Bisa Berubah
Di sisi lain, kehidupan tidak pernah statis. Situasi keluarga bisa berubah kapan saja.
Misalnya, perceraian orangtua atau tekanan ekonomi dapat mengubah peran anak dalam keluarga. Anak bungsu bisa menjadi lebih dewasa. Sebaliknya, anak sulung bisa kehilangan peran dominannya.
Karena itu, Todey menegaskan bahwa peran dalam keluarga bersifat fleksibel.
Media Sosial Memperkuat Stereotip
Sementara itu, media sosial justru memperkuat stereotip ini. Meme dan konten viral terus mengulang narasi yang sama.
Akibatnya, banyak orang menerima label tersebut tanpa mempertanyakannya.
Padahal, pengulangan bukan berarti kebenaran. Justru, itu menunjukkan bagaimana sebuah ide bisa terus hidup karena sering diulang.
Karakter Terus Berkembang
Terakhir, Newman menekankan bahwa kepribadian manusia terus berubah.
“Sesuatu bisa terjadi, lalu anak bungsu mengambil alih kendali,” ujarnya.
Oleh karena itu, usia, pengalaman hidup, dan hubungan sosial akan terus membentuk karakter seseorang.
Kamu mungkin lahir sesuai urutan, tapi hidup tidak pernah mengikuti urutan itu. @dimas






